Jalan Sepeda Jakarta Terancam Hilang

Jalur Sepeda di Jakarta, Ruang yang Tidak Lagi Aman

JAKARTA – Di sejumlah ruas jalan di Jakarta, jalur sepeda berwarna hijau yang awalnya dirancang sebagai ruang aman bagi pesepeda kini sering kehilangan fungsi dasarnya.

Alih-alih menjadi lintasan khusus, jalur tersebut justru berubah menjadi jalur alternatif bagi sepeda motor yang ingin menghindari kemacetan. Fenomena ini terlihat hampir sepanjang hari, terutama pada jam-jam sibuk pagi dan sore.

Pantauan di kawasan pusat kota hingga jalan arteri menunjukkan bahwa sepeda motor melintas dengan leluasa di jalur sepeda meski sesekali pesepeda tengah melintas.

Beberapa pengendara melaju perlahan, namun tak sedikit pula yang memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi. Kondisi ini membuat pesepeda berada dalam posisi rawan, meskipun secara fisik jalur tersebut telah diberi marka dan rambu peruntukan.

Secara visual, jalur sepeda masih tampak utuh dengan cat hijau yang membentang sejajar dengan badan jalan. Namun dalam praktiknya, batas antara ruang pesepeda dan kendaraan bermotor semakin kabur. Jalur yang seharusnya steril justru menjadi ruang berbagi paksa yang penuh risiko.

Pengalaman Pesepeda yang Terus Menghadapi Ancaman

Bagi Raka (26), pesepeda yang kerap melintas di jalur sepeda kawasan Jakarta, kehadiran sepeda motor di lintasan hijau bukan lagi kejadian sporadis. Menurut dia, motor hampir selalu ada setiap kali ia bersepeda, terutama pada waktu lalu lintas padat.

“Hampir tiap saat, apalagi pas jam sibuk, itu udah pasti motor nyelonong lewat jalur sepeda. Kadang yang ojol, kadang motor (pribadi), jadi shortcut motor buat ngehindarin macet,” kata dia saat ditemui di Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (23/1/2026).

Kondisi tersebut membuat pengalamannya bersepeda berubah drastis. Alih-alih menikmati perjalanan dengan aman, Raka justru harus terus waspada terhadap kendaraan bermotor yang datang dari belakang atau dari arah berlawanan.

Masuknya sepeda motor ke jalur sepeda bukan hanya mengganggu, tetapi juga kerap menciptakan situasi berbahaya. Raka mengaku berkali-kali nyaris terlibat senggolan karena motor tiba-tiba melintas di jalur yang sama.

“Bahkan beberapa kali saya lagi sepedaan posisinya itu sendiri harus refleks rem harus sigap supaya nggak tabrakan,” kata dia.

Situasi semacam ini membuat Raka berada dalam tekanan. Dirinya harus selalu siap mengerem mendadak atau mengubah arah demi menghindari benturan. Menurut Raka, risiko kecelakaan meningkat, terutama ketika motor melaju tanpa memperhatikan keberadaan sepeda.

Jalur Khusus Sepeda Tak Lagi Aman

Meski pemerintah telah menyediakan jalur khusus, rasa aman justru tidak sepenuhnya dirasakan oleh pengguna sepeda. Keberadaan jalur fisik berwarna hijau terang tak menjamin perlindungan ketika pengendara motor bebas melintas tanpa konsekuensi.

“Jelas nggak aman. Jalur sepeda cuma formalitas doang sekarang, soalnya motor seenaknya masuk dan pesepeda harus minggir terus,” ujar dia. Raka menyebut jalur sepeda seolah hanya menjadi simbol kebijakan, bukan solusi nyata untuk keselamatan.

Dalam riuhnya lalu lintas yang padat, pesepeda kerap merasa keberadaannya tidak diakui sebagai pengguna jalan yang sah. Raka menuturkan alih-alih diprioritaskan, mereka justru harus terus mengalah. “Motor nggak ngeliat kita sah atau nggak, mereka cuma pengen lewat cepat, jadi kita harus geser-geser terus, jadi kita yang ngalah,” ungkapnya. Terpaksa Masuk ke Badan Jalan.

Raka mengakui, ketika jalur sepeda dipenuhi motor atau bahkan dijadikan lokasi parkir dadakan, pesepeda tidak memiliki banyak pilihan. Mereka terpaksa keluar dari jalur hijau dan masuk ke badan jalan yang dilalui kendaraan besar.

“Iya, otomatis. Jalur sepeda jadi ‘terpaksa’ masuk ke badan jalan, padahal itu lebih berisiko kecelakaan karena berbarengan sama kendaraan besar,” kata dia. Hal yang menurutnya justru meningkatkan potensi bahaya, mengingat perbedaan kecepatan dan ukuran kendaraan.

Teguran yang Tak Pernah Digubris

Sebagai pesepeda yang cukup vokal, Raka mengaku telah mencoba menegur pengendara motor yang melintas di jalur sepeda. Namun upaya tersebut jarang membuahkan hasil.

“Pernah beberapa kali. Biasanya yang ojol saya tegur santai aja, bilang ‘mas, jalur sepeda ya’. Ya mereka kadang cuek aja udah jalan lagi,” kata dia. Alih-alih berhenti atau keluar jalur, sebagian pengendara justru melanjutkan perjalanan.

“Biasanya cuek, jarang ada yang beneran nurut. Malah kadang tambah kenceng karena nganggepnya kita yang sepedaan di jalan raya,” ungkap dia.

