Ekspor Minyak Venezuela Lumpuh Total Akibat Kekacauan Politik dan Sanksi AS
JAKARTA – Ekspor minyak Venezuela mengalami kegagalan total akibat situasi politik yang semakin memburuk. Tidak hanya itu, tindakan sanksi yang diperketat oleh Amerika Serikat (AS) juga turut berkontribusi pada stagnasi aktivitas ekspor minyak negara tersebut.
Peristiwa ini terjadi setelah otoritas AS mengumumkan pembatasan penuh terhadap kapal tanker yang keluar-masuk perairan Venezuela.
Beberapa sumber menyebutkan bahwa kapten pelabuhan tidak menerima izin untuk kapal tanker yang membawa minyak mentah atau bahan bakar agar dapat berlayar ke luar negeri. Hal ini menunjukkan adanya penutupan akses pengiriman minyak dari wilayah Venezuela.
Langkah tersebut dilakukan dalam konteks operasi yang melibatkan pengambilalihan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya dari ibu kota Caracas. Washington menyatakan akan membantu proses transisi politik di negara Amerika Selatan ini.
Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa embargo minyak telah mencapai efektivitas penuh. Ini merupakan langkah yang semakin membatasi aktivitas ekspor minyak yang sebelumnya sudah menurun drastis akibat sanksi yang diberlakukan.
Data pemantauan menunjukkan bahwa beberapa kapal yang baru saja mengangkut minyak atau bahan bakar untuk tujuan ke AS maupun Asia masih tertahan di pelabuhan. Kapal-kapal lain yang menunggu muatan justru kembali ke laut tanpa membawa apa pun.
Menurut data dari TankerTrackers.com, tidak ada kapal tanker yang sedang melakukan pemuatan di pelabuhan minyak utama Venezuela di Jose pada akhir pekan.
Penghentian total ekspor minyak mencakup kapal tanker yang disewa oleh PDVSA, perusahaan minyak negara Venezuela, serta mitra utamanya, Chevron. Analis industri memberikan peringatan bahwa penangguhan ini dapat mempercepat kebutuhan Venezuela untuk mengurangi produksi minyak dari ladang-ladangnya.
Hal ini terjadi karena tangki penyimpanan di darat dan kapal yang digunakan sebagai penyimpanan terapung telah terisi penuh dalam beberapa minggu terakhir, sehingga secara teknis membatasi kemampuan untuk memompa minyak baru.
Jika tren ini berlanjut, sektor energi Venezuela diperkirakan akan menghadapi tekanan produksi yang lebih parah di semester pertama tahun 2026. Dalam kondisi yang sudah lama mengalami masalah, seperti investasi rendah, infrastruktur yang usang, serta berbagai sanksi internasional, situasi ini bisa semakin memperparah krisis energi negara tersebut.
Sebelumnya, AS meluncurkan operasi militer kilat di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya. Menurut laporan Bloomberg, pasukan komando AS hanya butuh waktu kurang dari tiga jam untuk mengakhiri kekuasaan Maduro, yang selama bertahun-tahun bertahan di tengah tekanan Washington.
Lebih dari 150 pesawat militer AS dikerahkan setelah pertahanan udara Venezuela berhasil dinetralkan. Unit Delta Force Angkatan Darat AS kemudian dikirim ke pangkalan militer tempat Maduro menginap.
Pasukan tersebut mendobrak pintu baja lokasi persembunyian dan menangkap Maduro serta istrinya sebelum keduanya sempat mencapai ruang aman. Pasangan itu kemudian dibawa dengan helikopter ke sebuah kapal perang AS dalam perjalanan menuju pengadilan di New York.












