Opini  

Refleksi Energi Kepemimpinan dan Identitas Lokal Brebes dalam Perspektif Numerologis dan Budaya Jawa

Deden Sulaeman
Deden Sulaeman. (Foto: Dok Pribadi)
Oleh: Deden Sulaeman, Seniman. 

Abstrak
Tulisan ini menelaah hubungan simbolik antara dua momentum penting: ulang tahun ke-34 Bupati Brebes Hj. Paramitha Widya Kusuma, S.E., M.M., dan ulang tahun ke-348 Kabupaten Brebes, yang sama-sama jatuh pada tanggal 18 Januari 2026. Dengan menggunakan pendekatan simbolisme angka (numerologi Jawa) dan filsafat kepemimpinan budaya Jawa, tulisan ini menafsirkan angka-angka tersebut (18, 34, 348, serta tanggal dan bulan kelahiran) sebagai cerminan energi sosial, spiritual, dan kepemimpinan yang membentuk pola relasi antara individu pemimpin dan karakter daerah yang dipimpinnya.

  1. Pendahuluan
    Dalam kebudayaan Jawa, waktu tidak sekadar alur kronologis, tetapi juga ruang simbolik tempat energi spiritual bekerja. Setiap angka, hari, dan neptu memiliki nilai makna yang dianggap merepresentasikan keseimbangan kosmos antara manusia (mikrokosmos) dan semesta (makrokosmos). Ketika dua momentum — ulang tahun seorang pemimpin dan ulang tahun daerah yang ia pimpin — bertepatan, masyarakat Jawa melihatnya bukan sebagai kebetulan, melainkan sebagai tanda harmoni takdir.
    Momentum 18 Januari 2026 menjadi menarik karena mempertemukan dua siklus kehidupan: usia ke-34 sang pemimpin dan usia ke-348 tanah yang dipimpinnya. Secara numerologis dan kultural, keduanya mengandung unsur keselarasan, pengulangan, dan kesinambungan makna yang penting bagi pemaknaan kepemimpinan Jawa modern.
  2. Simbolisme Angka dalam Perspektif Jawa
    a. Tanggal 18 Januari: Sumber Energi “Penyempurna yang Memulai”
    Tanggal 18 menghasilkan angka dasar 9 (1+8=9), yang dalam filsafat Jawa melambangkan “kesempurnaan” (kasampurnan) dan “rasa penuntun.” Bulan Januari, sebagai bulan pertama (angka 1), menandai permulaan dan niat awal (wiwitan).
    Gabungan energi 9 dan 1 melahirkan pola “pemimpin penyempurna yang memulai arah baru” — simbol yang sangat relevan bagi sosok pemimpin perempuan muda di wilayah bersejarah seperti Brebes.
    Dalam neptu Jawa, kelahiran di hari Sabtu Pahing (neptu 18) menandakan pribadi berpengaruh, mandiri, namun sensitif terhadap getaran sosial di sekitarnya.

b. Usia 34 Tahun: Masa “Pitulungan lan Pangayoman”
Secara numerologis, 3 + 4 = 7. Dalam tradisi Jawa, angka 7 disebut pitu, berasal dari akar kata pitulungan (pertolongan) dan pangayoman (perlindungan).
Artinya, usia ini adalah masa di mana seorang pemimpin diarahkan untuk menjadi pelindung, bukan sekadar penggerak. Ia dituntut tidak hanya visioner, tetapi juga welas asih dan mampu menyeimbangkan logika dengan rasa.
Dalam konteks birokrasi modern, usia 34 merepresentasikan fase kepemimpinan yang tengah menata keseimbangan antara idealisme dan realitas sistem.

c. Ulang Tahun Brebes ke-348: Energi Kamulyan lan Welas Asih
Brebes sebagai entitas budaya telah menempuh perjalanan panjang: 348 tahun sejarah sosial, ekonomi, dan spiritual. Penjumlahan 3+4+8=15 → 1+5=6 menghasilkan angka dasar 6, yang dalam filsafat Jawa bermakna kamulyan (kemakmuran) dan welas asih (cinta kasih sosial).
Brebes berada pada fase kematangan peradaban, di mana arah pembangunan bukan lagi sekadar material, tetapi menekankan keseimbangan antara lahir dan batin, antara infrastruktur dan rasa sosial.
Dengan demikian, angka 6 menuntut keseimbangan sosial dan moral di tengah perubahan zaman.