Penolakan Zimbabwe terhadap Bantuan Kesehatan dari Amerika Serikat
JAKARTA – Zimbabwe mengambil keputusan penting dengan menolak dana bantuan kesehatan sebesar 350 juta dolar AS (sekitar Rp5,8 triliun) yang ditawarkan oleh Amerika Serikat.
Keputusan ini diambil sebagai bentuk perlawanan terhadap ancaman intervensi dan masalah kedaulatan negara. Penolakan ini juga menjadi akhir dari negosiasi antara AS dan Zimbabwe terkait America First Global Health Strategy.
Program bantuan ini dirancang untuk memperkuat mekanisme baru dalam mendukung kesehatan masyarakat Afrika. Namun, kebijakan ini disambut dengan skeptisisme oleh pihak Zimbabwe. Mereka merasa bahwa tawaran bantuan ini tidak hanya bersifat politis, tetapi juga mengandung unsur pengaruh eksternal yang berpotensi mengganggu kemandirian negara.
Alasan Penolakan: Akses Data Kesehatan Warga
Salah satu alasan utama penolakan adalah permintaan AS untuk akses jangka panjang terhadap data kesehatan warga Zimbabwe. Pemerintah Zimbabwe menyatakan bahwa permintaan ini sangat sensitif dan bisa membahayakan privasi serta kedaulatan negara. Mereka menilai bahwa persetujuan terhadap permintaan tersebut akan merusak prinsip kemerdekaan dan kedaulatan negara.
Dalam pernyataannya, seorang pejabat Zimbabwe menegaskan bahwa Presiden Emmerson Mnangagwa harus menghentikan negosiasi dengan AS. Hal ini dilakukan karena kesepakatan yang dibuat akan melanggar komitmen multilateralisme yang telah dijalin selama ini.
Terlebih lagi, AS diketahui pernah mundur dari World Health Organization (WHO), yang dinilai sebagai langkah yang tidak sesuai dengan prinsip kerja sama global.
Ancaman Masalah Kesehatan di Zimbabwe
Zimbabwe sedang menghadapi tantangan serius dalam hal kesehatan, terutama akibat maraknya penularan virus HIV. Dengan pembatalan perjanjian bantuan kesehatan dengan AS, negara ini khawatir kehilangan dukungan penting dalam menanggulangi penyebaran HIV dan program gizi lainnya.
Selain itu, isu tentang mineral langka juga muncul dalam diskusi ini. Ada kemungkinan AS meminta akses ke sumber daya alam penting di Zimbabwe, seperti lithium dan mineral mentah lainnya. Ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah setempat.
Penghentian Ekspor Mineral Mentah dan Lithium
Pada hari yang sama, Zimbabwe mengumumkan penangguhan sementara terhadap seluruh ekspor mineral mentah dan konsentrat lithium hingga waktu yang belum ditentukan.
Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap dugaan pelanggaran dan kebocoran data. Pemerintah berharap industri pertambangan dapat bekerja sama dengan kebijakan yang lebih berfokus pada kepentingan nasional.
Pemerintah juga menegaskan komitmennya terhadap hilirisasi dan pengelolaan ekspor mineral secara resmi. Mayoritas ekspor mineral Zimbabwe saat ini dialirkan ke China, yang menggunakan bahan baku tersebut untuk produksi baterai.
Tantangan Politik dan Ekonomi
Keputusan Zimbabwe untuk menolak bantuan kesehatan dari AS dan menangguhkan ekspor mineral mencerminkan upaya negara ini untuk menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional. Meski demikian, langkah ini juga membawa risiko ekonomi dan politik, terutama jika hubungan dengan negara-negara besar seperti AS dan China terganggu.
Di tengah situasi ini, presiden Zimbabwe juga sedang menghadapi tekanan untuk memperpanjang masa jabatannya hingga tujuh tahun. Hal ini menunjukkan bahwa Zimbabwe masih menghadapi berbagai tantangan dalam menjaga stabilitas politik dan ekonomi.












