Langganan Lawan Real Madrid, Pep Guardiola: Ini Sedikit Aneh

Duel Manchester City vs Real Madrid di Babak 16 Besar Liga Champions

JAKARTA – Manchester City dan Real Madrid terlihat memiliki hubungan yang tidak bisa dipisahkan dalam sejarah Liga Champions. Setiap musim berganti, format kompetisi berubah, namun kedua tim ini selalu kembali bertemu. Kali ini, mereka akan saling bersaing di babak 16 besar. Hal ini menunjukkan bahwa pertemuan antara dua klub besar ini sering terjadi, bahkan di fase awal kompetisi.

Pep Guardiola, pelatih Manchester City, mengungkapkan bahwa situasi ini terasa sedikit aneh. Bukan karena kualitas Real Madrid, melainkan karena perubahan format Liga Champions yang membuat pertemuan ini terjadi lebih cepat. Sebelumnya, pertandingan antara tim-tim besar biasanya hanya terjadi di babak perempat final atau semifinal. Namun, dengan sistem undian baru, kemungkinan besar tim-tim kuat bisa bertemu lebih awal.

Guardiola menyebutkan bahwa ini adalah pertemuan ke-13 antara Manchester City dan Real Madrid sejak ia menjabat sebagai pelatih di Etihad Stadium pada 2016. Angka tersebut menunjukkan betapa seringnya kedua tim ini saling berhadapan. Menurutnya, hal ini agak tidak biasa karena biasanya pertandingan antara tim besar seperti Real Madrid dan Benfica terjadi di babak penyisihan grup.

Perubahan format Liga Champions memang mengubah dinamika kompetisi. Dulu, sistem fase grup klasik membuat pertemuan antara tim-tim besar terjadi di babak yang lebih lanjut. Sekarang, undian bisa saja mempertemukan dua favorit juara lebih cepat. Guardiola mengatakan bahwa meskipun situasi ini terasa berbeda, ia tidak terlalu mempermasalahkannya.

Baginya, sepak bola modern membutuhkan adaptasi cepat. Di kompetisi domestik pun, hal serupa sering terjadi. Misalnya, Manchester City sudah beberapa kali bermain melawan Newcastle di Liga Premier dan kompetisi piala. Guardiola bahkan mengingat bagaimana Liga Champions dulu terasa lebih eksklusif dibanding sekarang.

Ia juga menyampaikan bahwa hasil imbang dari Real Madrid tetaplah hasil imbang. Tidak ada yang bisa dilakukan selain menerima situasi tersebut. Pernyataan ini menunjukkan sikap realistis dari Guardiola. Meski Real Madrid tetap menjadi tim tangguh dengan DNA Eropa yang telah teruji puluhan tahun, ia percaya bahwa setiap pertandingan harus dihadapi dengan persiapan maksimal.

Jalan Manchester City menuju final jelas tidak mudah. Jika berhasil melewati Real Madrid, mereka bisa saja menghadapi Bayern Munich atau Atalanta di babak berikutnya. Bahkan, juara bertahan Paris Saint-Germain bisa menantang di semifinal. Di atas kertas, undian ini tampak seperti jalur neraka. Namun, Guardiola menolak anggapan tersebut.

Menurutnya, tidak ada sisi mudah di Liga Champions. Semua tim memiliki kualitas, karakter, dan cara masing-masing untuk menyulitkan lawan. Tidak ada ruang untuk meremehkan siapa pun. Guardiola menekankan bahwa jika ingin lolos ke babak selanjutnya, Anda harus menang melawan tim-tim terbaik. Jika tidak, maka Anda tidak pantas mendapatkannya.

Esensi Liga Champions adalah bahwa untuk menjadi juara, Anda harus siap menyingkirkan yang terbaik. Termasuk Real Madrid. Ini adalah tantangan yang harus dihadapi oleh setiap tim yang ingin meraih gelar juara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *