Amankah Berpuasa bagi Penderita GERD?

Peran Puasa dalam Pengelolaan GERD

JAKARTA – Menjelang bulan Ramadan, banyak orang dengan penyakit gastroesophageal reflux disease (GERD) merasa khawatir apakah puasa akan memperparah kondisinya.

Kekhawatiran ini muncul karena lamanya waktu tanpa makan dan minum, yang sering dikaitkan dengan lambung kosong dan peningkatan produksi asam lambung. Namun, realitasnya lebih kompleks dari yang diperkirakan.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pola makan saat sahur dan berbuka justru dapat mengurangi paparan asam esofagus pada sebagian pasien dengan gejala refluks.

Selain itu, ada studi yang menemukan bahwa sebagian penderita GERD mengalami perbaikan gejala selama puasa Ramadan. Pertanyaannya adalah: Apakah puasa aman bagi mereka atau ada kondisi tertentu yang membuatnya berisiko?

Fisiologi GERD dan Pengaruh Puasa

Secara fisiologis, GERD terjadi akibat relaksasi atau kelemahan sfingter esofagus bagian bawah (LES), yang memungkinkan asam lambung naik ke esofagus.

Faktor-faktor yang memicu refluks meliputi volume lambung yang besar, makanan tinggi lemak, peningkatan tekanan intraabdomen, serta gangguan pengosongan lambung. Dengan kata lain, refluks tidak hanya disebabkan oleh lambung kosong, tetapi juga oleh kombinasi tekanan, volume, dan fungsi sfingter.

Penelitian menunjukkan adanya penurunan paparan asam esofagus dan perbaikan skor gejala pada sebagian partisipan selama periode puasa. Mekanisme yang diduga berperan adalah berkurangnya frekuensi episode relaksasi LES akibat lebih jarangnya stimulasi makan serta berkurangnya paparan refluks setelah makan.

Studi lain menemukan bahwa beberapa pasien mengalami penurunan frekuensi heartburn dan regurgitasi selama Ramadan. Faktor utama tetap adalah pola makan, bukan durasi tidak makan.

Variasi Hasil Studi

Beberapa studi menunjukkan perbaikan gejala GERD selama puasa, tetapi hasilnya tidak selalu konsisten. Perbedaan ini bisa dijelaskan melalui beberapa faktor klinis dan perilaku, seperti:

  • Pola makan saat berbuka dan sahur: Jika saat berbuka kamu mengonsumsi makanan tinggi lemak, gorengan, santan, cokelat, atau kopi dalam jumlah besar, risiko refluks meningkat.
  • Porsi besar dalam waktu singkat: Konsumsi makanan dalam porsi besar sekaligus dapat membuat lambung penuh dan tekanannya naik, sehingga isi lambung bisa terdorong naik ke kerongkongan.
  • Waktu tidur setelah makan: Refluks makin mudah terjadi jika kamu langsung berbaring setelah makan.
  • Tingkat keparahan GERD: Pasien dengan GERD ringan mungkin mengalami perbaikan gejala, sementara pasien dengan esofagitis erosif atau refluks berat berpotensi tetap mengalami gejala meski berpuasa.
  • Kepatuhan terhadap pengobatan: Penggunaan proton pump inhibitor (PPI) atau H2 blocker yang tidak teratur selama Ramadan dapat memengaruhi kontrol gejala.

Tips Berpuasa untuk Penderita GERD

Untuk menjalani puasa dengan aman, berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan:

  • Pilih makanan yang ramah lambung: Utamakan makanan rendah lemak dan tidak terlalu pedas. Hindari gorengan, santan kental, cokelat, kopi, serta minuman bersoda.
  • Jangan makan porsi besar sekaligus: Berbuka secara bertahap lebih aman dibanding langsung makan besar.
  • Hindari berbaring setelah makan: Berikan jeda minimal 2–3 jam sebelum tidur setelah sahur atau makan malam.
  • Atur waktu minum obat: Konsultasikan dengan dokter untuk penyesuaian waktu minum obat, biasanya sebelum sahur.
  • Kenali tanda bahaya: Jika muncul nyeri dada berat, sulit menelan, muntah berulang, atau penurunan berat badan yang tidak jelas sebabnya, segera temui dokter.

Kesimpulan

Puasa tidak otomatis memperburuk GERD. Pada sebagian orang, pengaturan waktu makan justru dapat membantu mengurangi keluhan. Namun, manfaat tersebut sangat bergantung pada kualitas makanan, porsi, serta kondisi masing-masing individu.

Respons terhadap pola makan dengan batas waktu tertentu juga bersifat personal. Keputusan untuk berpuasa sebaiknya tidak didasarkan pada asumsi, melainkan pada evaluasi kondisi pribadi dan konsultasi medis. Dengan strategi yang tepat, banyak pasien GERD tetap dapat menjalani puasa dengan aman dan nyaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *