NATO Bangun dari Tidur, Belanda Kirim Ratusan Tentara ke Polandia: Amankan Bantuan Militer ke Ukraina Lawan Rusia
JAKARTA – Negara-negara yang tergabung dalam aliansi keamanan NATO tampaknya benar-benar tersentak oleh ancaman yang muncul dari invasi Rusia ke Ukraina. Perang yang telah berlangsung selama hampir empat tahun sejak 2022 ini memicu perubahan signifikan dalam strategi pertahanan dan kesiapan militer di Eropa.
Salah satu tindakan yang dilakukan adalah peningkatan anggaran belanja untuk sektor militer dan pertahanan. Selain itu, negara-negara NATO juga mulai saling mengisi kekosongan di berbagai aspek militer, termasuk pengiriman pasukan dan sistem pertahanan udara ke wilayah-wilayah kritis.
Terbaru, Belanda melaporkan bahwa mereka sedang mengerahkan 300 tentara dan dua sistem pertahanan udara Patriot ke Polandia. Tujuan utamanya adalah untuk membantu mengamankan pusat logistik NATO yang digunakan untuk menyalurkan bantuan militer ke Ukraina. Menteri Pertahanan Belanda, Ruben Brekelmans, menyatakan bahwa unit militer tersebut akan mencapai kesiapan operasional penuh pada 1 Desember 2025. Misi mereka direncanakan berlangsung hingga 1 Juni 2026.
Pengiriman pasukan ini disebut sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan keamanan di wilayah timur Eropa. Pihak Polandia melaporkan bahwa unit logistik militer Belanda sudah mulai mempersiapkan area operasional sementara. Operator sistem pertahanan udara Patriot akan segera tiba dan bertanggung jawab atas pemantauan wilayah udara Polandia di sekitar fasilitas logistik.
Sistem Rudal Patriot Di-Upgrade
Belanda mengirimkan konfigurasi Patriot terbaru yang dilengkapi dengan radar dan perangkat lunak yang telah ditingkatkan. Sistem ini mampu melawan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone. Setiap pencegat PAC-3 memiliki biaya sekitar 4 juta Euro. Selain itu, peluncur NASAMS juga dikerahkan untuk menangani ancaman terbang rendah, serta unit lainnya yang bertugas mengamankan pangkalan dari serangan drone.
Kolonel Olav Spanjer, yang memimpin unit Belanda yang bertanggung jawab atas sistem Patriot, mengatakan bahwa ketegangan regional telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Ia juga menyebut bahwa serangan Rusia di Ukraina barat memicu peringatan di Polandia, sehingga jet tempur Polandia harus segera bertindak dan memaksa penutupan bandara sementara.
Para pejabat Belanda menjelaskan bahwa misi ini merupakan kontribusi operasional untuk pertahanan timur NATO dan juga sebagai simbol komitmen terhadap keamanan kolektif.
Kepala Militer Uni Eropa: Tak Ada Negara yang Kebal Ancaman
Peringatan serupa juga datang dari Jenderal Sean Clancy, kepala militer Uni Eropa. Ia memperingatkan bahwa Eropa harus segera memperkuat kemampuan pertahanannya. Menurutnya, perang Rusia di Ukraina telah mendorong Eropa ke “zona abu-abu” antara perang dan perdamaian.
Clancy, seorang jenderal korps udara Irlandia, menyatakan bahwa Eropa tidak lagi memiliki “kemewahan” untuk mengasumsikan stabilitas di sisi timurnya. Ia menekankan bahwa meningkatnya belanja pertahanan di Eropa tidak boleh dianggap sebagai militerisasi masyarakat atau pembentukan tentara Uni Eropa bersama. Namun, ia mengakui bahwa manuver negara-negara NATO saat ini merupakan pengakuan yang terlambat terhadap skala ancaman saat ini.
Ia menyatakan bahwa tidak ada negara anggota yang kebal terhadap ancaman perang, termasuk ancaman hibrida, terorisme, dunia maya, dan ruang angkasa. Clancy juga menyoroti bahwa geografi tidak lagi menjadi penyangga pelindung terhadap perang hibrida tanpa batas, terutama dengan meningkatnya serangan pesawat tak berawak di bandara-bandara Eropa.
Menurutnya, kesiapan bukan hanya tentang mempersiapkan perang, tetapi juga tentang kesiapan dan ketahanan. Meski begitu, ia menolak anggapan bahwa Eropa seperti tertidur selama empat tahun perang Ukraina. Ia menyatakan bahwa tuntutan AS agar Eropa membelanjakan lebih banyak dimulai di bawah mantan presiden Barack Obama, tetapi “Tuan Trump benar-benar ‘mengkatalisasi’ momentum” di balik dorongan itu.
Clancy juga menyebut bahwa lembaga-lembaga Uni Eropa kini semakin sentral dalam mengkoordinasikan pembangunan pertahanan Eropa. Keamanan kini berada di dekat bagian atas agenda politik di Brussels. “Ini teraba, rasa tujuan, arah, dan momentum. Semua orang ingin bergerak lebih cepat,” katanya.












