Simbol dan Makna di Balik Larangan Keramas pada Hari Pertama Imlek
JAKARTA – Perayaan Tahun Baru Imlek selalu penuh dengan simbol-simbol, aturan, serta kebiasaan yang turun-temurun. Salah satu hal yang sering menimbulkan rasa penasaran adalah larangan untuk keramas pada hari pertama perayaan. Mengapa hal ini terjadi? Apa makna di balik tradisi tersebut? Berikut penjelasannya.
1. Larangan Keramas Berkaitan dengan Simbol Keberuntungan
Larangan keramas pada hari pertama Imlek tidak muncul begitu saja. Hal ini berkaitan erat dengan keyakinan bahwa awal tahun adalah waktu masuknya rezeki baru. Dalam konteks ini, air dianggap sebagai unsur yang dapat membawa atau bahkan menghilangkan keberuntungan. Karena sifatnya yang mengalir dan meluruhkan, keramas dianggap sebagai aktivitas yang secara simbolis membasuh hoki yang baru datang.
Tradisi ini lahir dari pandangan masyarakat agraris Tionghoa yang memandang tahun baru sebagai titik awal siklus kesejahteraan. Segala sesuatu yang datang pada hari pertama diyakini harus dipertahankan agar tidak hilang, termasuk rezeki, kesehatan, dan peluang baik. Oleh karena itu, kegiatan seperti keramas dihindari karena dianggap bertentangan dengan prinsip tersebut.
2. Kesamaan Bunyi Kata dalam Bahasa Mandarin
Dalam bahasa Mandarin, kata “rambut” (发) memiliki bunyi yang sama dengan kata “kaya” atau “makmur” (发财). Inilah yang membuat rambut dianggap sebagai simbol keberuntungan dalam budaya Tionghoa. Keramas pada hari pertama Imlek kemudian dianggap sebagai tindakan membasuh keberuntungan, karena air diasosiasikan dengan pembuangan.
Fenomena ini dikenal sebagai homofon, yaitu dua kata yang memiliki pelafalan sama tetapi arti berbeda. Budaya Tionghoa sering menggunakan homofon untuk menciptakan simbol keberuntungan maupun pantangan. Contohnya, angka delapan (八) mirip dengan kata “kaya” (发), sehingga dianggap membawa hoki. Sebaliknya, angka empat (四) mirip dengan kata “mati” (死), sehingga sering dihindari.
3. Keyakinan tentang Penghormatan Unsur Air
Larangan keramas juga terkait dengan keyakinan mengenai penghormatan terhadap unsur air dalam kepercayaan Tionghoa. Pada hari pertama dan kedua tahun baru, banyak orang percaya bahwa momen tersebut merupakan saat penghormatan terhadap dewa air. Oleh karena itu, penggunaan air secara berlebihan dianggap tidak tepat.
Air dalam filosofi Tionghoa dianggap sebagai simbol aliran rezeki, keberuntungan, serta energi kehidupan. Aktivitas seperti keramas dinilai berpotensi “membuang” energi baik yang baru datang. Untuk menjaga stabilitas simbol keberuntungan, banyak keluarga memilih menunda keramas hingga hari-hari setelahnya.
4. Persiapan Sebelum Malam Pergantian Tahun
Meskipun ada larangan keramas pada hari pertama, banyak orang justru melakukan keramas, mandi besar, serta pembersihan rumah pada malam sebelum Imlek. Hal ini dilakukan sebagai simbol untuk membuang kesialan dan menyambut tahun baru dengan bersih. Ini menunjukkan bahwa larangan keramas bukanlah penolakan terhadap kebersihan, melainkan pengaturan waktu penggunaan air agar sesuai dengan makna yang diyakini.
Prinsip ini sejalan dengan konsep keseimbangan energi dalam ajaran Taoisme, yang menekankan harmoni antara tindakan manusia dan siklus alam. Praktik menunda keramas akhirnya dipahami sebagai bentuk menjaga stabilitas simbol keberuntungan pada hari pertama tahun baru.
5. Tradisi yang Menjadi Bagian dari Kepercayaan Leluhur
Pantangan keramas pada hari pertama Imlek berkaitan langsung dengan cara masyarakat Tionghoa memaknai awal tahun sebagai titik penentu keberuntungan. Setiap tindakan pada hari pertama dipilih secara hati-hati agar tidak dianggap mengganggu kemakmuran. Pemahaman ini membuat banyak keluarga tetap memilih menunda keramas sebagai bentuk menghormati tradisi leluhur.
Tradisi ini menjadi bagian dari warisan budaya yang masih dipertahankan hingga kini. Meski semakin sedikit orang yang mematuhi larangan tersebut, makna di baliknya tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya Tionghoa.












