Anak Gus Dur Ejek Pria yang Laporkan Pandji: Ironi yang Menuntut Abdurrahman Wahid

Komentar Keluarga Gus Dur terhadap Laporan Pandji Pragiwaksono

JAKARTA – Yenny dan Inayah Wahid, dua anak dari almarhum Gus Dur, mengekspresikan keheranan mereka terhadap tindakan Rizki Abdul Rahman Wahid yang melaporkan komika Pandji Pragiwaksono.

Mereka menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) sendiri tidak mempermasalahkan materi stand up yang dibawakan oleh Pandji dalam acara Mens Rea.

Menurut Yenny, pelapor tidak mewakili organisasi NU. Ia juga menyatakan bahwa Pengurus Besar (PB) NU tidak merasa tersinggung dengan candaan yang disampaikan oleh Pandji. Menurutnya, candaan tersebut didasarkan pada fakta dan merupakan bagian dari kebebasan berpendapat.

Tidak Ada Pemahaman Internal NU

Yenny mengatakan bahwa di dalam internal NU, isu tentang materi stand up Pandji belum dibahas. “Belum dibicarakan sih soal ini yah, kita juga kaget,” ujarnya. Ia juga menyampaikan bahwa pihak NU justru merasa heran terhadap Rizki yang mengaku sebagai Angkatan Muda NU.

“Buat kita ini mereka siapa? Tidak mewakili NU sebagai sebuah organisasi, tidak ada afiliasinya. Sudah dibantah kan oleh pengurus PB,” kata Yenny di Metro TV. Ia khawatir jika seorang comica bisa dijerat hukum pidana, maka adiknya juga akan menghadapi masalah serupa.

Kebebasan Berpendapat yang Harus Dihargai

Yenny menekankan bahwa kebebasan berpendapat di Indonesia dicapai dengan harga sangat mahal. Ia menilai bahwa perjuangan aktivis dan mahasiswa di masa lalu harus dihargai. Namun, kini justru banyak pihak yang mudah mengkriminalisasi orang yang menyuarakan pendapat.

“Jangan kemudian kita sangat mudah melakukan kriminalisasi ke mereka yang menyuarakan pendapatnya. Walaupun kita tidak setuju dengan materi yang dibawakan dengan pendapat mereka, tetap kita harus menghargai mereka punya hak, bahkan ketika mereka salah mereka punya hak,” katanya.

Humor Sebagai Alat Penyampaian Pendapat

Menurut Yenny, humor atau komedi menjadi alternatif dalam menyampaikan pendapat karena kritik sudah tidak lagi didengar. Ia menilai bahwa batasan antara kritik dan penghinaan harus didefinisikan bersama sebagai bangsa. Di titik mana kita bisa mentolerir pendapat yang dianggap tidak kebablasan dan mencederai bersama.

“Ranah politik humor itu justru dibutuhkan untuk fungsi kontrol, kritik keras dianggap sebagai sebuah ancaman, humor lah yang menjaga kewarasan kita sebagai bangsa,” tambah Yenny.

Perspektif Inayah Wahid

Sementara itu, Inayah Wahid masih belum dapat menelan dan mengerti unsur penghinaan dalam materi stand up Pandji Pragiwaksono.

Menurutnya, soal NU menerima izin mengelola tambang adalah sebuah fakta. “Yang disebut menghina bagian mana? Faktanya kan NU menerima tambang ya itu fakta yang diketahui semua orang.”

Ia juga menegaskan bahwa gugatan Rizki Abdul Rahman Wahid sama sekali tidak mewakili NU. “Ya itu kan ini yah subjektif jadinya yah. Mas Rizki bisa merasa terhina yang bisa saja mungkin sebagai Nahdliyin, dan mas Rizki mau menuntut ya monggo aja. Yang pasti tuntutan itu tidak mewakili Nahdliyin, organis Nahdlatul Ulama.”

Tidak Ada Organisasi Angkatan Muda NU

Inayah menekankan bahwa tidak ada organisasi Angkatan Muda NU. “Gak ada yang namanya aliansi muda NU itu gak ada. Lembaga itu gak ada di dalam NU sendiri gak ada. Jadi gak tahu dia itu mewakili siapa.”

Ia menilai bahwa sampai saat ini PBNU tidak ambil pusing terhadap materi stand up Pandji. “Suara PBNU dalam hal ini gak masalah yang dikatakan Mas Padji.”

Tanggapan Ahli Kapolri

Penasihat Ahli Kapolri Aryanto Sutadi mengatakan bahwa laporan Rizki tidak bisa gugur begitu saja meskipun tidak mewakili NU. “Bukan menggugurkan pelaporan hanya nanti menentukan pelaporan itu perlu ditindaklanjuti menjadi tindak pidana atau tidak.”

Menurut Aryanto, keterangan dari NU tidak mewakili, tapi itu harus ada di berita acara keterangan dari saksi yang dari NU. Bukti itu semua otentik untuk menentukan penyelidikan dilanjutkan atau diteruskan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *