Bisnis  

8 Kesalahan Jualan saat Ramadan yang Harus Dihindari!

Kesalahan yang Sering Membuat Penjual Kalah Saing saat Ramadan

JAKARTA – Ramadan sering dianggap sebagai masa yang mudah untuk berjualan, padahal persaingan justru sangat ketat. Pembeli mengambil keputusan lebih cepat, lebih teliti, dan banyak penjual baru muncul di berbagai tempat.

Banyak dari mereka gagal bukan karena kualitas produknya buruk, melainkan karena kesalahan kecil yang terus terulang. Untuk menghindari hal ini, penting untuk memahami kesalahan umum yang sering terjadi dan bagaimana mencegahnya.

1. Menu yang Terlalu Banyak dan Tidak Fokus

Menghadirkan banyak variasi takjil dapat membuat perhatianmu terpecah dan kontrol rasa menjadi tidak stabil. Setiap menu membutuhkan standar yang jelas agar rasa tetap konsisten. Ketika pesanan menumpuk, kualitas bisa turun tanpa kamu sadari. Pelanggan yang sudah pernah beli biasanya akan merasa tidak puas jika kualitasnya berubah.

Stok bahan juga menjadi rumit karena setiap menu memerlukan bahan berbeda. Hal ini bisa menyebabkan pemborosan makanan karena ada bahan segar yang tidak sempat digunakan sebelum rusak atau kedaluwarsa. Lebih baik fokus pada beberapa menu utama yang paling diminati dan mudah dijaga kualitasnya.

2. Manajemen Waktu Produksi yang Berantakan

Kesalahan dalam mengatur waktu sering membuat penjual terlambat. Banyak langkah kecil seperti menyiapkan bahan, menunggu kompor, atau merapikan kemasan terlihat sebentar, tapi jika dikumpulkan, bisa menghabiskan waktu yang cukup lama. Jika kamu mulai bekerja terlalu siang, risiko telat semakin besar dan pesanan bisa sampai setelah waktu berbuka.

Untuk menghindari ini, pecah pekerjaan menjadi dua tahap: persiapan dan finishing. Mulai dari siang hari dengan menyiapkan bahan-bahan, mencuci, memotong, menimbang bumbu, dan menata kemasan. Pada sore hari, kamu hanya perlu menyelesaikan masak, cek rasa, lalu kemas cepat agar proses terasa lebih rapi.

3. Mengabaikan Kebersihan dan Estetika Kemasan

Pada bulan Ramadan, banyak orang menilai makanan dari tampilannya terlebih dahulu, terutama jika dibeli untuk keluarga atau acara. Kemasan yang tampak berminyak, lembap, atau rawan bocor sering dianggap kurang higienis, meskipun proses masaknya bersih. Kesannya yang pertama bisa mengurangi minat pelanggan meskipun rasa enak.

Pilih kemasan yang rapat, kuat, dan sesuai jenis makanan. Contohnya, wadah yang tidak mudah lembek untuk menu berkuah atau berminyak. Tambahkan segel sederhana, stiker label, atau pengikat agar pembeli yakin makanan aman selama perjalanan. Pastikan permukaan kemasan bersih dari tetesan saus dan tutup menutup rapat, karena detail kecil ini bisa langsung meningkatkan nilai jual.

4. Tidak Melakukan Pencatatan Keuangan yang Rapi

Perputaran uang saat Ramadan sangat cepat, sehingga pengeluaran kecil sering luput dari perhatian. Plastik, gas, bumbu tambahan, dan es bisa menggerus keuntungan jika tidak dicatat harian. Tanpa catatan, kamu mudah merasa laris padahal margin sebenarnya tipis.

Pisahkan uang modal dan uang keuntungan sejak awal agar arus kas tidak tercampur. Catat pemasukan, biaya bahan, dan biaya kemasan supaya kamu tahu angka yang benar. Dari situ kamu bisa menilai menu mana yang paling menguntungkan dan mana yang hanya ramai tapi melelahkan. Keputusan belanja dan penentuan harga jadi lebih tepat karena kamu punya data.

5. Kurangnya Promosi Sebelum Waktu Kritis

Promosi yang dilakukan menjelang sore sering terlambat karena pembeli sudah menentukan pilihan. Banyak orang memilih menu buka puasa sejak siang, terutama saat jam istirahat kerja. Jika produkmu tidak terlihat lebih awal, kamu kehilangan momen penting saat mereka memutuskan akan beli apa.

Mulai promosi sejak pagi atau siang dengan informasi yang ringkas dan jelas. Tampilkan menu, harga, cara pesan, dan batas waktu pemesanan agar orang langsung paham. Ulangi promosi dengan format berbeda supaya tidak terasa membosankan, misalnya foto, daftar menu, lalu testimoni singkat. Konsistensi posting biasanya lebih efektif daripada promosi sekali tetapi mendadak.

6. Pelayanan yang Lambat Akibat Kewalahan Pesanan

Mengiyakan semua pesanan tanpa memperkirakan kemampuan produksi sering membuat proses jadi lambat. Ketika chat menumpuk, risiko salah tulis alamat dan keliru jumlah porsi jadi lebih besar. Varian pesanan juga mudah terlewat karena kamu fokus mengejar waktu.

Agar lebih aman, tetapkan kuota pesanan harian sesuai tenaga yang tersedia, alat masak yang dipakai, dan durasi produksi yang realistis. Kuota membantu kamu merespons chat dengan cepat dan membuat alur produksi lebih teratur. Dengan ritme yang jelas, peluang salah catat dan komplain bisa ditekan.

7. Harga yang Tidak Konsisten atau Terlalu Mahal

Perubahan harga yang tidak konsisten membuat pembeli ragu dan sulit percaya pada penjual. Jika kamu menaikkan harga terlalu tinggi, pelanggan setia bisa pergi karena merasa bayar lebih untuk kualitas yang sama. Jika kamu menurunkan harga terlalu rendah, kamu bisa kewalahan karena keuntungan tidak cukup untuk menutup tenaga dan waktu.

Hitung biaya per porsi secara realistis, termasuk bahan, kemasan, gas, dan tenaga. Lalu tentukan margin yang masuk akal supaya harga tetap kompetitif tetapi kamu tetap mendapat keuntungan. Ketika harga bahan naik, kamu dapat menyesuaikan porsi atau menawarkan paket bundling agar pembeli tetap merasa diuntungkan.

8. Mengabaikan Stok Bahan Baku Cadangan

Kebutuhan bahan pokok biasanya meningkat saat Ramadan, tetapi pasokan tidak selalu lancar. Kalau kamu hanya belanja saat persediaan hampir habis tanpa cadangan, produksi berisiko berhenti ketika bahan tidak tersedia. Saat jualan terhenti, pelanggan bisa memilih alternatif lain dan dampaknya bisa berlanjut pada penjualan hari-hari berikutnya.

Agar menu andalan tetap bisa dibuat, sisihkan stok aman untuk bahan yang paling krusial. Tidak perlu menumpuk banyak, cukup sediakan cadangan yang menjaga produksi tetap lancar saat kondisi pasar padat. Lengkapi juga dengan supplier alternatif agar kamu tidak bergantung pada satu tempat saat harga naik atau stok tiba-tiba kosong.

Jualan di bulan Ramadan memang penuh tantangan, tetapi peluangnya juga sangat besar jika kamu menjalaninya dengan serius dan konsisten. Saat kamu mau terus belajar dan memperbaiki cara kerja setiap hari, usaha kecil pun bisa tumbuh lebih cepat dan bertahan lebih lama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *