5 Kebiasaan Sia-Sia yang Merusak Keuanganmu

Kebiasaan Hemat yang Justru Menguras Keuangan

JAKARTA – Hidup hemat sering dianggap sebagai kunci keberhasilan finansial. Namun, beberapa kebiasaan yang terlihat cerdas justru bisa berdampak negatif pada keuangan. Terkadang, upaya untuk menghemat uang justru membuat uang terbuang tanpa disadari. Berikut ini adalah lima kebiasaan yang sebaiknya dihindari.

1. Berkeliling ke Banyak Toko demi Diskon Kecil

Mencari harga terbaik dengan membandingkan beberapa toko atau mengisi bensin di SPBU murah memang tampak bijak. Namun, biaya perjalanan dan waktu yang dikeluarkan sering kali lebih besar dari potongan yang didapat. Misalnya, dua jam waktu dan Rp 50.000 untuk bensin habis hanya demi potongan Rp 40.000. Hasilnya, bukan hemat, tapi rugi.

Untuk lebih efisien, buat batas waktu: jangan habiskan lebih dari 15 menit untuk menghemat Rp 100.000. Pilih satu toko utama untuk belanja mingguan agar waktu dan tenaga tidak terbuang.

2. Terlalu Sibuk Mengejar Kupon dan Barang Gratis

Barang gratis selalu menggoda. Namun, membeli sesuatu hanya karena diskonnya besar tetap saja pemborosan. Banyak orang terjebak dalam euforia kupon hingga menimbun barang yang tidak dibutuhkan.

Bukan hanya uang, waktu dan ruang di rumah pun ikut terbuang. Beberapa orang bahkan bisa menghabiskan hingga 20 jam per minggu hanya untuk mencari dan memakai kupon, padahal waktu sebanyak itu bisa digunakan untuk hal yang lebih produktif.

3. Menunda Perawatan demi “Menghemat” Sekarang

Menunda servis kendaraan, mengganti oli, atau memperbaiki atap rumah sering dianggap langkah menghemat. Padahal, menunda justru bisa memicu biaya lebih besar di kemudian hari.

Kerusakan kecil di atap, misalnya, dapat berubah menjadi kebocoran besar yang merusak plafon. Ahli keuangan menyarankan agar 2–6 persen pendapatan disisihkan untuk perawatan rutin. Anggap saja sebagai asuransi agar keuangan tidak terguncang oleh biaya besar mendadak.

4. Terlalu Percaya Diri Mengerjakan Semua Sendiri

Video tutorial di internet kerap membuat pekerjaan rumah atau perbaikan kendaraan terlihat mudah. Karena ingin berhemat, banyak orang mencoba memperbaiki sendiri berbagai hal. Namun, tanpa keahlian yang memadai, hasilnya bisa berantakan dan menambah biaya perbaikan.

Mengganti oli sendiri mungkin menghemat sedikit, tapi juga memakan waktu, mengotori pakaian, bahkan berisiko jika salah langkah. Lakukan DIY (do it yourself) hanya jika memahami betul caranya dan risikonya kecil. Untuk pekerjaan rumit, memanggil profesional justru lebih efisien dan aman.

5. Menahan Semua Kesenangan Kecil

Banyak orang mengira kesuksesan finansial datang dari menekan semua pengeluaran kecil seperti tidak ngopi, tidak jajan, atau tidak hiburan. Sekilas terdengar disiplin, tapi dalam jangka panjang bisa jadi bumerang. Menahan diri terlalu keras membuat hidup terasa monoton.

Akibatnya, banyak yang akhirnya melampiaskannya dengan belanja besar-besaran yang justru menghapus hasil penghematan. Pakar keuangan menyarankan keseimbangan: hemat pada hal besar, fleksibel pada hal kecil. Fokuslah pada keputusan finansial besar seperti tempat tinggal, transportasi, dan investasi agar keuangan tetap sehat tanpa kehilangan kebahagiaan kecil.

Kesimpulan

Hidup hemat bukan berarti memangkas segalanya. Kuncinya adalah memahami mana pengeluaran yang benar-benar bernilai. Daripada menghabiskan tenaga untuk mengejar diskon kecil, lebih baik fokus pada keputusan finansial besar yang berdampak nyata. Dengan begitu, setiap rupiah yang disimpan atau dibelanjakan akan memberi manfaat sesungguhnya.