Stabilitas Pasokan LNG di Jepang Meski Hadapi Konflik Timur Tengah
JAKARTA – Federasi Perusahaan Listrik (FEPC) Jepang menyatakan bahwa pasokan gas alam cair (LNG) negara tersebut tetap stabil meskipun terjadi konflik di kawasan Timur Tengah. Meskipun demikian, lonjakan harga minyak mentah mulai memberikan tekanan pada perekonomian domestik dan memaksa pemerintah untuk melakukan intervensi pasar.
“LNG menjadi bahan bakar utama pembangkit listrik tenaga termal di Jepang. Namun, pasokannya tetap aman karena Jepang telah berhasil melakukan diversifikasi pemasok LNG. Saat ini, impor dari negara-negara Teluk Persia hanya menyumbang 6 persen dari total kebutuhan nasional,” jelas ketua FEPC, Nozomu Muri, dalam konferensi pers.
Ia menambahkan bahwa saat ini tidak ada dampak langsung terhadap stabilitas pasokan LNG. Namun, ia mengingatkan bahwa jika konflik berkepanjangan, keseimbangan pasokan dan permintaan LNG global bisa semakin ketat.
Sejak serangan Amerika Serikat (AS)-Israel ke Iran dimulai pada 28 Februari 2026, Jepang yang minim sumber daya alam terus memantau secara ketat stabilitas energi di tengah risiko geopolitik yang tidak menentu.
Kenaikan Harga Energi Global Mengancam Perekonomian Jepang
Gubernur Bank of Japan (BOJ), Kazuo Ueda, memberikan peringatan lebih waspada. Ia menyoroti bahwa kenaikan harga minyak akibat konflik dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan memicu inflasi melalui biaya impor. Ueda menekankan bahwa perkembangan di Timur Tengah akan menjadi faktor penting dalam menentukan waktu kenaikan suku bunga ke depan.
Bank sentral memutuskan mempertahankan suku bunga sekitar 0,75 persen. Fluktuasi mata uang saat ini memiliki dampak yang lebih kuat terhadap inflasi dibandingkan sebelumnya, merujuk pada pelemahan yen yang memperburuk biaya energi.
Harga Bensin di Jepang Tembus Rekor, Pemerintah Siapkan Subsidi Baru
Kementerian Perindustrian Jepang melaporkan bahwa harga rata-rata bensin eceran di Jepang melonjak ke rekor tertinggi sebesar 190,80 yen (Rp20.365) per liter. Kenaikan tajam ini dipicu oleh melambungnya harga minyak mentah akibat eskalasi konflik AS-Israel dan Iran.
Harga melonjak 29 yen (Rp3 ribu) dari minggu sebelumnya, menyamai rekor kenaikan mingguan terbesar sejak 1990. Angka ini juga melampaui rekor sebelumnya (186,50 yen atau Rp19.889) pada April 2025 yang disebabkan oleh lemahnya yen.
Merespons kenaikan ini, Perdana Menteri Sanae Takaichi mengaktifkan kembali subsidi negara, guna menekan harga kembali ke kisaran 170 yen (Rp18.127) per liter. Per Senin, harga bensin naik di seluruh 47 prefektur Jepang. Harga solar meningkat menjadi 178,40 yen per liter (Rp19.018), dan minyak tanah naik menjadi 2.774 yen (Rp295.725) per 18 liter.
Dampak Konflik di Timur Tengah Meluas ke Sektor Manufaktur Jepang
Dampak gangguan pasokan minyak mentah semakin meluas karena konflik di Timur Tengah. Akibatnya, perusahaan petrokimia di Jepang menaikkan harga beberapa produk, dan produsen baja besar menghentikan sementara salah satu pembangkit listrik tenaga termalnya.
Baru-baru ini, Mitsubishi Chemical mengumumkan keputusannya untuk menaikkan harga produk petrokimia yang digunakan untuk membuat plastik pada mobil dan peralatan rumah tangga.
Pada Kamis, JFE Steel menghentikan sementara salah satu dari lima generator tenaga termal di pabrik besinya di Prefektur Hiroshima, di tengah kekhawatiran tentang kemungkinan kekurangan bahan bakar minyak. Namun, produsen baja tersebut menyatakan operasional pabrik tetap berjalan normal.
Upaya Menjaga Stabilitas Pasokan Energi
Di tengah situasi yang dinamis, berbagai pihak terus memantau kondisi pasokan energi. Kebijakan kompor dan kendaraan listrik dinilai mampu membantu menekan impor energi. Selain itu, kerja sama dengan Jepang mempercepat pengembangan energi baru, termasuk nuklir, menjadi langkah strategis dalam menjaga ketersediaan energi jangka panjang.