Menurut Raka, faktor kemacetan dan minimnya pengawasan menjadi penyebab utama jalur sepeda terus disalahgunakan. Ketiadaan sanksi nyata membuat pelanggaran ini berlangsung berulang. Jalur sepeda berubah fungsi tanpa ada konsekuensi hukum yang jelas. Minimnya kehadiran petugas di lapangan turut memperparah situasi.

Keluhan serupa juga disampaikan Sinta (32). Ia menyebut motor hampir selalu masuk jalur sepeda setiap kali ia bersepeda. “Tiap saat setiap kita sepedaan itu udah pasti ada motor masuk jalur sepeda. Kadang yang santai, kadang yang ngebut. Kita juga nggak bisa nyalahin karena nggak ada pembatas yang jelas,” kata dia saat ditemui di kawasan Sudirman, Jumat.

Jalur Sepeda Sekadar Simbol

Bagi Sinta, jalur sepeda kini tak lebih dari simbol kebijakan tanpa pengamanan nyata. Alih-alih dihormati, pesepeda justru merasa dianggap sebagai pengganggu oleh pengendara motor. “Kayak pengganggu. Motor masuk seenaknya, jalur kita terpaksa terganggu terus,” kata dia.

Sinta mengatakan jika kondisi ini terus dibiarkan, ia memilih membatasi waktu bersepeda. “Kapok nggak kapok, karena saya sendiri emang lebih seringnya sepedaan pas CFD, kalau hari biasa jarang,” kata dia.

Alasan Efisiensi dan Waktu

Bayu (29), pengemudi ojek online mengaku sudah terbiasa melintasi jalur sepeda dalam aktivitas hariannya. Menurut dia, kebiasaan itu muncul bukan tanpa alasan, melainkan karena kondisi di lapangan yang mendukung. “Iya (tiap hari lewat jalur sepeda). Hari biasa jalur itu kosong, jarang pesepeda. Jadi ya biasa aja lewat situ,” kata dia saat ditemui di kawasan Sudirman, Jumat.

Bagi Bayu, jalur sepeda pada hari kerja tidak menunjukkan ciri sebagai ruang yang harus dihindari. Minimnya pengguna sepeda membuatnya merasa tidak sedang mengambil hak orang lain.

Menurut Bayu, di tengah tekanan waktu dan target kerja, terutama bagi pengemudi ojek online, kemacetan menjadi hambatan utama. “Ya paling gampang, soalnya jalur sepi. Motor bisa langsung lewat tanpa macet. Kalau nunggu jalan biasa, kena macet parah, rugi waktu,” katanya.

Pandangan serupa disampaikan Kamal (33), salah seorang pengendara motor. Ia mengaku menggunakan jalur sepeda hampir setiap hari saat lalu lintas padat. Baginya, jalur sepeda adalah pilihan rasional di tengah kondisi jalan yang tidak ideal. Alasannya sederhana, jalur sepeda dianggap praktis untuk menghindari kemacetan.

Dorong Penegakan dan Evaluasi Jalur Sepeda

Ketua Bike to Work Indonesia (B2W) Hendro Subroto, menilai maraknya kendaraan bermotor yang masuk ke jalur sepeda bukan sekadar persoalan perilaku pengguna jalan, melainkan menunjukkan lemahnya penegakan aturan dan pengawasan di lapangan.

Menurut dia, persoalan ini seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah sebagai pihak yang memiliki kewenangan penuh atas pengelolaan lalu lintas. Terlebih, sempat viralnya video seorang perempuan mengadang para pengendara sepeda motor yang hendak melintas di jalur sepeda.

“Jadi ya salah satu bentuk koreksi kali ya, itu kepada seluruh pengguna jalan, pada umumnya sih kepada pemerintah sebenarnya,” kata Hendro saat dihubungi, Sabtu (24/1/2026).

Ia menjelaskan, secara regulasi pesepeda sebenarnya sudah memiliki perlindungan hukum yang jelas. Namun, implementasi aturan di lapangan kerap tidak berjalan optimal karena keterbatasan petugas serta inkonsistensi dalam penindakan pelanggaran.

“Sebenernya kami sebagai pengguna jalan, dilindungi oleh undang-undang. Cuman kan kadang sering keterbatasan bahasanya menegakkan aturan itu sering ada,” ujarnya. Hendro mengatakan, B2W selama ini tidak hanya menyuarakan keluhan, tetapi juga aktif memberikan masukan kepada pemerintah daerah, khususnya Dinas Perhubungan.

“Kita juga udah sering kok motoin gitu teman-teman sepeda itu. Karena kita juga punya jalur komunikasi yang baik ya dengan Dinas Perhubungan, dengan pemerintah. Kita juga sering laporin tempat A tempat B gitu,” katanya.

Selain itu, kata Hendro, B2W juga telah menyampaikan permintaan agar pelanggaran di jalur sepeda diberikan sanksi agar menimbulkan efek jera. “Kita minta memang, kita minta tolonglah dibantu dikasih sanksi. Ya mereka jawabnya iya-iya gitu. Tapi kan faktanya nggak mudah ya,” katanya.

Ia menilai, tanpa penindakan yang konsisten, pelanggaran akan terus berulang. “Apakah ditilang, didenda, dan segala macem ya. Kalau nggak ada yang kita takuti ya berulang lah pastinya gitu ya,” kata dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *