Jalan Pantura Tegal-Pemalang Terendam Banjir, Antrean Kendaraan Mengular Lalu Lintas Nyaris Lumpuh

Banjir Pantura Tegal Pemalang
Kendaraan mogok saat menerobos Jalan Pantura yang banjir di Desa Kedungkelor, Kecamatan Warureja, Kabupaten Tegal. (Foto: Istimewa)

TEGAL – Jalur nasional pantura di perbatasan Kabupaten Tegal dan Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah terendam banjir, Senin (16/2/2025). Banjir ini menyebabkan arus lalu lintas di jalur penghubung antara Kabupaten Tegal dan Kabupaten Pemalang nyaris lumpuh.

Antrean kendaraan dari arah Tegal menuju timur atau Pemalang maupun sebaliknya terlihat mengular. Sejumlah sepeda motor dan mobil kecil mogok saat nekat menerobos genangan air. Titik banjir terparah nampak di Jalan Pantura tepatnya di wilayah Desa Kedungkelor, Kecamatan Warureja, Tegal.

Air mulai menggenangi jalur pantura sekitar pukul 05.30 WIB dan terus meningkat hingga pukul 08.00 WIB. Hingga siang hari, debit air belum menunjukkan tanda-tanda surut. Dua jalur Pantura tertutup air sepanjang sekitar 300 meter, mulai dari kawasan Masjid Baitul Ashfiya Kedungkelor hingga mendekati perbatasan Tegal–Pemalang di sekitar Rumah Makan Luwes.

Sejumlah pengendara mengaku khawatir saat melintasi genangan. Sopir travel jurusan Tegal–Semarang, Roni (34), mengaku harus mengantre hampir satu jam. “Air sempat masuk hingga ke bagian bawah pintu kendaraan sehingga berisiko menyebabkan mesin mogok,” kata Roni.

Pengalaman serupa dialami Anton, pengendara sepeda motor asal Dampyak, Tegal. Motor metik miliknya sempat tersendat saat melewati genangan terdalam karena derasnya arus dan air keruh yang menutup lubang jalan. Ia juga melihat banyak kendaraan mogok hingga harus didorong secara gotong royong oleh warga dan pengendara lain.

Selain melumpuhkan jalur nasional, banjir juga merendam ratusan rumah warga Kedungkelor. Ketinggian air di dalam rumah bervariasi antara 50 sentimeter hingga lebih dari satu meter. Puluhan hektare lahan persawahan di desa tersebut dan wilayah sekitar turut terdampak.

Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Kedungkelor, Arif Nurdin mengatakan ketinggian air meningkat cukup cepat. “Awalnya genangan hanya berada di bawah mata kaki, namun dalam beberapa jam meningkat hingga setinggi lutut orang dewasa,” kata Arif kepada wartawan.

Menurut Arif, banjir terjadi akibat kiriman air dari wilayah selatan serta luapan Sungai Rambut yang menjadi batas wilayah Kedungkelor, Tegal, dan Desa Pelawangan, Pemalang. Kondisi drainase yang rusak dan tersumbat turut memperparah genangan.

Sejak pagi, Arif bersama aparat TNI dan warga setempat turun langsung membantu mengatur arus lalu lintas. Meski upaya pengaturan telah dilakukan hingga sekitar pukul 10.30 WIB, kondisi jalan masih tergenang dan kemacetan belum terurai.

Warga masih berupaya menyelamatkan barang berharga dari dalam rumah. Hingga siang hari, belum ada laporan korban jiwa maupun luka, namun kerugian material diperkirakan cukup besar dan masih dalam proses pendataan. Arif berharap pemerintah daerah, provinsi, hingga pusat segera melakukan penanganan serius.