Perjalanan Duka Karina Ranau Setelah Kehilangan Epy Kusnandar
JAKARTA – Sebulan setelah kepergian Epy Kusnandar, sang suami yang dikenal sebagai pemeran “Kang Mus” dalam serial Preman Pensiun, Karina Ranau masih merasakan rasa sedih yang mendalam. Ia terlihat sangat rapuh dalam menghadapi masa-masa ini, bahkan sampai membagikan perasaannya melalui akun media sosial pribadinya.
Dalam unggahan terbarunya, Karina menampilkan foto dirinya yang duduk lemas di samping makam suaminya di bawah guyuran hujan deras. Di dalamnya, ia menyampaikan curahan hati yang sangat menyentuh dan menyayat hati. Baginya, kepergian suaminya terasa seperti mimpi buruk yang ingin segera berakhir.
Ia menulis:
“Assalamualaikum Papi… Apa kabar? Hari ini satu bulan satu hari Papi ninggalin kami… Pi rasa ny masih belum percaya kamu pergi… Kenapa kamu gak bilang bilang pih, kenapa tanda tanda kamu mau pergi baru di rasakan setelah kamu udah gak ada? Bangunin aku dari mimpi ini papi…”
Karina juga menyampaikan betapa sulitnya hidup tanpa adanya sosok belahan jiwanya tersebut. Meski ia mencoba untuk tegar di hadapan orang lain, tubuhnya tetap merasa rapuh dan sering menitikkan air mata ketika mengenang sang suami.
“Bunda ingin sekali Ikhlas, bangkit melanjutkan hidup seolah olah bunda baik baik saja, tapi tubuh ku yang kecil, yang mungil ini yang kamu kagumi rasanya hampa tak berdaya kehilangan arah, Pi izin aku menikmati proses ini hingga bisa tersenyum dan ikhlas…”
Ia juga mengungkapkan kerinduan akan rutinitas bersama suaminya, seperti berbicara, saling berdebat, atau bahkan mengeluh tentang pekerjaan suaminya. Semua hal itu kini tidak lagi bisa dilakukan.
“Bunda kangen kita bercerita, menghabiskan waktu, saling berdebat, kangen ngomelin ngocehin kamu marahin kamu, ngurus-ngurus semua project-project kamu, kangen ngegosip sama kamu, semua ini tidak akan pernah lagi terwujud.”
Perasaan kesedihan semakin dalam ketika Karina mengajukan pertanyaan yang menyentuh:
“Gimana rasanya Mati Pih? Jawab dong…”
Ia juga mengenang momen pertemuan pertama mereka 20 tahun yang lalu dalam sebuah karya Aris Nugraha berjudul Kejar Kusnadi. Saat itu, cintanya sempat diragukan oleh orang tua. Namun, ia tetap bertahan karena cinta yang besar.
Yang lebih mengharukan adalah pengakuan bahwa nama “Karina Ranau” sebenarnya diberikan oleh suaminya sendiri. Ia merasa sangat berterima kasih atas pemberian nama tersebut.
“O ya Pi, kamu gak lupa kan, di pertama kali kita ketemu? di mana kamu jatuh cint sama anak umak dan ubak yang dulu meragukan cintamu? Makasih ya nama KARINA RANAU kamu yang ciptain nama ini, padahal bukan nama ku yang sesungguh nya, tapi aku suka…”
Ia juga menyebut bahwa keduanya harus berpisah dalam karya Aris Nugraha Preman Pensiun.
Menutup pesannya, Karina menyampaikan rasa bangganya menjadi istri dari seorang legenda seperti Epy Kusnandar. Ia menganggap suaminya sebagai sosok yang telah mendedikasikan hidupnya untuk dunia seni peran.
“Terbang yang tinggi Hai Epy kusnandar. KARINA RANAU bangga punya suami EPY KUSNANDAR yang di sebut mereka Kang Mus sang Legend. Terimakasih Uwak sudah menjadi saksi Cinta kami hingga akhir hayat dan mengantarkan Sang Preman yang kini benar benar PENSIUN. Pasti kamu lagi ngetawain Bunda ya, nengok kamu hujan hujanan gini terus bikin konten, iya kan, kan kata kamu harus totalitas.”
Unggahan tersebut langsung mendapat respons positif dari netizen dan rekan sesama artis yang memberikan dukungan dan doa agar Karina dapat segera melewati masa-masa sulit ini.
Kronologi Kematian Epy Kusnandar
Putra dan adik Epy Kusnandar, Damar Rizal Marzuki serta Deniar Hendarsah menjelaskan kondisi sang aktor sejak pagi hingga detik-detik terakhirnya. Menurut Damar, penyakit yang menyerang Epy berkaitan dengan otak. Penyakit ini bisa terjadi secara tiba-tiba, mirip dengan penyakit jantung.
Selama beberapa minggu terakhir, almarhum sering mengeluhkan sakit kepala dan kelelahan akibat aktivitas yang padat. Bahkan, ia pernah pingsan beberapa kali, namun tidak ingin dibawa ke rumah sakit.
“Papap itu kalau sudah baikan, langsung bercanda lagi. Enggak mau membebani siapapun,” ujarnya.
Akhirnya, sang istri menemukan Epy dalam kondisi terjatuh di lantai kamar, di samping kasur, dan sudah dalam keadaan muntah serta tidak sadarkan diri. Damar menjelaskan bahwa Epy kemungkinan pingsan saat sedang tidur.
Setelah ditemukan, keluarga segera membawanya ke RS PON. Namun, Epy sudah tidak merespons dan hanya bertahan dengan bantuan oksigen.
Adik Epy, Deniar, menjelaskan bahwa dokter menyatakan ada penyumbatan pembuluh darah pada batang otak. Batang otak merupakan pusat kontrol kehidupan seperti gerak dan napas. Meskipun hanya satu pembuluh yang tersumbat, kondisi tersebut sangat kritis.
Rencana operasi tidak memungkinkan karena kondisi tubuh Epy semakin kritis. Dalam keadaan semi-koma, keluarga dan kerabat sudah berkumpul di ruang perawatan untuk memberikan semangat dan doa.
Namun, takdir berkata lain. Pada pukul 14.24 WIB, detak jantung Epy Kusnandar dinyatakan berhenti. Dengan demikian, ia meninggalkan seluruh keluarga dan kerabat.











