Fenomena Underemployment yang Mengkhawatirkan di Kalangan Lulusan Perguruan Tinggi
JAKARTA – Banyak lulusan perguruan tinggi kini bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan jurusan mereka saat kuliah. Fenomena ini dikenal sebagai underemployment, yaitu ketidaksesuaian antara pendidikan akademik dan pekerjaan yang dijalani sekarang.
Hal ini menjadi isu serius di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, di mana data menunjukkan bahwa lebih dari separuh lulusan dari beberapa jurusan terjebak dalam pekerjaan yang justru tidak membutuhkan gelar sarjana.
Underemployment sering kali disebabkan oleh kesenjangan antara sistem pendidikan dan kebutuhan industri. Banyak jurusan masih fokus pada teori akademik, sementara dunia kerja kini lebih mengutamakan keterampilan teknis dan digital. Akibatnya, banyak lulusan perguruan tinggi tidak bisa langsung bekerja sesuai bidang studi mereka.
Jurusan dengan Tingkat Underemployment Tinggi
Berdasarkan laporan Federal Reserve Bank of New York, terdapat 11 jurusan yang memiliki tingkat underemployment cukup tinggi. Dari jumlah tersebut, hanya dua jurusan IPA yang masuk dalam daftar, sedangkan sisanya adalah jurusan IPS.
Meskipun demikian, ini tidak berarti bahwa lulusan jurusan IPA tidak memiliki peluang untuk bekerja sesuai bidangnya. Kesempatan tetap terbuka di berbagai tempat.
Berikut beberapa jurusan yang memiliki tingkat underemployment tinggi:
1. Teknisi Medis (Medical Technicians)
Jurusan Teknisi Medis memiliki tingkat underemployment sekitar 57,9 persen. Di Amerika Serikat, posisi teknisi medis umumnya hanya membutuhkan pendidikan tingkat diploma atau associate degree.
Akibatnya, lulusan S1 bidang ini sering kali bekerja di posisi yang tidak memanfaatkan seluruh kualifikasi akademiknya, seperti teknisi laboratorium tingkat dasar, asisten medis, atau pekerjaan administratif di rumah sakit.
Teknisi medis bisa berasal dari lulusan Teknik Elektromedik, Teknik Biomedis, atau Analis Kesehatan, tergantung pada jenis spesialisasi yang ingin ditekuni. Contohnya, Jurusan Teknik Elektromedik fokus pada perawatan dan perbaikan alat-alat medis, sedangkan Jurusan Teknik Biomedis berfokus pada perancangan dan inovasi teknologi medis, serta Analis Kesehatan berkaitan dengan analisis sampel laboratorium.
2. Ilmu Hewan dan Tumbuhan (Animal and Plant Sciences)
Jurusan Ilmu Hewan dan Tumbuhan memiliki tingkat underemployment sebesar 53,2 persen. Bidang ini mencakup studi biologi, pertanian, dan zoologi, tetapi sebagian besar posisi riset dan pengembangan di sektor ini memerlukan gelar pascasarjana.
Sehingga, banyak lulusan S1 bekerja di bidang administrasi laboratorium, konservasi dasar, atau layanan teknis pertanian yang tidak menuntut kualifikasi akademik tinggi.
Di Indonesia, sulit menemukan Jurusan Ilmu Hewan dan Tumbuhan. Namun, jika kamu tertarik, kamu dapat memilih Jurusan Biologi. Alasannya, Jurusan Biologi mempelajari seluruh makhluk hidup, baik hewan, tumbuhan, maupun mikroba.
Alternatif lain adalah jurusan khusus yang memfokuskan pada salah satu aspek, seperti Kedokteran Hewan untuk hewan, Peternakan untuk hewan ternak, dan Pendidikan Biologi yang mencakup keduanya dari sudut pandang pendidikan.












