Opini  

Refleksi Energi Kepemimpinan dan Identitas Lokal Brebes dalam Perspektif Numerologis dan Budaya Jawa

Deden Sulaeman
Deden Sulaeman. (Foto: Dok Pribadi)
  1. Pertemuan Dua Takdir: Simbol Relasi Pemimpin dan Daerah
    Ketika angka 34 (7) dan 348 (6) disandingkan, hasil penjumlahan keduanya adalah 13 → 1+3 = 4.
    Angka 4 dalam konsep Jawa melambangkan papat kiblat lima pancer — empat arah utama yang bertemu di satu pusat kesadaran.
    Maknanya: harmoni antara pemimpin (pusat) dan rakyat (empat penjuru).
    Secara simbolik, ini berarti masa kepemimpinan Bupati Paramitha Widya Kusuma berada dalam misi membangun pondasi (dhasar) — baik pondasi pemerintahan, pondasi ekonomi, maupun pondasi sosial yang menjadi dasar generasi berikutnya.
    Kehadiran angka 4 di kedua ulang tahun tersebut menandai masa “fondasi kepemimpinan,” bukan masa puncak, tetapi masa penyiapan arah.
  2. Tantangan dan Energi Zaman
    Dari sisi budaya kepemimpinan, energi angka 7 dan 6 membawa tantangan tersendiri:
  3. Ego dan Idealitas – Pemimpin dengan energi 7 cenderung perfeksionis; ia perlu belajar menyeimbangkan visi ideal dengan realitas birokrasi yang lambat.
  4. Inersia Sosial – Daerah dengan usia tua (energi 6) sering terjebak pada kebanggaan masa lalu yang berlebihan, sehingga sulit beradaptasi dengan perubahan.
  5. Keterputusan Generasi – Kesenjangan antara pemimpin muda dan birokrasi senior dapat menimbulkan friksi nilai.
    Namun di sisi lain, energi gabungan ini juga membawa peluang besar untuk menumbuhkan model kepemimpinan baru: kepemimpinan empatik dan transformatif, yang berakar pada nilai budaya lokal tetapi mampu bergerak dalam irama modernitas.
  6. Solusi Budaya dan Laku Kepemimpinan Jawa Modern
    Dalam filsafat kepemimpinan Jawa, keseimbangan dicapai melalui laku (perbuatan batin).
    Maka, seorang pemimpin berenergi 9–7–6 seperti Bupati Brebes perlu menegakkan tiga prinsip utama:
  7. Ngerti marang rakyat – memahami rasa dan aspirasi masyarakat, bukan hanya data statistik.
  8. Ngugemi andhap asor – rendah hati di tengah kekuasaan, menjadi pemimpin yang dirangkul bukan ditakuti.
  9. Ngabdi kanthi tulus – menjadikan pengabdian sebagai jalan spiritual, bukan sekadar tugas administratif.
    Dalam konteks ini, pembangunan Brebes diharapkan berjalan seimbang antara karsa modernitas dan rasa tradisi — membangun tanpa kehilangan jiwa.
  10. Kesimpulan: Sinergi Angka dan Jiwa
    Pertemuan ulang tahun ke-34 Bupati dan ke-348 Kabupaten Brebes mengandung makna simbolik bahwa kepemimpinan muda bertemu sejarah tua.
    Keduanya dipertemukan oleh angka 4 — simbol pondasi, arah, dan keseimbangan.
    Artinya, tahun 2026 menjadi momentum bagi Brebes untuk membangun pondasi masa depan yang berakar pada kearifan budaya.
    Pemimpin dan rakyat berada dalam satu gelombang spiritual: yang satu menyempurnakan dengan visi, yang lain meneguhkan dengan tradisi.
    Dengan demikian, dalam kacamata budaya Jawa, pertemuan angka dan waktu ini bukan sekadar perayaan, melainkan peneguhan kosmologis bahwa Brebes tengah menapaki babak baru —
    babak penyatuan antara energi muda dan kebijaksanaan tua,
    antara logika pembangunan dan rasa kemanusiaan,
    antara bumi yang subur dan jiwa yang welas asih.