Aturan Minum Obat 3×1 yang Harus Diketahui
JAKARTA – Minum obat dengan dosis tiga kali sehari atau 3×1 adalah hal yang umum diberikan oleh dokter kepada pasien. Namun, seringkali masyarakat kurang memahami betul bagaimana cara mengonsumsi obat tersebut secara tepat. Hal ini bisa berdampak buruk terhadap efektivitas pengobatan dan kesehatan secara keseluruhan.
Biasanya, obat yang diresepkan 3×1 dikonsumsi pagi, siang, dan malam hari. Tapi, banyak orang mengalami kesulitan dalam menentukan jadwal yang tepat. Misalnya, jika seseorang makan pagi pukul 08.00, maka obat akan diminum setelah makan. Di siang hari, obat mungkin diminum setelah makan siang, lalu di malam hari setelah makan malam. Jarak waktu antar minum obat seperti ini seringkali tidak konsisten, sehingga bisa mengurangi efektivitas obat.
Menurut Prof. apt. Zullies Ikawati, Ph.D dari Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), aturan 3×1 artinya obat diminum satu tablet atau kapsul sebanyak tiga kali dalam sehari. Tujuannya adalah agar kadar obat di dalam tubuh tetap stabil, sehingga obat dapat bekerja secara optimal.
Waktu Ideal untuk Minum Obat 3×1
Zullies menjelaskan bahwa idealnya obat 3×1 harus diminum setiap 8 jam sekali. Hal ini didasarkan pada pembagian 24 jam dalam sehari menjadi tiga bagian. Jeda antara satu kali minum obat ke kali berikutnya sebaiknya sekitar 8 jam. Meski sedikit lebih cepat atau lebih lambat (7-9 jam) masih bisa ditoleransi, tetapi perlu dijaga agar tidak terlalu dekat atau terlalu jauh.
Contoh jadwal yang disarankan adalah sebagai berikut:
- Pagi: sekitar pukul 06.00–07.00
- Siang: sekitar pukul 14.00–15.00
- Malam: sekitar pukul 22.00–23.00
Jika seseorang mengonsumsi obat pada pukul 07.00, 15.00, dan 23.00, itu masih dianggap baik dan konsisten. Untuk memudahkan, Zullies juga menyarankan jadwal dengan selang 7 jam, seperti pukul 06.00, 13.00, dan 20.00.
Dampak Jika Obat Diminum Tidak Sesuai Jadwal
Minum obat dengan dosis 3×1 bertujuan untuk menjaga kadar obat di dalam tubuh tetap stabil sepanjang hari. Jika jeda antar minum obat terlalu pendek atau terlalu panjang, efeknya bisa sangat berbahaya.
Jika obat diminum terlalu cepat, kadar obat dalam darah bisa terlalu tinggi, menyebabkan efek samping seperti mual, pusing, atau iritasi lambung. Sebaliknya, jika jeda terlalu lama, kadar obat bisa turun terlalu rendah, sehingga obat tidak bekerja secara optimal. Ini bisa menyebabkan penyakit tidak sembuh atau gejala kambuh.
Selain itu, ketidakkonsistenan dalam mengonsumsi obat bisa membuat terapi tidak efektif. Pada obat antibiotik, hal ini bisa menyebabkan kuman tidak mati sempurna dan berkembang menjadi resisten terhadap antibiotik. Sementara itu, pada obat untuk penyakit kronis seperti tekanan darah tinggi, diabetes, atau asma, ketidakkonsistenan bisa menyebabkan kondisi kesehatan tidak terkontrol.
Tips untuk Mengikuti Jadwal Minum Obat
Untuk memastikan obat diminum sesuai jadwal, pasien disarankan untuk membuat jadwal harian yang rapi. Bisa menggunakan alarm ponsel atau aplikasi pengingat. Selain itu, penting untuk tidak mengubah jadwal tanpa konsultasi dengan dokter. Konsistensi dalam mengonsumsi obat adalah kunci keberhasilan pengobatan.












