DBD Mengancam Saat Hujan, Ini Tanda dan Pencegahannya

Perubahan Cuaca dan Meningkatnya Kasus DBD di Indonesia

JAKARTA – Perubahan cuaca yang tidak menentu membuat pola musim hujan sulit diprediksi. Hal ini berdampak pada meningkatnya risiko penyakit berbasis lingkungan, termasuk Demam Berdarah Dengue (DBD). Penyakit ini menjadi ancaman serius bagi masyarakat Indonesia.

Hingga 28 Juli 2025, Kementerian Kesehatan RI mencatat sebanyak 95.018 kasus dengue dengan jumlah kematian mencapai 398 orang. Kasus tersebut tersebar di 460 kabupaten/kota dari 34 provinsi, menunjukkan bahwa DBD masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat secara luas.

Kasus DBD sering terjadi di wilayah padat penduduk, terutama di kawasan perkotaan dan semi-perkotaan. Faktor utama yang memicu penyebaran adalah keterbatasan akses informasi kesehatan serta lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk penular dengue.

DBD disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini banyak ditemukan di daerah tropis dan subtropis seperti Indonesia, terutama di lingkungan rumah yang lembap dan minim sirkulasi udara.

Sebagian infeksi dengue hanya menimbulkan gejala ringan atau bahkan tanpa gejala. Namun, dalam kondisi tertentu, penyakit ini dapat berkembang menjadi lebih berat dan menyebabkan komplikasi serius hingga kematian.

Gejala DBD biasanya tidak langsung muncul setelah terinfeksi. Tanda-tanda awal biasanya muncul antara 4–10 hari setelah gigitan nyamuk pembawa virus. Beberapa gejala umum yang sering muncul antara lain:

  • Demam tinggi hingga 39–40 derajat Celsius
  • Sakit kepala dan nyeri di belakang mata
  • Nyeri otot dan sendi
  • Mual, muntah, dan ruam kemerahan pada kulit

Penurunan demam tidak selalu berarti kesembuhan. Dalam beberapa kasus, fase ini justru menandai masuknya penyakit ke tahap kritis. Pada tahap ini, kebocoran pembuluh darah dapat terjadi, menyebabkan penurunan jumlah trombosit. Kondisi ini berisiko memicu perdarahan, kerusakan organ, hingga dengue shock syndrome (DSS) yang mengancam nyawa.

Masyarakat perlu waspada terhadap tanda-tanda bahaya yang menunjukkan kondisi darurat dan memerlukan penanganan medis segera. Beberapa tanda tersebut antara lain:

  • Muntah terus-menerus
  • Mimisan atau gusi berdarah
  • Darah pada muntahan, tinja, atau urin
  • Sesak napas, lemas, dan gelisah

Saat ini belum ada pengobatan khusus untuk menyembuhkan dengue. Penanganan utama fokus pada deteksi dini, pemantauan ketat, dan akses cepat ke fasilitas kesehatan. Pencegahan DBD tetap menjadi prioritas utama, terutama melalui pengendalian vektor nyamuk.

Salah satu cara pencegahan yang paling efektif adalah penerapan gerakan 3M Plus di lingkungan sekitar. Berikut langkah-langkahnya:

  • Menguras tempat penampungan air secara rutin
  • Menutup rapat wadah air dan mengubur barang bekas
  • Mendaur ulang limbah yang berpotensi menjadi sarang nyamuk

Selain itu, langkah tambahan atau “Plus” juga penting dilakukan. Contohnya adalah memelihara ikan pemakan jentik, memasang kawat kasa, memperbaiki saluran air, hingga menggunakan larvasida pada tempat yang sulit dibersihkan.

DBD masih menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia. Oleh karena itu, kewaspadaan sejak dini melalui pengenalan gejala, pemeriksaan medis tepat waktu, dan menjaga kebersihan lingkungan menjadi kunci untuk mencegah kondisi yang lebih berat.