Pesan Kecil yang Menyimpan Makna Besar
JAKARTA – Ada satu kalimat yang sering terdengar dari mulut orang tua kepada anaknya, yaitu “Kalau sudah sampai, kabari, ya.” Kalimat ini mungkin terdengar sederhana dan biasa saja. Namun, di balik kata-kata itu tersimpan makna yang dalam dan penuh dengan kepedulian.
Dari sudut pandang psikologi, permintaan ini bukan sekadar kebiasaan semata. Melainkan cerminan dari cara orang tua mencintai, melindungi, dan menjaga hubungan dengan anaknya. Setiap tindakan kecil seperti ini sering kali menjadi indikasi adanya pola perilaku lain yang konsisten.
Berikut beberapa hal yang bisa jadi pertanda bahwa orang tua kamu memiliki perhatian besar terhadapmu:
-
Menunjukkan kepedulian akan kebutuhan dasar
Kalimat seperti “sudah makan?” atau “jangan lupa sarapan” merupakan bentuk dasar dari insting keorangtuaan. Mereka ingin memastikan kebutuhan biologis anak terpenuhi. Dalam psikologi, ini disebut nurturing behavior—sifat merawat yang menjadi bagian penting dalam ikatan emosional.
-
Memeriksa kondisi keuangan secara diam-diam
Orang tua yang sering meminta kabar juga cenderung ingin tahu apakah kamu baik-baik saja secara finansial. Mereka mungkin bertanya: “Masih ada uang di dompetmu?” atau “Gajian sudah masuk?”
Meski terdengar mengganggu, sebenarnya ini lahir dari kecemasan mereka agar kamu tidak kekurangan. Psikologi keluarga menyebut ini sebagai parental monitoring, mekanisme pengawasan yang tujuannya bukan mengontrol, melainkan memberi rasa aman.
-
Menggunakan pesan untuk menenangkan diri sendiri
Jika kamu perhatikan, kalimat ini sering datang dari mulut orang tua yang juga bilang “kabari kalau sudah sampai.” Mengapa begitu? Karena secara psikologis, mereka lebih memilih mengulang pesan yang menenangkan hati mereka ketimbang mengambil risiko diam. Bagi mereka, lebih baik terdengar cerewet daripada ada hal buruk yang menimpa anaknya.
-
Menyampaikan kekhawatiran secara terselubung
Kadang orang tua tidak secara langsung berkata, “Aku cemas menunggu kabar darimu.” Sebagai gantinya, mereka meminta kabar ketika kamu tiba. Psikologi menyebut ini sebagai indirect expression of anxiety, yaitu cara seseorang menyalurkan rasa khawatir tanpa terlihat lemah atau berlebihan. Mereka mengekspresikan cinta lewat aturan kecil, bukan melalui kata-kata dramatis.
-
Memiliki kebiasaan mengingatkan dengan nada khawatir
Pernahkah kamu menerima pesan, “Udah sampai belum? Mama nunggu kabar” padahal baru beberapa menit dalam perjalanan? Itu tanda jelas bahwa mereka punya trait conscientiousness yang tinggi: sifat hati-hati, penuh perhitungan, dan cenderung waspada. Bagi mereka, lebih baik memastikan berulang kali daripada menyesal karena kehilangan kesempatan menjaga.
-
Siap mengorbankan waktu untuk menunggu kabar
Misalnya, mereka tetap terjaga sampai larut malam hanya untuk menunggu pesan darimu, atau menahan kantuk saat kamu pulang larut. Kalimat “kirimi aku pesan saat kamu sampai” hanyalah simbol dari pengorbanan kecil itu.
-
Menyimpan kekhawatiran tapi jarang menceritakannya
Orang tua yang sering meminta kabar biasanya memiliki kebiasaan menyimpan rasa khawatir sendiri. Mereka jarang menunjukkan bahwa di balik wajah tenang, ada banyak skenario buruk yang berputar di kepala mereka. Inilah yang dalam psikologi keluarga disebut protective silence—diam bukan karena tidak peduli, melainkan karena ingin melindungi anak dari rasa cemas yang sama.
Penutup: Pesan Kecil, Cinta Besar
Permintaan sederhana “kabari kalau sudah sampai” ternyata bukan hal remeh. Dari sisi psikologi, itu adalah representasi dari banyak perilaku lain: kepedulian, kecemasan, pengorbanan, hingga cinta yang kadang tidak diucapkan secara langsung.
Maka, lain kali jika orang tuamu mengucapkan kalimat itu, jangan sekadar membalas singkat dengan “ok” atau “udah.” Lihatlah itu sebagai bahasa kasih yang tidak semua orang beruntung bisa dapatkan. Dan ingatlah: bagi mereka, satu pesan darimu bisa menghapus berjam-jam rasa cemas di hati.












