Bahasa sebagai Jendela Pemrosesan Otak
JAKARTA – Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga menjadi jendela yang memperlihatkan cara otak berpikir. Dalam psikologi kognitif, bahasa mencerminkan bagaimana otak memproses informasi, mengenali pola, dan membuat keputusan dalam hitungan detik.
Kemampuan seseorang dalam mendeteksi kesalahan tata bahasa sering kali berkaitan erat dengan ketajaman pemrosesan bahasa di otak.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa orang yang cepat menyadari kesalahan kecil dalam struktur kalimat memiliki kemampuan pemrosesan bahasa yang lebih tinggi dibandingkan sebagian besar populasi. Bahkan, kemampuan ini tidak selalu bergantung pada pendidikan formal, melainkan pada kepekaan otak terhadap pola bahasa.
Jika Anda mampu menemukan kesalahan dalam 9 kalimat di bawah ini tanpa membaca ulang berkali-kali, besar kemungkinan kemampuan pemrosesan bahasa Anda lebih tajam daripada sebagian besar penutur asli. Mari kita uji bersama.
Kesalahan dalam Kalimat dan Penjelasannya
-
“Dia tidak menyadari bahwa dirinya telah melakukan kesalahan yang sangat fatal sekali.”
Kesalahan: Redundansi
Kata “sangat” dan “sekali” memiliki fungsi penegasan yang sama. Menggunakan keduanya bersamaan membuat kalimat tidak efektif.
Seharusnya:
“Dia tidak menyadari bahwa dirinya telah melakukan kesalahan yang sangat fatal.”
atau
“Dia tidak menyadari bahwa dirinya telah melakukan kesalahan fatal sekali.”
-
“Para siswa-siswa diwajibkan untuk mengumpulkan tugas besok pagi.”
Kesalahan: Pengulangan jamak
Kata “para” sudah menunjukkan bentuk jamak, sehingga tidak perlu diikuti pengulangan kata “siswa-siswa”.
Seharusnya:
“Para siswa diwajibkan untuk mengumpulkan tugas besok pagi.”
-
“Ia pergi ke toko untuk membeli daripada kebutuhan sehari-hari.”
Kesalahan: Penggunaan kata depan yang tidak tepat
Kata “daripada” tidak tepat digunakan dalam konteks ini.
Seharusnya:
“Ia pergi ke toko untuk membeli kebutuhan sehari-hari.”
-
“Hasil penelitian ini menunjukkan bahwasanya metode tersebut kurang efektif.”
Kesalahan: Pilihan kata berlebih
Kata “bahwasanya” secara tata bahasa tidak salah, tetapi dalam bahasa Indonesia baku modern dianggap tidak efisien.
Seharusnya:
“Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode tersebut kurang efektif.”
-
“Dia adalah seorang yang paling terbaik di kelasnya.”
Kesalahan: Superlatif ganda
Kata “paling” dan “terbaik” memiliki makna tingkat tertinggi yang sama.
Seharusnya:
“Dia adalah siswa terbaik di kelasnya.”
atau
“Dia adalah seorang yang paling baik di kelasnya.”
-
“Walaupun hujan deras, tetapi mereka tetap melanjutkan perjalanan.”
Kesalahan: Konjungsi ganda
Kata “walaupun” dan “tetapi” tidak boleh digunakan bersamaan dalam satu struktur kalimat.
Seharusnya:
“Walaupun hujan deras, mereka tetap melanjutkan perjalanan.”
atau
“Hujan deras, tetapi mereka tetap melanjutkan perjalanan.”
-
“Ia sangat suka sekali membaca buku psikologi.”
Kesalahan: Penegasan berlebihan
Sama seperti sebelumnya, “sangat” dan “sekali” tidak perlu digunakan bersamaan.
Seharusnya:
“Ia sangat suka membaca buku psikologi.”
-
“Setiap orang-orang memiliki cara berpikir yang berbeda.”
Kesalahan: Ketidaksesuaian subjek
Kata “setiap” bersifat tunggal, sedangkan “orang-orang” jamak.
Seharusnya:
“Setiap orang memiliki cara berpikir yang berbeda.”
-
“Tujuan utama daripada penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh stres.”
Kesalahan: Struktur frasa tidak baku
Penggunaan “daripada” kembali tidak tepat dalam konteks ini.
Seharusnya:
“Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh stres.”
Kemampuan Otak dalam Menganalisis Bahasa
Dalam psikologi kognitif, kemampuan ini berkaitan dengan implicit language monitoring—proses bawah sadar di mana otak terus memeriksa konsistensi struktur bahasa. Orang dengan kemampuan ini biasanya:
- Cepat mengenali pola yang menyimpang
- Lebih sensitif terhadap detail linguistik
- Memiliki memori kerja verbal yang kuat
- Cenderung teliti dalam membaca dan mendengar
Menariknya, kemampuan ini sering muncul pada orang yang gemar membaca, menulis, atau terbiasa berpikir analitis—bahkan tanpa latar belakang linguistik formal.
Kesimpulan: Di Luar Sekadar Tata Bahasa
Mendeteksi kesalahan tata bahasa bukan hanya soal “pandai berbahasa”. Menurut psikologi, ini adalah refleksi dari ketajaman otak dalam memproses informasi kompleks secara cepat dan akurat.
Jika Anda berhasil menemukan sebagian besar kesalahan di atas tanpa bantuan penjelasan, selamat—kemampuan pemrosesan bahasa Anda kemungkinan berada di atas rata-rata.
Yang lebih penting, kemampuan ini dapat terus diasah. Semakin sering Anda membaca dengan sadar, menulis dengan reflektif, dan berpikir kritis terhadap bahasa, semakin tajam pula cara kerja otak Anda.












