Kapal Perang AS Tiba di Karibia, Siap Serang Venezuela?

Kapal Induk AS di Laut Karibia Memicu Kekhawatiran dari Venezuela

JAKARTA – Sebuah kapal induk Amerika Serikat (AS) kini berada di Laut Karibia, menjelang akhir pekan. Langkah ini dipastikan memicu reaksi keras dari pihak Venezuela. Washington mengklaim bahwa pengiriman kapal induk tersebut bertujuan untuk memperkuat operasi anti-narkoba yang diberi nama Operation Southern Spear atau Operasi Tombak Selatan.

Presiden AS, Donald Trump, pernah menyatakan bahwa penambahan pasukan di wilayah Karibia merupakan bagian dari inisiatif anti-penyelundupan narkoba. Namun, banyak pihak mulai berspekulasi bahwa tindakan ini mungkin juga menjadi persiapan untuk intervensi militer terhadap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.

Komando Selatan AS (SOUTHCOM), yang bertanggung jawab atas keberadaan pasukan AS di Amerika Latin dan Karibia, sebelumnya mengumumkan bahwa Gugus Tempur Kapal Induk USS Gerald R Ford telah memasuki wilayah tanggung jawab mereka. Komando ini menyatakan bahwa langkah ini dilakukan sesuai arahan Trump untuk mengatasi organisasi kriminal transnasional serta melawan narco-terorisme.

Gugus tempur tersebut mencakup kapal induk tercanggih AS, dua kapal perusak berpeluru kendali, serta kapal pendukung dan pesawat lainnya. Armada ini bergabung dengan beberapa kapal perang yang sudah lebih dahulu berada di Laut Karibia.

Sebagai bagian dari operasi tersebut, SOUTHCOM mengumumkan adanya serangan baru pada Sabtu, 15 November 2025, di Pasifik timur, yang menewaskan tiga tersangka. Sejak operasi anti-penyelundupan narkoba dimulai pada September, pasukan AS telah menewaskan sedikitnya 83 orang yang diduga terlibat dalam penyelundupan narkoba di perairan internasional, menurut laporan AFP berdasarkan data publik.

Namun, AS belum memberikan rincian apapun untuk mendukung klaim bahwa semua target dalam lebih dari 20 serangan tersebut benar-benar penyelundup narkoba.

Venezuela Menganggap Tindakan AS sebagai Ancaman Langsung

Venezuela melihat pengerahan militer AS sebagai ancaman langsung terhadap negara mereka. Pemerintah AS tidak mengakui Maduro sebagai presiden sah Venezuela dan bahkan telah menawarkan hadiah senilai 50 juta dolar AS bagi siapa pun yang berhasil menangkapnya untuk menghadapi tuduhan sebagai pemimpin kartel narkoba.

Di tengah laporan bahwa Trump sedang mengadakan pertemuan dengan penasihat militer mengenai opsi yang mungkin diambil terhadap Venezuela, presiden AS itu pada Jumat mengatakan kepada wartawan bahwa ia “semacam” telah membuat keputusan. Ia mengatakan, “Saya tidak bisa memberi tahu apa itu, tetapi kami membuat banyak kemajuan dengan Venezuela dalam hal menghentikan aliran narkoba.”

Sebelumnya, dalam wawancara dengan CBS News, Trump meragukan kemungkinan AS akan berperang dengan Venezuela, tetapi yakin bahwa masa kekuasaan Maduro tinggal menghitung hari.

Peningkatan Kehadiran Militer di Trinidad dan Tobago

Militer AS juga meningkatkan kehadirannya di Trinidad dan Tobago, sebuah negara kepulauan yang berdekatan dengan pesisir Venezuela. Pasukan AS dan Trinidad akan memulai latihan bersama pada Minggu, yang merupakan latihan kedua dalam waktu kurang dari sebulan.

Pada hari Sabtu, Maduro mengecam latihan tersebut sebagai aksi yang tidak bertanggung jawab. Hal ini menunjukkan meningkatnya ketegangan antara AS dan Venezuela, terlepas dari alasan resmi yang diberikan oleh pihak AS.