Bisnis  

Mengapa Hotel Legendaris Tjimahi Dijual, Tak Ada Penerus hingga Menangis Saat Didenda

Sejarah yang Menanti Pemilik Baru

BANDUNG – Hotel Tjimahi, sebuah bangunan legendaris yang berdiri di pinggir Jalan Raya Amir Machmud, Kota Cimahi, masih bertahan meski dalam kondisi yang semakin memprihatinkan. Dengan usia hampir seabad, bangunan ini menyimpan banyak cerita sejarah dan kenangan. Namun, kini pihak pengelola mengambil keputusan besar: menjual hotel tersebut.

Keputusan ini bukan dilakukan karena kemauan pribadi, melainkan karena tekanan biaya operasional yang terus meningkat. Hotel yang dikelola oleh generasi ketiga keluarga pendirinya, Theresia Gerungan Soetamanggala, kini harus menghadapi tantangan ekonomi yang sangat berat.

Sebuah unggahan di media sosial TikTok menunjukkan bahwa Hotel Tjimahi ditawarkan dengan harga mencapai Rp35 miliar. Informasi ini langsung mendapat perhatian publik, mengingat hotel ini merupakan salah satu bangunan bersejarah tertua di Kota Cimahi. Dibangun pada tahun 1927, hotel ini dulunya merupakan villa dan kebun mawar milik Nyi Rd. Fatimah Singawinata dan suaminya, Veen.

Beban Biaya yang Tak Terkendali

Theresia mengungkapkan bahwa alasan utama penjualan adalah beban biaya yang sangat berat. Pendapatan dari hotel tidak lagi sebanding dengan biaya rutin yang harus dibayarkan setiap tahun, termasuk pajak bumi dan bangunan (PBB) yang mencapai puluhan juta rupiah.

“Bayangkan, buat PBB saja setiap tahun minimal Rp60 juta, karena kan ini premium,” ujarnya. Selain itu, ketiga anaknya tidak ada yang ingin melanjutkan bisnis ini. Mereka lebih fokus pada bidang masing-masing, seperti olahraga selam.

Kondisi semakin sulit saat pandemi COVID-19 melanda. Operasional hotel terhenti, pemasukan nyaris nol, sementara beban tetap berjalan. Di tengah situasi ini, Theresia memilih untuk tetap mempertahankan pegawai yang telah lama bekerja bersamanya.

“Jadi waktu pandemi COVID-19 itu enggak ada yang saya rumahkan, padahal kan hotel tutup. Kemudian enggak ada bantuan dari pemerintah, kan misalnya ada diskon PBB, seperti teman saya di Tangerang itu dapat potongan 30 persen. Waktu saya ke pemkot, malah didenda. Ya nangis saya,” katanya.

Harapan untuk Masa Depan

Meskipun penjualan menjadi jalan terakhir, Theresia berharap sejarah yang melekat pada Hotel Tjimahi tidak ikut hilang. Ia berharap siapa pun pemilik barunya kelak tetap menjaga bentuk dan fungsi bangunan tersebut.

“Jujur saya berat, perlu waktu sekitar 6 tahun saya bergelut untuk menjual hotel atau enggak. Cuma akhirnya sekarang saya sudah ikhlas, cuma ada harapan hotel enggak berubah bangunannya. Atau barangkali ada investor yang mau bantu saya, saya sangat terbuka dengan segala opsi,” harapnya.

Theresia juga menekankan bahwa ia tidak ingin bangunan ini diubah secara signifikan. Ia berharap pengelola baru tetap menjaga nilai historis dan estetika bangunan yang sudah ada sejak lama.

Dengan penjualan yang sedang diproses, masyarakat berharap Hotel Tjimahi bisa memiliki masa depan yang lebih baik, tetap menjaga keberlanjutan sejarahnya sambil tetap beradaptasi dengan tuntutan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *