Minat Mobil Listrik Singapura Menurun, Keputusan Konsumen Semakin Rasional

Tren Kendaraan Listrik di Dunia dan Pelajaran untuk Indonesia

BREBES – Tren kendaraan listrik di berbagai negara maju mulai mengalami fase penyesuaian. Menurut laporan Mobility Consumer Index (MCI) 2025 yang dirilis oleh EY-Parthenon, minat konsumen Singapura terhadap mobil listrik menurun dari 73 persen menjadi 58 persen.

Meskipun angka ini masih lebih tinggi dari rata-rata global sebesar 43 persen, penurunan tersebut menunjukkan adanya perubahan dalam preferensi konsumen. Secara global, sekitar 50 persen responden menyatakan kemungkinan kembali membeli kendaraan dengan mesin pembakaran internal.

Hal ini menunjukkan bahwa konsumen semakin memperhitungkan total biaya kepemilikan serta aspek kenyamanan dalam penggunaan sehari-hari.

Infrastruktur dan Kenyamanan Jadi Pertimbangan Utama

Di Singapura, 56 persen responden mengungkapkan kekhawatiran terhadap kualitas pengisi daya publik dan interoperabilitasnya. Meski rasio stasiun pengisian kendaraan listrik umum telah mencapai 1:3, konsumen merasa bahwa jumlah stasiun tidak cukup untuk menjamin kualitas layanan.

Kondisi ini menjadi pelajaran penting bagi Indonesia yang sedang mendorong percepatan elektrifikasi. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia, penjualan mobil listrik pada 2025 mencapai 103.931 unit. Namun, jumlah SPKLU aktif per Desember 2025 baru mencapai 4.778 unit di 3.093 lokasi, atau rasio sekitar 1:21. Angka ini masih jauh dari rekomendasi ideal sebesar 1:10.

Ketimpangan antara pertumbuhan kendaraan listrik dan infrastruktur berpotensi memengaruhi tingkat kenyamanan pengguna, terutama saat mobilitas meningkat. Pengguna akan merasa tidak nyaman jika akses ke stasiun pengisian terbatas atau tidak dapat digunakan secara efisien.

Depresiasi dan Biaya Baterai

Selain infrastruktur, masalah nilai jual kembali dan potensi biaya penggantian baterai juga menjadi pertimbangan utama. Baterai merupakan komponen termahal dalam mobil listrik dan bisa menimbulkan beban finansial besar jika masa garansi berakhir.

Di Indonesia, dinamika ini terlihat dalam pergerakan mobil listrik bekas di pasar sekunder. Melalui platform marketplace otomotif seperti OLX Indonesia, terlihat bahwa konsumen semakin mempertimbangkan aspek depresiasi sebelum mengambil keputusan.

Contohnya adalah model Hyundai Ioniq 5. Mobil yang diluncurkan pada 2022 dengan harga Rp 718 juta hingga Rp 829 juta kini di pasar bekas banyak ditawarkan pada kisaran Rp 350 juta sampai Rp 480 juta untuk unit produksi 2022–2023. Pergerakan ini menggambarkan bagaimana perkembangan teknologi dan kekhawatiran terhadap ketahanan baterai memengaruhi valuasi mobil listrik.

Pasar Bekas sebagai Indikator Kehati-hatian

Pasar mobil bekas seringkali menjadi cerminan kalkulasi rasional konsumen. Tidak hanya mempertimbangkan teknologi terbaru, pembeli juga menilai stabilitas harga dan potensi manfaat jangka panjang.

Co-CEO & Director OLX Indonesia, CK Yap, mengatakan bahwa pasar mobil bekas cenderung mengungkap realitas konsumen lebih cepat ketimbang pasar mobil baru. Teknologi memang berkembang pesat, tapi perilaku konsumen akan berubah jika dirasa masuk akal.

Selama masih ada hambatan dalam penggunaan, konsumen tentunya akan lebih memilih yang praktis. Ini terlihat jelas di pasar mobil bekas.

Membangun Ekosistem yang Komprehensif

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa transisi menuju kendaraan listrik memerlukan kesiapan ekosistem secara menyeluruh. Infrastruktur yang memadai, kepastian biaya, serta stabilitas nilai jual kembali menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan.

Bagi Indonesia, dinamika di Singapura menjadi refleksi bahwa percepatan elektrifikasi perlu diimbangi dengan strategi yang berkelanjutan. Pertumbuhan penjualan saja belum cukup tanpa dukungan kenyamanan dan kepastian ekonomi bagi konsumen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *