Jatimulya Tegal Terendam Banjir, Jembatan Penghubung di Sungai Cenang Putus

Banjir Tegal
Banjir melanda Desa Jatimulya, Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah akibat meluapnya Sungai Cenang. (Foto: Istimewa)

TEGAL – Banjir melanda Desa Jatimulya, Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah akibat meluapnya Sungai Cenang, Senin (16/2/2026). Tak hanya banjir, jembatan penghubung dua pedukuhan di desa itu juga terputus pada Minggu (15/2/2026) malam akibat derasnya arus Sungai Cenang.

Warga RT 04 RW 04 Desa Jatimulya, Sunah (58) mengaku rumahnya terendam hingga 1,5 meter. Hampir setiap musim hujan, rumahnya kebanjiran. “Kalau hujan deras pasti banjir. Sungai Cenang-nya dangkal. Harus dinormalisasi. Jembatan juga harus ditinggikan supaya sampah bisa lewat,” kata Sunah, Senin.

Warga setempat lainnya, Soni (55) menyebut rumahnya terendam sekira 80 sentimeter. Ia berharap pemerintah daerah segera turun tangan. “Jembatan sudah tidak layak. Yang tersumbat sampah harus ditinggikan. Yang putus harus segera diperbaiki,” harap Soni.

Semetara itu, jembatan besi yang putus diketahui sepanjang 30 meter dan lebar 2 meter. Jembatan yang dibangun pada 1998 tersebut merupakan akses penting penghubung Pedukuhan Grogolan dan Gemahsari.

Kepala Desa Jatimulya, Daryono menyebut warga harus memutar sejauh sekitar satu kilometer. Padahal jika melalui jembatan itu jarak tempuh hanya sekitar 100 meter. “Jembatan itu akses utama warga untuk ekonomi, sekolah, sampai berobat. Sekarang putus total. Aktivitas warga jelas terganggu,” kata Daryono.

Daryono menuturkan, jembatan tersebut diduga sudah rapuh sehingga saat arus deras menghantam, konstruksi besi tak lagi mampu bertahan. Sementara itu, ketinggian banjir bervariasi, mulai 60 sentimeter hingga 1,5 meter yang merendam ratusan rumah warga.

Bahkan Jalan kabupaten ruas Jatimulya– Harjasari tergenang hingga 1,5 meter. Sementara ruas Jatibogor– Kertasari terendam sekitar 80 sentimeter. Daryono menyebut banjir terjadi sejak Minggu malam hingga Senin (16/2/2026). Dalam 10 hari terakhir, desa ini sudah lima kali diterjang banjir.

“Air masuk ke dalam rumah warga sampai setinggi dada orang dewasa. Pagi tadi sebagian memang sudah surut, tapi menyisakan lumpur setinggi lutut. Masih ada rumah yang tergenang,” kata Daryono.

Daryono menyebut, hingga kini belum ada penanganan serius dari Pemkab Tegal. Warga masih mengandalkan swadaya. Padahal, mereka sangat membutuhkan bantuan makanan siap saji dan kebutuhan darurat lainnya. Tak hanya permukiman, gedung pendidikan mulai dari TK, SD hingga SMP, hingga kantor balai desa ikut kebanjiran.

Daryono menyebut banjir dipicu luapan Sungai Cenang yang sudah dangkal dan alirannya tersumbat sampah di bawah jembatan sisi barat balai desa. Sampah berupa kayu, bambu, daun kering hingga material lain terbawa dari hutan perbukitan lereng Gunung Slamet saat hujan deras mengguyur.

“Kami berharap ada normalisasi sungai dan penanganan serius. Jembatan yang putus semoga segera mendapat bantuan anggaran. Warga juga sangat butuh uluran tangan,” pungkasnya.