Pergerakan Tanah di Aceh Tengah Mengancam Jalur Lintas Vital
ACEH TENGAH – Di kawasan Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, terjadi pergerakan tanah yang menyerupai sinkhole. Luasan tanah yang amblas semakin membesar dan mengancam jalur jalan utama Blang Mancung–Simpang Balik. Jalur ini merupakan akses penting yang menghubungkan dua kabupaten, yaitu Aceh Tengah dengan Bener Meriah.
Hingga hari Selasa (13/1/2026), pergerakan tanah terus mendekati Jalan Buter–Pondok Balik, sebuah jalan kabupaten yang menjadi penghubung antara Blang Mancung dan Simpang Balik. Jalur ini tidak hanya menjadi urat nadi transportasi masyarakat, tetapi juga berperan dalam distribusi hasil pertanian dari wilayah tersebut.
Kepala Pelaksana BPBD Aceh Tengah, Andalika, menjelaskan bahwa pergerakan tanah di lokasi tersebut bukanlah fenomena baru. Ia menyebutkan bahwa kondisi ini telah terpantau sejak tahun 2002, dan semakin memburuk setelah gempa Gayo pada tahun 2013. Pada tahun 2026, pergerakan tanah kembali meningkat, sehingga jalur jalan yang sebelumnya direlokasi kini kembali terancam.
“Jalur jalan yang ada sebelumnya sudah pernah direlokasi dan sekarang kembali terancam,” ujar Andalika kepada wartawan. Menurutnya, lubang longsoran kini sangat dekat dengan badan jalan utama dan berpotensi melebar, terutama saat curah hujan tinggi. Kondisi ini dinilai membahayakan pengguna jalan.
Untuk mengantisipasi risiko, BPBD Aceh Tengah telah memasang police line di lokasi rawan dan memberikan imbauan kepada masyarakat agar berhati-hati saat melintas. Selain itu, pihak berwenang juga telah menyiapkan jalur alternatif jika akses utama harus ditutup demi keselamatan.
“Untuk sementara masih ada jalur alternatif yang bisa digunakan. Kami terus memantau dan menyampaikan perkembangan kondisi di lapangan setiap hari,” tambah Andalika.
Berdasarkan kajian ESDM Aceh, longsoran di Kampung Bah termasuk jenis pergerakan tanah lambat, bukan amblesan tiba-tiba seperti sinkhole. Material tanah di lokasi tersebut didominasi endapan vulkanik yang mudah jenuh air dan rentan bergerak. Karakteristik tanah ini membuatnya tidak stabil dan rentan mengalami pergeseran.
Selain struktur tanah, faktor-faktor lain seperti curah hujan tinggi di wilayah pegunungan, kemiringan lereng yang curam, serta retakan lama yang menjadi jalur masuk air hujan turut mempercepat pergerakan tanah. Visualisasi lapangan menunjukkan bahwa bidang gelincir longsoran mendekati sudut tegak lurus, yang menunjukkan potensi bahaya yang tinggi.
Data ESDM Aceh menunjukkan bahwa luasan longsoran telah mencapai lebih dari 27 ribu meter persegi hingga tahun 2025 dan terus mendekati jalur lintas Blang Mancung–Simpang Balik. Wilayah tersebut dikategorikan sebagai zona tinggi rawan pergerakan tanah dan memerlukan penanganan berkelanjutan.
BPBD Aceh Tengah telah berkoordinasi dengan Dinas PUPR dan Dinas ESDM untuk penanganan teknis, termasuk rencana relokasi trase jalan. Masyarakat diminta untuk mematuhi rambu peringatan dan garis pengaman yang telah dipasang demi mencegah kecelakaan.












