Bisnis  

Metland (MTLA) Percaya Diri Hadapi 2026, Pusat Perbelanjaan Tetap Kuat

Prospek Bisnis Pusat Perbelanjaan di Tahun 2026

JAKARTA – PT Metropolitan Land Tbk (MTLA) atau Metland melihat prospek bisnis pusat perbelanjaan pada tahun 2026 masih berada dalam tren positif dan relatif stabil. Hal ini didorong oleh terbatasnya pasokan mal baru di Jakarta serta tingkat okupansi yang tetap terjaga.

Kondisi ini memberi peluang bagi pengelola mal eksisting untuk meningkatkan kinerja dengan memperkuat kualitas tenant dan menyesuaikan konsep pusat belanja.

Direktur Metropolitan Land, Olivia Surodjo, menjelaskan bahwa minimnya suplai mal baru di Jakarta menjadi sinyal positif bagi potensi permintaan sewa, khususnya bagi pusat perbelanjaan yang telah beroperasi dan memiliki basis pengunjung yang kuat. Ia menilai bahwa tren ini membuka peluang bagi mal existing untuk terus dioptimalkan.

Berdasarkan laporan keuangan hingga September 2025, MTLA mencatat pendapatan pra penjualan sebesar Rp 1,34 triliun, atau setara 67% dari target tahun ini yang ditetapkan sebesar Rp 2 triliun. Pada kuartal III-2025, pendapatan MTLA berasal dari 64% segmen residensial dan 36% dari pusat perbelanjaan, hotel, pusat rekreasi, serta pendapatan lainnya.

Proyek Metland Cibitung dan Metland Menteng menjadi kontributor utama penjualan perseroan. Olivia menekankan bahwa penguatan permintaan sewa bergantung pada kemampuan pengelola dalam menjaga relevansi mal terhadap kebutuhan pasar. Peningkatan kualitas tenant serta pembaruan konsep menjadi strategi utama agar pusat perbelanjaan tetap kompetitif di tengah perubahan perilaku konsumen.

Seiring berkembangnya pasokan mal baru di kawasan Bodetabek, MTLA mengaku tetap selektif dalam melihat peluang ekspansi portofolio mal. Saat ini, perusahaan lebih fokus pada optimalisasi aset yang telah beroperasi guna menjaga kontribusi pendapatan yang berkelanjutan.

“Fokus perusahaan adalah mengoptimalkan kinerja mal yang telah beroperasi agar dapat memberikan kontribusi yang berkelanjutan. Pengembangan mal baru akan dipertimbangkan secara hati-hati dengan melihat kondisi pasar, potensi lokasi, serta peluang sinergi yang memberi nilai tambah,” jelas Olivia.

Di tengah meningkatnya persaingan kanal digital dan pergeseran pola belanja, MTLA mencatat bahwa tenant berbasis kebutuhan harian, makanan dan minuman (F&B), gaya hidup, hiburan keluarga, serta layanan berbasis pengalaman menjadi penopang utama kinerja mal. Kurasi tenant diarahkan agar pusat perbelanjaan tidak hanya berfungsi sebagai tempat transaksi, tetapi juga sebagai ruang aktivitas sosial dan komunitas.

Perusahaan aktif mendorong penyelenggaraan berbagai acara, kolaborasi dengan tenant lokal potensial, serta kerja sama dengan merek yang mengusung konsep omnichannel guna menjaga daya tarik kunjungan. Untuk tahun 2026, tantangan bisnis mal diperkirakan masih mencakup kenaikan biaya operasional, ketatnya persaingan antar pusat perbelanjaan, serta dinamika daya beli masyarakat.

Meski demikian, MTLA menilai peluang pertumbuhan tetap terbuka melalui penataan tenant yang lebih tepat, peningkatan aktivitas pengunjung, serta pemanfaatan data dan teknologi untuk memahami perilaku konsumen.

“Ke depan, mal yang mampu beradaptasi, dikelola secara efisien, dan relevan dengan kebutuhan pengunjung diyakini memiliki daya tahan dan peluang pertumbuhan yang lebih baik,” pungkas Olivia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *