Peran Busana dalam Masyarakat Jawa Kuno
JAKARTA – Sejak zaman dahulu, masyarakat Jawa telah memiliki sistem berpakaian yang sangat bermakna. Pakaian bukan hanya sekadar alat penutup tubuh, tetapi juga menjadi simbol identitas, nilai sosial, dan status dalam struktur masyarakat yang hierarkis.
Dalam peradaban Jawa Kuno, cara berkain mencerminkan posisi seseorang di dalam masyarakat. Tidak semua orang boleh mengenakan jenis kain tertentu, dan cara melilitnya serta jumlah lapisan kain yang digunakan juga memiliki aturan yang sudah diterima secara umum.
Strata Sosial dan Pengaruhnya pada Busana
Menurut Dosen Pendidikan Bahasa Jawa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Suryo Bintoro, S.Pd., M.Pd., sejak abad ke-9 hingga ke-15, masyarakat Jawa sudah mengenal stratifikasi sosial yang kuat. Struktur tersebut terbagi atas raja, kerabat atau bangsawan, dan kawula atau rakyat biasa. Pembagian ini tidak hanya terlihat dalam sistem pemerintahan, tetapi juga tercermin jelas dalam budaya berpakaian.
Golongan atas memiliki busana dengan bentuk, lapisan, dan aksesori tertentu yang tidak bisa ditiru sembarangan oleh rakyat biasa. Cara berpakaian sudah terstratifikasi, dengan golongan atas, menengah, dan bawah memiliki ciri masing-masing. Rakyat biasa tidak hanya tidak mampu, tetapi juga enggan menyamai busana kalangan elite.
Keterbatasan Teknik Jahitan dan Cara Berpakaian
Pada masa itu, masyarakat Jawa Kuno belum mengenal teknik menjahit seperti sekarang. Busana sepenuhnya mengandalkan kain yang dililit, dilipat, atau diikat dengan teknik tertentu. Relief-relief di Candi Borobudur dan Prambanan menjadi bukti visual praktik tersebut.
Banyak figur laki-laki dan perempuan digambarkan bertelanjang dada (topless), dengan kain yang menutup bagian tubuh bawah. Kain yang digunakan pun beragam, baik dari segi ukuran maupun fungsi. Ada kain panjang hingga mata kaki, ada pula kain pendek yang hanya menutup bagian tertentu. Semuanya disesuaikan dengan kebutuhan, jenis kelamin, dan status sosial pemakainya.
Istilah Kain dalam Jawa Kuno
Dalam berbagai prasasti dan naskah kuno, dikenal sejumlah istilah kain yang kini mulai jarang terdengar. Beberapa di antaranya adalah tapih, sinjang, dan hules. Hules, misalnya, merujuk pada kain besar yang digunakan untuk menutupi tubuh atau membungkus barang, mirip konsep “kemasan” tradisional pada masa itu.
Sementara itu, sinjang masih dikenal hingga kini, terutama dalam busana adat Jawa untuk acara tertentu. Untuk bagian atas tubuh, dikenal istilah kalambi atau kelambi, yang kemudian berkembang menjadi bentuk penutup tubuh sederhana.
Perbedaan Busana Laki-Laki dan Perempuan
Cara berkain antara laki-laki dan perempuan juga dibedakan secara jelas. Perempuan umumnya menggunakan kemben, nyamping, atau sinjang, sementara laki-laki mengenakan bubet, lancingan, hingga cawat atau kupina. Cawat sendiri merupakan kain kecil yang dililit untuk menutup area vital.
Meski kini dianggap tabu untuk dibicarakan secara terbuka, dalam konteks Jawa Kuno, cawat adalah bagian wajar dari busana sehari-hari, terutama bagi rakyat biasa atau pekerja. “Cawat sudah disebut dalam catatan dan relief. Itu cara orang Jawa Kuno melindungi bagian sensitif tubuh sebelum mengenal pakaian berjahit,” kata Suryo.
Jejak Budaya Berpakaian Jawa Kuno
Meski zaman telah berubah, jejak peradaban kain Jawa Kuno masih dapat dirasakan hingga sekarang. Teknik melilit kain, penggunaan sinjang, hingga konsep layering kain masih lestari dalam busana adat maupun tradisi di sejumlah daerah. Bahkan, beberapa bentuk busana modern dinilai memiliki kemiripan dengan konsep berpakaian masa lalu, meski dengan fungsi dan estetika yang berbeda.
Hal ini menunjukkan bahwa budaya berpakaian Jawa bersifat adaptif, namun tetap berakar pada nilai-nilai lama. Lebih dari sekadar kain, busana dalam masyarakat Jawa Kuno adalah cermin tata sosial, etika, dan kesadaran akan posisi diri. Dari kemben hingga cawat, setiap lilitan kain menyimpan cerita tentang bagaimana manusia Jawa memahami tubuh, lingkungan, dan tatanan hidup bersama.












