Ekonomi Jepang Alami Kontraksi Kuartal Ketiga
JAKARTA – Ekonomi Jepang mengalami kontraksi sebesar 1,8 persen pada kuartal ketiga tahun 2025, yang merupakan pertama kalinya dalam enam kuartal terakhir.
Penyebab utamanya adalah penurunan ekspor akibat penerapan tarif yang lebih tinggi oleh Amerika Serikat (AS). Angka ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan sebesar 2,3 persen yang diumumkan pada kuartal sebelumnya.
Pembacaan PDB tersebut juga menunjukkan kontraksi triwulanan sebesar 0,4 persen, dibandingkan estimasi median sebesar 0,6 persen. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi ekonomi Jepang sedang menghadapi tekanan yang signifikan.
Pengaruh Tarif AS Terhadap Ekspor
Ekspor menjadi faktor utama yang menyebabkan kontraksi ekonomi. Dampak dari tarif yang diberlakukan oleh AS berdampak besar terhadap industri otomotif Jepang. Volume pengiriman mobil turun, meskipun sebagian besar produsen telah memangkas harga untuk menyerap beban tarif tersebut.
Permintaan eksternal bersih atau ekspor dikurangi impor, mengurangi pertumbuhan sebesar 0,2 poin persentase. Pada bulan April-Juni, kontribusi positif dari ekspor mencapai 0,2 poin. Namun, situasi berubah drastis pada kuartal ketiga.
Pada bulan September, AS dan Jepang meresmikan perjanjian yang menerapkan tarif dasar sebesar 15 persen pada hampir semua impor Jepang. Sebelumnya, tarif untuk mobil mencapai 27,5 persen, sementara untuk barang lainnya sebesar 25 persen.
Konsumsi Swasta Sesuai Perkiraan
Konsumsi swasta, yang menyumbang lebih dari separuh output ekonomi Jepang, tumbuh sebesar 0,1 persen, sesuai dengan perkiraan pasar.
Meski begitu, angka ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 0,4 persen pada kuartal kedua. Tingginya biaya pangan menjadi salah satu penyebab keengganan masyarakat untuk berbelanja.
Sementara itu, belanja modal meningkat sebesar 1,0 persen pada kuartal ketiga, jauh melampaui estimasi pasar sebesar 0,3 persen. Ini menunjukkan adanya aktivitas investasi yang cukup kuat.
Menteri Revitalisasi Ekonomi Menilai Kondisi Ekonomi
Minoru Kiuchi, Menteri Revitalisasi Ekonomi, menyatakan bahwa konsumsi swasta telah tumbuh selama enam kuartal berturut-turut, sementara belanja modal naik selama empat kuartal berturut-turut. Ia menilai bahwa hal ini memperkuat pandangan bahwa perekonomian Jepang masih berada pada jalur pemulihan yang moderat.
Estimasi sektor swasta menunjukkan ekspektasi pemulihan pertumbuhan pada kuartal keempat. Survei terhadap 37 ekonom oleh Pusat Penelitian Ekonomi Jepang memproyeksikan ekspansi sebesar 0,6 persen.
Stimulus Ekonomi Untuk Menghadapi Tantangan
Data PDB yang lemah muncul saat pemerintahan Takaichi sedang menyusun paket stimulus untuk membantu rumah tangga menghadapi kenaikan biaya hidup. Penasihat Takaichi mengungkapkan kemungkinan kontraksi PDB yang tajam sebagai alasan untuk tindakan stimulus yang agresif.
Menteri Keuangan Satsuki Katayama mengumumkan bahwa stimulus ekonomi yang diusulkan akan melebihi 17 triliun yen (USD 109,94 miliar). Uichiro Nozaki dari Nomura Securities mengatakan bahwa langkah-langkah tersebut akan meningkatkan kondisi pendapatan rumah tangga secara riil.
“Oleh karena itu, dalam hal menopang konsumsi pada paruh pertama tahun depan, ini merupakan faktor positif,” ujarnya.












