Nestapa Petani Tambak di Brebes: 4.405 Hektare Rusak Kena Abrasi, Rugi Rp 102 Miliar per Tahun

Petani Tambak di Brebes Rugi Miliaran
Petani tambak di Desa Randusanga Kulon Kecamatan Brebes yang terdampak banjir rob. (Foto: Istimewa)

Kerugian Petani di 3 Desa Capai Rp 102,4 Miliar per Tahun

Dinas Perikanan Kabupaten Brebes mencatat, untuk kerusakan tambak di tiga desa di Kecamatan Brebes mencapai 1.515,44 hektare. Petani tambak di tiga desa tesebut mengalami kerugian sekitar Rp 102,4 miliar, dengan nilai kerugian Rp67,6 juta per hektare per tahun.

Selain kerugian akibat merusak tambak, petani di tiga desa ini tetap dipungut PBB mencapai Rp303 juta per tahun, dengan hitungan Rp200 ribu per hektare.

Tiga desa itu di antaranya Desa Randusanga Kulon seluas 824,5 hektare, Randusanga Wetan seluas 349,8 hektare, dan Desa Kaliwlingi 341,14 hektare. Penilaian kerusakan dan kerugian pascabencana banjir rob dan abrasi di Kecamatan Brebes ini tercatat pada 30 Juni 2025.

Garis pantai di Desa Randusanga Wetan Kecamatan Brebes yang terkikis abrasi hingga menenggelamkan tambak milik petani. (Foto: Istimewa)


Dinas Perikanan Kabupaten Brebes tengah mengusulkan rehabilitasi dan rekonstruksi tanggul tambak pesisir pantai dengan anggaran Rp41 miliar.

“Kerugian itu, akumulasi dari produksi per tahun per hektar, karena memang tambak yang rusak,” kata Kepala Dinas Perikanan Brebes, Moh. Zuhdan Fanani.

Zuhdan menyebut, untuk penanganan bencana abrasi dan banjir rob di pesisir Kabupaten Brebes ini, BPBD mengajak Dinas Perikanan berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Zuhdan menjelaskan, dampak dari kerusakan tambak akibat abrasi ini produksi ikan menurun, namun untuk produksi rumput laut meningkat, karena mayoritas petani tambak beralih budidaya.

“Kita sudah sampaikan ke BPBD dan Dinas Pengairan. BPBD mengajak kita juga koordinasi dengan BNPB untuk penanganan banjir rob dan abrasi,” katanya.

“Produksi ikan memang menurun tapi produksi rumput laut meningkat karena beralih semakin banyak di Randusanga Kulon dan Wetan dan Losari,” tutup Zuhdan.