Pentingnya Menabung dan Mengatur Keuangan Berdasarkan Usia
JAKARTA – Banyak orang merasa gaji yang baru masuk selalu cepat habis. Data menunjukkan bahwa lebih dari 55% masyarakat Indonesia jarang menabung, dan yang memiliki tabungan pun rata-rata hanya cukup untuk hidup selama tiga bulan.
Karena itu, penting memahami berapa persen gaji yang sebaiknya disisihkan di setiap fase usia agar kondisi finansial tetap sehat dan masa depan lebih aman.
Apa Itu Saving Rate?
Saving rate adalah persentase penghasilan yang berhasil disisihkan setiap bulan. Contohnya, jika penghasilan Rp10 juta dan yang ditabung Rp2 juta, berarti saving rate mencapai 20%. Saving rate menentukan seberapa cepat seseorang dapat mencapai kebebasan finansial. Semakin besar saving rate, semakin cepat tujuan itu tercapai.
Estimasi waktu mencapai kebebasan finansial berdasarkan saving rate:
– 10%: lebih dari 50 tahun
– 20%: sekitar 37 tahun
– 50%: sekitar 17 tahun
– 70%: sekitar 8,5 tahun
Dari data tersebut terlihat jelas bahwa meningkatkan saving rate memberikan dampak besar terhadap masa depan finansial.
Konsep Tiga Warna Uang
Untuk membantu mengatur pengeluaran, ada metode sederhana yang disebut three colors of money. Setiap kali penghasilan masuk, langsung pisahkan menjadi tiga kategori berikut:
-
Uang Hijau – Kenyamanan
Digunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari seperti listrik, belanja, makan, transportasi, hingga hiburan.
-
Uang Biru – Keamanan
Dialokasikan untuk dana darurat dan proteksi. Uang ini harus mudah diakses ketika terjadi keadaan tak terduga.
-
Uang Merah – Pertumbuhan
Dialirkan ke instrumen investasi untuk meningkatkan kekayaan jangka panjang. Uang merah tidak boleh dibiarkan mengendap, tapi harus “bekerja”.
Porsi Menabung Berdasarkan Usia
Usia 20-an: Membangun Dasar Keuangan
Fase awal karier sering kali diwarnai dengan godaan konsumsi, sehingga pengeluaran mudah melebar. Agar stabilitas keuangan terbentuk sejak dini, berikut panduan proporsi:
– 70% uang hijau – biaya hidup, transportasi, makan, dan aktivitas sosial.
– 20% uang biru – fokus membangun dana darurat minimal 3 bulan biaya hidup.
– 10% uang merah – mulai belajar investasi dengan instrumen yang relatif aman.
Kunci utama usia 20-an:
– Tingkatkan pendapatan melalui peningkatan skill.
– Kendalikan gaya hidup agar tidak menghabiskan semua penghasilan.
– Bentuk dana darurat minimal 3 bulan biaya hidup.
– Biasakan diri berinvestasi meski nominalnya kecil.
Usia 30-an: Membangun Fondasi Besar Keluarga
Di usia ini biasanya sudah ada tanggung jawab lebih besar, seperti pernikahan, pendidikan anak, atau cicilan rumah. Dengan asumsi penghasilan keluarga Rp20 juta, proporsinya:
– 60% uang hijau – biaya keluarga dan cicilan.
– 15% uang biru – target dana darurat naik menjadi 6 bulan biaya hidup.
– 25% uang merah – porsi besar ini penting untuk mulai mencicil dana pensiun dan dana pendidikan anak.
Kunci utama usia 30-an:
– Jaga agar gaya hidup tidak naik terlalu cepat.
– Pastikan dana darurat mencapai 6 bulan biaya hidup.
– Tingkatkan porsi uang merah hingga 25%.
Usia 40-an: Masa Akselerasi Finansial
Penghasilan biasanya berada di puncak, tetapi pengeluaran juga meningkat. Pada fase ini waktu compounding semakin menyempit sehingga saving rate harus dinaikkan. Dengan asumsi penghasilan keluarga Rp30 juta:
– 50% uang hijau
– 10% uang biru – dana darurat ideal: 1 tahun biaya hidup.
– 40% uang merah – porsi besar ini mutlak untuk mengejar dana pensiun.
Kunci utama usia 40-an:
– Pastikan dana darurat minimal 1 tahun.
– Evaluasi dana pensiun, idealnya sudah setara beberapa tahun biaya hidup.
– Tingkatkan saving rate menjadi minimal 40%.
Usia 50-an: Mengubah Aset Menjadi Arus Kas
Di fase ini fokus utama bukan lagi membangun dari awal, tetapi memastikan aset dapat menghasilkan passive income yang stabil. Idealnya, total aset produktif sudah mencapai 10 kali biaya hidup tahunan.
Contoh: biaya hidup Rp20 juta per bulan → Rp240 juta per tahun → aset produktif ideal minimal Rp2,4 miliar. Dengan return 5% per tahun, aset tersebut dapat menghasilkan passive income sekitar Rp10 juta per bulan. Dengan asumsi penghasilan dan passive income total Rp35 juta:
– 45% uang hijau
– 5% uang biru – hanya untuk top-up dana darurat.
– 50% uang merah – dialihkan pada instrumen yang lebih stabil serta menghasilkan arus kas.
Kunci utama usia 50-an:
– Pastikan aset produktif minimal 10× biaya hidup tahunan.
– Prioritaskan instrumen yang menghasilkan passive income.
– Pertahankan dana darurat.
Menempatkan Uang Biru dan Uang Merah
Uang biru membutuhkan instrumen yang likuid, aman, dan mudah diakses, seperti tabungan, deposito jangka pendek, atau instrumen pasar uang lain. Uang merah diarahkan ke instrumen yang sesuai dengan usia:
– Usia muda: instrumen pertumbuhan seperti saham atau reksa dana saham.
– Usia lanjut: instrumen yang stabil dan menghasilkan arus kas, seperti obligasi atau deposito berimbal hasil tetap.
Menabung dan berinvestasi bukan sekadar menyisihkan uang, tetapi membangun struktur finansial yang stabil dan siap menghadapi perubahan di setiap fase kehidupan. Dengan menerapkan porsi yang jelas untuk uang hijau, biru, dan merah, perjalanan menuju kebebasan finansial menjadi lebih terarah dan realistis.












