Ragam  

Bukan Hanya Bagi Angpao, Ini 7 Makna Mendalam di Balik Tradisi Imlek

Tradisi dan Makna Filosofis di Balik Perayaan Tahun Baru Imlek

JAKARTA – Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2026, suasana penuh kegembiraan dengan dominasi warna merah sudah mulai terasa di berbagai sudut kota. Bagi masyarakat Tionghoa, Imlek tidak hanya sekadar pesta pergantian tahun, tetapi juga momen penting yang penuh makna filosofis.

Dalam setiap ritual yang dilakukan, mulai dari menyantap hidangan lezat hingga berbagi amplop merah, tersimpan nilai-nilai kehidupan yang mendalam.

Seorang dosen Program Studi Bahasa Mandarin Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Monika Herliana, menjelaskan bahwa dalam tradisi Tiongkok, Imlek dianggap sebagai hari pergantian tahun yang paling penting dan sering dirayakan bersama keluarga serta kerabat dekat. Berikut adalah beberapa tradisi unik dan maknanya yang sering dilakukan selama perayaan Imlek:

1. Tradisi Bagi-bagi Angpao

Momen ini selalu dinanti-nanti oleh anak-anak dan mereka yang belum menikah. Amplop merah atau hong bao menjadi primadona dalam perayaan ini. Menurut Monika, pemberian uang dalam amplop merah dari orang tua kepada anak cucu bukan hanya sekadar uang jajan, melainkan simbol doa agar penerima mendapatkan keberuntungan dan kesejahteraan di tahun baru.

2. Ajang Silaturahmi Keluarga

Imlek menjadi waktu yang tepat untuk menghabiskan quality time bersama keluarga. Mengunjungi rumah sanak saudara menjadi agenda wajib yang tak boleh terlewatkan. Tujuan utamanya adalah memberikan salam dan ucapan selamat Imlek kepada keluarga dan kerabat dekat.

3. Ritual Lilin dan Dupa

Aroma dupa dan cahaya lilin sering kali menghiasi klenteng maupun rumah-rumah warga Tionghoa. Aktivitas spiritual ini memiliki tujuan untuk menolak bala dan keburukan sekaligus menjadi simbol harapan menyambut nasib baik di lembaran tahun yang baru.

4. Pesta Kembang Api

Suara ledakan kembang api yang meriah bukan hanya untuk tontonan semata. Secara budaya, suara gaduh dan percikan api ini dipercaya ampuh untuk menakuti dan mengusir roh-roh jahat yang ingin mengganggu, sehingga jalan menuju keberuntungan semakin terbuka lebar.

5. Bersih-bersih Rumah dan Baju Baru

Penampilan baru dan semangat baru. Membeli pakaian anyar dimaknai sebagai ekspresi sukacita menyambut tahun baru. Selain itu, ritual membersihkan rumah secara menyeluruh sebelum hari H juga sangat penting. Tujuannya adalah membuang segala kesialan tahun lalu dan menyiapkan ruang bersih untuk menampung hoki tahun ini.

Ada pantangan unik terkait hal ini. Masyarakat Tionghoa dilarang menyapu rumah tepat pada hari H Imlek karena dipercaya tindakan itu justru akan “menyapu” rezeki dan keberuntungan ke luar rumah.

Tak lupa, dekorasi serba merah wajib dipasang, mulai dari mengecat ulang pintu hingga menempelkan kertas doa. Hal ini senada dengan kepercayaan bahwa warna merah melambangkan kesejahteraan dan keberuntungan.

6. Sajian Kuliner Pembawa Hoki

Meja makan saat Imlek tak pernah sepi dari hidangan lezat. Salah satu yang ikonik adalah pangsit dan tangyuan (bola tepung beras isi kacang). Menurut Monika, bentuk pangsit yang mirip uang perak zaman dulu menjadikannya simbol kekayaan dan kesejahteraan.

7. Kue Keranjang dan Jeruk

Imlek rasanya kurang afdol tanpa kehadiran kue keranjang dan buah jeruk. Kue bertekstur lengket yang juga dikenal sebagai Nian Gao ini punya makna mendalam. Kue keranjang dinilai sebagai simbol kemakmuran dan kekayaan lantaran bentuknya menyerupai keranjang yang penuh.

Selain itu, menyantap kue ini diyakini sebagai doa agar karier dan kehidupan seseorang terus menanjak, karena kue beras ini dianggap sebagai simbol kesuksesan dan kenaikan karier.

Itulah deretan makna di balik tradisi Imlek yang penuh harapan baik. Setiap aktivitas yang dilakukan bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga bagian dari kepercayaan dan harapan untuk tahun yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *