Teori Baru tentang Persebaran Manusia Purba dari Nusantara
JAKARTA – Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, mengemukakan teori baru yang menantang pendapat umum mengenai asal usul manusia purba. Menurutnya, persebaran manusia di seluruh dunia tidak dimulai dari Afrika seperti yang selama ini dipercaya, melainkan bermula dari kawasan Nusantara.
“Manusia purba Nusantara mungkin berekspansi melalui jalur laut, bukan hanya berjalan menyusuri benua seperti yang sering dibahas dalam teori out of Africa. Gagasan out of Nusantara semakin kuat dengan adanya bukti-bukti yang menunjukkan bahwa persebaran manusia purba tidak hanya bersifat satu arah dari Afrika, tetapi bisa justru bermula dari wilayah Nusantara,” ujar Fadli Zon saat membuka konferensi internasional Persatuan Ilmuwan Prasejarah dan Protosejarah (UISPP) Inter-Regional Conference 2025 di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga.
Bukti-Bukti yang Mendukung Teori Out of Nusantara
Fadli Zon menjelaskan bahwa Nusantara memiliki peran penting dalam sejarah peradaban manusia. Salah satu buktinya adalah kehidupan Homo erectus, yang ditemukan oleh Eugene Dubois di Bengawan Solo. Fosil tersebut akhirnya dipulangkan dari Belanda ke Indonesia pada bulan September lalu.
Selain itu, terdapat temuan peradaban purba di berbagai wilayah Indonesia. Contohnya, lukisan naratif tertua di dunia yang ditemukan di gua Leang Karampuang, Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan. Lukisan ini berusia sekitar 51.200 tahun dan menggambarkan hewan, figur manusia, serta interaksi antar tokoh, bahkan gambar perahu-perahu yang menunjukkan kemampuan bercerita visual lebih dari 51 milenium lalu.
Jejak awal Homo sapiens lebih dari 60.000 tahun lalu di Gua Lida Ajer, Sumatra Barat, juga menjadi bukti bahwa manusia modern mampu hidup dan beradaptasi di ekosistem hutan hujan tertutup, bukan hanya sabana terbuka. Sementara itu, Gua Harimau di Sumatra Selatan memperlihatkan kesinambungan budaya dari sekitar 22.000 tahun lalu dengan temuan tembikar, alat tulang, logam tembaga, perunggu, dan besi awal dari abad ke-4 SM hingga abad ke-1 M. Bahkan, ditemukan pula jejak penyakit anemia dan malaria pada manusia purba di sana.
Situs-Situs Budaya yang Mengungkap Sejarah Maritim Nusantara
Bentang karst Sangkulirang–Mangkalihat di Kalimantan Timur menyimpan ribuan gambar purba yang bercerita tentang perburuan, tari, hingga ritual kolektif. Situs ini tengah diajukan Indonesia untuk pengakuan Warisan Dunia UNESCO sebagai lanskap budaya-alam bernilai universal.
Salah satu bukti paling kuat adalah gua Liang Kobori di kawasan karst Muna, Sulawesi Tenggara. Di sini, ditemukan lukisan yang merekam perahu, perburuan kolektif di perairan, dan penggembalaan hewan. Ini menunjukkan bahwa manusia awal di Nusantara sudah dapat mengarungi lautan dan memiliki tradisi maritim.
Lukisan-lukisan purba ini juga mencerminkan memori visual dunia maritim Austronesia yang nantinya turut membentuk identitas kepulauan Asia Tenggara dan Indo-Pasifik.
Peradaban yang Kompleks dan Kemampuan Berkeliling Dunia
Menurut Fadli Zon, manusia purba di kawasan yang kini disebut Indonesia telah membentuk peradaban, mampu bercerita, melakukan pemakaman dengan hormat, memiliki teknologi logam, memetakan ruang sakral, dan mengarungi lautan. Mereka beremigrasi dan merantau ke berbagai penjuru dunia.
“Inilah mengapa kami menyebut Indonesia sebagai salah satu arsip peradaban tertua umat manusia,” kata Fadli Zon.
Konferensi internasional ini dihadiri oleh peneliti dan pemangku kebijakan dari 40 negara, berlangsung di Museum Manusia Purba Sangiran dan Museum Ullen Sentalu Yogyakarta dari 27 Oktober hingga 6 November 2025. Acara ini menjadi wadah untuk memperkuat perspektif baru tentang sejarah manusia purba dan peran Nusantara dalam peradaban global.






