Sejarah Reli Dakar: Ujian Ekstrem bagi Manusia dan Mesin

Sejarah dan Perjalanan Reli Dakar

JAKARTA – Reli Dakar dikenal sebagai salah satu ajang balap paling berat di dunia. Setiap tahun, para peserta harus menaklukkan rute ekstrem yang menguji fisik, mental, serta ketangguhan kendaraan.

Bukan sekadar adu cepat, Reli Dakar menuntut kemampuan navigasi dan daya tahan. Banyak peserta yang harus menghadapi kondisi alam tidak terduga, mulai dari pasir lembut hingga jalur berbatu yang menguras tenaga.

Awal Mula Reli Dakar

Cikal bakal Reli Dakar bermula pada 1977. Saat itu, pereli asal Prancis Thierry Sabine tersesat di Gurun Sahara, Libya, ketika mengikuti ajang Abidjan–Nice Rally menggunakan sepeda motor.

Pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam. Sabine melihat gurun bukan hanya sebagai rintangan, tetapi juga sebagai panggung petualangan yang belum tergarap.

Sekembalinya ke Perancis, Sabine menuangkan idenya. Ia merancang sebuah reli lintas benua, dimulai dari Eropa dan berakhir di Dakar, Senegal. Reli Dakar pertama digelar pada akhir 1978 hingga awal 1979.

Rutenya membentang dari Paris menuju Dakar, melewati ribuan kilometer medan berat di Afrika. Sejak awal, ajang ini langsung mencuri perhatian. Tantangan navigasi dan kondisi lintasan yang keras membuat Reli Dakar berbeda dari reli lainnya.

Ajang ini juga membawa pesan persahabatan dan semangat petualangan. Peserta tidak jarang saling membantu saat menghadapi kesulitan di tengah gurun.

Perkembangan dan Perpindahan Lokasi

Selama puluhan tahun, Afrika menjadi rumah Reli Dakar. Namun faktor keamanan membuat penyelenggara mengambil keputusan besar pada 2008. Sejak 2009, Reli Dakar dipindahkan ke Amerika Selatan.

Argentina, Chili, dan Peru menjadi lokasi baru dengan karakter medan yang tak kalah menantang. Mulai 2020, Arab Saudi ditetapkan sebagai tuan rumah. Hamparan gurun luas dan etape panjang kembali menghadirkan tantangan khas Dakar.

Legenda yang Lahir dari Gurun

Reli Dakar melahirkan banyak nama besar. Salah satunya Stéphane Peterhansel, pereli asal Prancis yang mencatat rekor kemenangan terbanyak. Tak hanya soal gelar, Dakar juga dikenal lewat kisah dramatis.

Kendaraan rusak, tersesat di gurun, hingga perjuangan bertahan hidup menjadi cerita yang melekat. Semua itu membentuk karakter Reli Dakar sebagai ajang yang lebih dari sekadar balapan.

Jejak Indonesia di Reli Dakar

Indonesia pernah mencatat sejarah di Reli Dakar. Pada 1988, Tinton Soeprapto, Dali Sofari, dan Richard Hendarmo tampil sebagai wakil Tanah Air. Ketiganya menggunakan Mitsubishi Pajero.

Mereka menjalani latihan di padang pasir Gunung Bromo sebagai persiapan. Beberapa tahun kemudian, nama Kasih Anggoro dan Yudha Satria juga ikut ambil bagian pada edisi 2010 dan 2011.

Reli Dakar 2026 dan Kembalinya Merah Putih

Pada Reli Dakar 2026, Indonesia kembali hadir lewat Julian Johan. Pereli asal Jakarta ini turun di kategori Dakar Classic. Kelas Dakar Classic diperkenalkan pada 2021. Peserta menggunakan kendaraan produksi tahun 2005 ke bawah. Julian Johan mengandalkan Toyota Land Cruiser 100 Series. Mobil ini dikenal memiliki sejarah panjang di Reli Dakar.

Sebagai persiapan, ia menjalani latihan di Maroko. Wilayah tersebut dipilih karena memiliki karakter jalur yang mirip rute klasik Paris–Dakar.

Lebih dari Sekadar Balapan

Reli Dakar bukan hanya tentang kecepatan. Ajang ini menuntut ketahanan, ketepatan navigasi, dan kerja sama tim. Menyelesaikan Reli Dakar sudah menjadi pencapaian besar. Tak heran jika ajang ini terus menjadi simbol reli paling ekstrem di dunia hingga hari ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *