Jangan Takut Hadapi Tantangan: Bukti Energi ‘Abadi’ Bryan Adams di Jakarta

Kehadiran Tak Terduga Bryan Adams di Stadion Ancol

JAKARTA – Lampu di Beach City International Stadium (BCIS), Ancol, Jakarta Utara, masih menyala ketika sebuah kejutan terjadi di tengah kerumunan penonton. Pada Selasa (3/2/2026), musisi legendaris Kanada, Bryan Adams, tiba-tiba muncul di panggung kecil yang berada di tengah area penonton. Ia hadir tanpa pengawalan khusus dan hanya membawa gitar akustik.

“Halo, Jakarta!” sapa Adams singkat, yang langsung disambut oleh antusiasme luar biasa dari para penonton. Di panggung kecil itu, ia membawakan lagu Can’t Stop This Thing We Started dan Straight From the Heart dalam versi akustik yang intim. Penampilan ini menjadi awal yang sempurna sebelum ia berpindah ke panggung utama, yang menandai dimulainya parade rock and roll bertajuk tur Roll With The Punches.

Saat menginjak panggung utama, Adams langsung menggebrak dengan lagu Kick Ass. Lagu ini membawa penonton kembali ke era kejayaan arena rock. Atmosfer semakin memanas saat Run to You dan Somebody dikumandangkan. Kehadiran balon raksasa yang berputar cepat sesuai dengan ritme lagu Roll With the Punches menambah dimensi visual yang dinamis. Adams membuktikan bahwa di album ke-17nya, ia masih memiliki selera humor dan kreativitas yang segar.

Di sela penampilannya, Adams sempat bernostalgia tentang rindunya pada Jakarta. “Sudah lama sekali sejak terakhir kali kami tampil di sini. Dan kami senang sekali akhirnya bisa kembali,” ujarnya. Dengan katalog lagu yang sangat luas, Adams mengakui sulit untuk merangkum semuanya dalam satu malam. “Kami punya banyak sekali lagu malam ini. Saya enggak yakin bisa kita bawakan semua dalam satu malam. Karena Roll With the Punches itu album ke-17. Kami tidak tahu, tapi yang satu ini berjudul 18 Till I Die,” tambahnya, yang langsung disambut riuh tepuk tangan penonton.

Momen emosional memuncak saat lagu Please Forgive Me dinyanyikan. Ribuan cahaya dari ponsel penonton menyala, menciptakan lautan kunang-kunang elektrik di dalam stadion. Adams sangat memahami dinamika konser, tahu kapan harus menghentak dan kapan harus membiarkan penonton terhanyut dalam nostalgia. Bahkan lagu Heaven diberikan aransemen yang agak upbeat agar energi yang sudah terbangun dari lagu-lagu sebelumnya tidak merosot jatuh.

Kualitas vokal Adams yang serak basah tetap terjaga sepanjang malam. Mengacu pada ulasan dari Rolling Stone mengenai tur dunianya, Adams dikenal sebagai sosok perfeksionis yang menjaga staminanya dengan gaya hidup vegan dan disiplin tinggi. Setlist konser Adams terasa seperti album kompilasi Greatest Hits yang hidup. Mulai dari Summer of ’69 yang legendaris hingga (Everything I Do) I Do It for You. Setiap lagu dinyanyikan bersama oleh penonton dengan lantang.

Adams memberikan ruang bagi setiap instrumen untuk bersinar, menciptakan harmoni yang organik antara band dan audiens. Konser ditutup dengan megah lewat lagu All for Love. Di BCIS, Bryan Adams membuktikan bahwa ia bukan sekadar musisi masa lalu yang menjual nostalgia. Melalui tur Roll With The Punches, rock and roll adalah tentang daya tahan, kegembiraan, dan hubungan emosional yang tak padam oleh waktu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *