Oleh: Darwanto, Ketua DPD PSI Kabupaten Brebes
Menjelang Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Makassar, 29 – 31Januari 2026, publik kembali dihadapkan pada pertanyaan mendasar tentang politik: ke mana arah kekuasaan hendak dibawa, dan nilai apa yang semestinya menjadi penuntunnya.
Di tengah dinamika politik yang kerap keras, pragmatis, dan berjarak dari etika, refleksi nilai menjadi kebutuhan yang tak terelakkan. Politik tidak cukup ditopang oleh strategi dan angka elektoral semata, melainkan harus berakar pada kesadaran moral tentang tanggung jawab terhadap rakyat dan masa depan bangsa.
Dalam konteks ini, simbol gajah yang dipilih PSI menemukan relevansinya. Dalam khazanah budaya Nusantara, gajah melambangkan kekuatan yang menyatu dengan kebijaksanaan. Ia besar, tetapi tidak sewenang-wenang. Ia kuat, namun tidak melukai tanpa sebab. Lebih dari itu, gajah adalah makhluk sosial yang hidup dalam solidaritas kawanan.
Gajah tidak berjalan sendirian. Ia melindungi yang lemah, menunggu yang tertinggal, dan menjaga kebersamaan dalam perjalanan panjang. Nilai ini menjadi metafora penting bagi praktik politik. Politik sejatinya adalah kerja kolektif—bukan arena saling meniadakan, melainkan ruang saling menguatkan demi tujuan bersama.
Solidaritas dalam politik berarti keberpihakan nyata kepada rakyat, terutama mereka yang berada di pinggir. Ia hadir dalam keberanian menggunakan kekuasaan untuk melindungi, bukan menekan; untuk melayani, bukan menguasai. Di sinilah politik menemukan kembali kemanusiaannya.
Gajah juga mengajarkan bahwa kekuatan sejati tidak selalu bersuara keras. Ketegasan tidak harus lahir dari kegaduhan. Keberanian tidak mesti dibungkus kebencian. Politik yang beradab justru tumbuh dari ketenangan, nalar, dan empati—nilai yang semakin relevan bagi demokrasi Indonesia hari ini.
Nilai lain yang melekat pada gajah adalah ingatan kolektif. Ia tidak mudah melupakan kebaikan maupun luka. Dalam politik, ingatan ini adalah komitmen untuk menjaga amanah, menghormati sejarah, dan menepati janji. Kepercayaan publik hanya dapat dirawat melalui konsistensi dan integritas.
Makassar, pada akhir Januari nanti, akan menjadi saksi berkumpulnya ribuan kader PSI dari seluruh kabupaten dan kota di Indonesia. Rakornas ini bukan sekadar forum konsolidasi, melainkan ruang perjumpaan nilai, etika, dan harapan. Dari sanalah diharapkan lahir kader-kader bangsa yang matang secara moral dan siap membangun daerahnya masing-masing.
Indonesia membutuhkan pemimpin yang berhati gajah: kuat namun rendah hati, tegas namun penuh welas asih. Dari solidaritas, kita meneguhkan harapan bahwa politik masih dapat menjadi jalan mulia untuk merawat Indonesia sebagai rumah bersama.



