Alasan Dharma Pongrekun Somasi Pandji Pragiwaksono

Peran Humor dalam Politik dan Kritik yang Muncul

JAKARTA – Pernyataan terbuka dari Juru Bicara pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta 2024, Dharma Pongrekun–Kun Wardana, Ikhsan Tualeka, menarik perhatian publik.

Ia mengirimkan somasi etik terbuka kepada komedian Pandji Pragiwaksono terkait materi stand-up comedy bertajuk Mens Rea yang tayang di platform digital Netflix.

Somasi ini tidak dimaksudkan sebagai langkah hukum, melainkan sebagai bentuk keberatan moral terhadap materi komedi politik yang dinilai berpotensi merendahkan pemilih tertentu dalam Pilkada DKI Jakarta 2024.

Menurut Ikhsan, materi Mens Rea tidak hanya mengkritik kandidat, tetapi juga menyampaikan candaan yang dianggap mendeligitimasi warga atas pilihan politik mereka. Hal ini menjadi dasar dari somasi etik terbuka tersebut.

“Yang dipersoalkan bukan perbedaan pandangan politik, melainkan cara pandang yang merendahkan hak politik sebagian warga,” ujar Ikhsan dalam pernyataannya.

Ikhsan menyebutkan bahwa pasangan Dharma–Kun memperoleh sekitar 10 persen suara dalam Pilkada DKI Jakarta 2024. Angka tersebut merepresentasikan ratusan ribu warga Jakarta yang telah menggunakan hak pilihnya secara sah.

Oleh karena itu, ketika pilihan politik tersebut dijadikan bahan olok-olok di ruang publik, Ikhsan menilai yang direndahkan bukan hanya sosok kandidat, melainkan juga para pemilihnya.

“Ketika pilihan itu dijadikan objek olok-olok di ruang publik, maka yang direndahkan bukan semata seorang kandidat, melainkan sebagian nyata dari rakyat Jakarta yang menggunakan hak,” kata Ikhsan.

Keluhan dari Pendukung Pasangan Dharma–Kun

Ikhsan mengaku menerima banyak keluhan dari para pendukung Dharma–Kun setelah tayangan Mens Rea beredar. Para pemilih merasa diposisikan sebagai kelompok yang tidak rasional atau kurang cerdas dibandingkan pemilih lainnya.

Dalam somasinya, Ikhsan menilai humor politik seharusnya memperkaya ruang dialog publik, bukan justru menciptakan hierarki simbolik antarwarga negara.

“Ini bukan soal sensitivitas berlebihan, melainkan soal martabat politik warga negara,” ujarnya.

Relasi Kuasa dalam Materi Komedi

Ikhsan juga menyoroti fakta bahwa materi komedi tersebut disampaikan melalui platform berbayar, yang menurutnya menempatkan Pandji dalam posisi relasi kuasa yang lebih kuat dibandingkan warga yang menjadi objek candaan. Ia mengaitkan situasi ini dengan konsep kekerasan simbolik yang diperkenalkan sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu.

“Ia tidak hadir dalam bentuk larangan atau ancaman, tetapi melalui penertawaan yang tampak wajar, bahkan dianggap cerdas. Namun dampaknya nyata: delegitimasi pilihan politik warga dan pengerdilan partisipasi,” jelas Ikhsan.

Menurut dia, materi humor tersebut bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi komoditas yang menghasilkan keuntungan komersial dengan menjadikan pemilih sebagai objek candaan.

Tiga Permintaan untuk Pandji Pragiwaksono

Melalui somasi etik terbuka itu, Ikhsan menyampaikan tiga permintaan utama kepada Pandji Pragiwaksono, yakni:

  • Refleksi terbuka atas materi humor politik yang disampaikan, khususnya terkait dampaknya terhadap martabat sekitar 10 persen pemilih pasangan Dharma Pongrekun–Kun Wardana.
  • Pernyataan atau klarifikasi publik yang menegaskan penghormatan terhadap hak dan pilihan politik seluruh warga negara tanpa kecuali.
  • Komitmen etik ke depan untuk secara tegas membedakan kritik terhadap gagasan atau kebijakan dengan perendahan terhadap pemilih sebagai subjek demokrasi.

Ikhsan memberikan waktu 14 hari bagi Pandji untuk menyampaikan klarifikasi atau tanggapan. Namun, ia menekankan tenggat waktu tersebut bukan bentuk ancaman.

“Ini bukan tekanan, melainkan undangan dialog etik yang dewasa dan bermartabat,” ucapnya.

Isi Materi Pandji tentang Dharma Pongrekun

Dalam pertunjukan Mens Rea yang tayang di Netflix, Pandji Pragiwaksono menyinggung sosok Dharma Pongrekun, mantan calon gubernur DKI Jakarta 2024. Pandji membuka segmen tersebut dengan menyadari risiko membahas isu politik di panggung komedi. Ia menyebut, publik kerap meminta komika untuk memberi solusi ketika mengangkat isu politik.

“Orang pasti pada bilang, ‘Ah Bang Pandji mah ngomong doang, kasih solusi dong kalau berani’. Lah aneh, solusi kok dari yang berani? Solusi itu dari yang pintar,” ujar Pandji di atas panggung.

Pandji kemudian menyinggung Dharma Pongrekun, yang menurutnya kerap menampilkan keberanian tanpa disertai rasionalitas. Ia juga menyoroti pencalonan Dharma Pongrekun yang maju secara independen tanpa dukungan partai politik. Dalam materi tersebut, Pandji turut mengulas pandangan Dharma terkait penolakan vaksin Covid-19 dan teori konspirasi yang diyakininya.

Pandji mengaku justru merasa khawatir karena Dharma Pongrekun memperoleh sekitar 10 persen suara dalam Pilkada DKI Jakarta 2024. “Dan tahu enggak apa yang lebih mencemaskan, dia dapat 10 persen suara. Ada yang milih,” ujarnya.

Ia menegaskan, fokus pertunjukan Mens Rea bukan untuk mengubah politisi, melainkan mengajak pemilih agar lebih bijak di masa depan. “Mens Rea itu tidak dirancang untuk mengubah para politisi, karena percuma. Yang lagi kita usahakan adalah yang milih sosok seperti itu,” ucap Pandji.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *