Pertumbuhan Penjualan Eceran di Indonesia Tahun 2025
JAKARTA – Pada November 2025, penjualan eceran di Indonesia mencatatkan pertumbuhan sebesar 1,5% secara bulanan (month to month/MtM). Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya yang hanya sebesar 0,6% MtM. Perkembangan ini tercatat dalam hasil survei penjualan eceran (SPE) yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI).
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa peningkatan penjualan tersebut terlihat dari beberapa kelompok barang yang mengalami kenaikan. Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi menjadi yang paling signifikan dengan pertumbuhan sebesar 5,5% MtM. Selanjutnya, Suku Cadang dan Aksesori meningkat sebesar 4,2% MtM, Bahan Bakar Kendaraan Bermotor sebesar 2,8%, serta Makanan, Minuman, dan Tembakau sebesar 1,2% MtM.
Peningkatan ini dipengaruhi oleh permintaan masyarakat yang meningkat menjelang perayaan hari besar keagamaan nasional seperti Natal dan Tahun Baru. Hal ini juga diperkuat oleh pertumbuhan penjualan secara tahunan (year on year/YoY) sebesar 6,3%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Oktober 2025 yang sebesar 4,3% YoY.
Dari sisi kelompok, beberapa sektor mengalami kenaikan signifikan. Kelompok Suku Cadang dan Aksesori mencatat pertumbuhan sebesar 17,7% YoY, sedangkan Makanan, Minuman, dan Tembakau tumbuh sebesar 8,5% YoY. Barang Budaya dan Rekreasi juga mengalami kenaikan sebesar 8,1% YoY, serta Bahan Bakar Kendaraan Bermotor tumbuh sebesar 0,8% YoY.
Bank Indonesia memproyeksikan kinerja penjualan eceran akan terus meningkat pada Desember 2025. Indeks Penjualan Riil (IPR) akhir 2025 diperkirakan tumbuh sebesar 4,4% YoY, meskipun angka ini lebih rendah dibandingkan realisasi pertumbuhan sebelumnya sebesar 6,3% YoY.
Penyebab utama pertumbuhan penjualan eceran adalah kenaikan di beberapa kelompok, termasuk Suku Cadang dan Aksesori, Makanan, Minuman, dan Tembakau, Barang Budaya dan Rekreasi, serta Bahan Bakar Kendaraan Bermotor. Pertumbuhan penjualan secara bulanan diperkirakan sebesar 4%, didorong oleh peningkatan permintaan masyarakat selama periode Nataru.
Proyeksi Inflasi di Tiga Bulan Mendatang
Dari sisi harga, Bank Indonesia memperkirakan adanya tekanan inflasi pada tiga bulan berikutnya, yaitu Februari 2026. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Februari 2026 yang mencapai 168,6, lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya yang sebesar 163,2.
Namun, tekanan inflasi diperkirakan akan menurun pada enam bulan mendatang, yaitu Mei 2026. IEH Mei 2026 tercatat sebesar 154,5, lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang sebesar 161,7. Proyeksi ini menunjukkan bahwa inflasi akan cenderung stabil dalam jangka waktu tertentu.
Perkembangan penjualan eceran dan proyeksi inflasi ini menunjukkan dinamika ekonomi yang terus berkembang. Dengan kondisi pasar yang stabil dan permintaan yang meningkat, perekonomian Indonesia tampaknya masih dalam jalur yang positif.












