Bawah Tanah Lawang Sewu Terjaga Ratusan Tahun, Apa Rahasianya?

Kehebatan Teknologi Konstruksi Lawang Sewu Tanpa Cakar Ayam

SEMARANG – Bangunan bersejarah yang terletak di Kota Semarang, Lawang Sewu, kini menjadi sorotan karena kekokohannya yang bertahan ratusan tahun meskipun dibangun tanpa menggunakan cakar ayam.

Hal ini memicu perdebatan mengenai tingkat kemajuan teknologi konstruksi pada masa lalu. Maka dari itu, banyak orang penasaran bagaimana bangunan tersebut bisa tetap kokoh hingga saat ini.

Ahli konstruksi yang pernah menjabat sebagai Ketua Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI), Davy Sukamta, menjelaskan bahwa salah satu faktor utama yang membuat Lawang Sewu tetap kokoh adalah adanya ruang bawah tanah atau basement. Menurutnya, struktur basement memiliki peran penting dalam mendukung kekuatan bangunan.

Davy menjelaskan bahwa ketika proses penggalian dilakukan, tanah yang digali memiliki beban yang setara dengan kedalaman galian. Setelah itu, beban yang sama juga diterapkan untuk membangun gedung bertingkat di atasnya.

“Tanah yang digali memiliki berat jenis sekitar 1,6-1,8 ton per meter kubik. Satu meter kedalaman galian kira-kira setara dengan bobot satu lantai bangunan zaman Belanda,” ujarnya.

Jika tanah digali sedalam sekitar 3,5 meter, dan di atasnya dibangun gedung tiga lantai, maka berat gedung yang berdiri hampir sama dengan berat tanah yang sebelumnya diambil. Dengan begitu, tanah di dasar basement tidak mengalami kenaikan beban secara signifikan.

“Tanah mempunyai daya dukung tertentu, tergantung jenis butiran dan konsistensi kepadatan. Kalau daya dukung terlampaui, bangunan ambles,” kata Davy. Oleh karena itu, bobot gedung Lawang Sewu tidak boleh melampaui daya dukung tanah setempat.

Sejarah Lawang Sewu

Lawang Sewu merupakan sebuah bangunan bersejarah yang kini menjadi tujuan wisata populer di Semarang, Jawa Tengah. Bangunan ini dimiliki oleh PT Kereta Api Indonesia dan memiliki makna khusus dalam bahasa Jawa. Kata “Lawang Sewu” berarti seribu pintu. Nama ini diberikan karena bangunan ini memiliki banyak pintu dan jendela.

Dibangun sebagai Kantor Pusat Perusahaan Kereta Api Swasta zaman Belanda, yaitu Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM), Lawang Sewu memiliki luas lahan sekitar 18.232 meter persegi. Di kompleks ini, terdapat lima gedung yang dibangun secara bertahap dari tahun 1904 hingga 1918.

Bangunan ini dirancang oleh arsitek asal Belanda, Jacob F. Klinkhamer dan B.J. Ouendag. Tujuan pembangunan Lawang Sewu adalah untuk menjadi pusat administrasi perusahaan kereta api. Karena jumlah pintu dan jendela yang sangat banyak, masyarakat menganggap jumlahnya mencapai seribu, sehingga disebut Lawang Sewu.

Selain jumlah pintunya, keunikan Lawang Sewu juga terletak pada ornamen kaca patri yang menceritakan berbagai hal bersejarah. Contohnya adalah kemakmuran dan keindahan Jawa, kekuasaan Belanda atas Semarang dan Batavia (Jakarta), serta kejayaan kereta api.

Di kompleks Lawang Sewu terdapat lima gedung, yakni gedung A, B, C, D, E, dan satu Rumah Pompa. Pembangunan dimulai pada 1904 dengan mendirikan gedung D (rumah penjaga) dan gedung C (percetakan). Gedung A, yang merupakan bangunan utama kantor NIS, mulai dibangun setelah perbaikan tanah dilakukan dan diganti dengan lapisan pasir vulkanis.

Pada 1 Juli 1907, gedung A, C, D, dan E telah selesai dibangun. Sedangkan gedung B, yang merupakan perluasan dari gedung A, mulai dibangun pada 1916 dengan menggunakan konstruksi beton bertulang dan selesai pada 1918.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *