Tanah Kas Desa Disulap Jadi Wisata Keluarga
DI TENGAH keterbatasan anggaran dari pemerintah pusat, pemerintah desa mesti putar otak untuk mulai menciptakan kemandirian pendapatan. Anggaran Dana Desa (DD) yang dikucurkan pemerintah pusat berkurang drastis, dari angka di atas satu miliar rupiah, hanya menyisakan sekitar Rp375 juta.
Upaya kemandirian ini dilakukan oleh Pemerintah Desa Kubangjero Kecamatan Banjarharjo, Kabupaten Brebes. Dengan memanfaatkan tanah kas desa, desa ini mulai membangun tempat wisata rekreasi keluarga. Pemerintah desa, sejak dulu diminta untuk menciptakan kemandirian tanpa bergantung pada anggaran pemerintah pusat.
Tahun 2020, Pemerintah Desa Kubangjero memutuskan untuk memanfaat lahan seluas 1,3 hektar untuk disulap menjadi tempat wisata, bernama Kampoeng Sawah. Kepala Desa Kubangjero, Hadiansyah mulai mengalokasikan anggaran Dana Desa sedikit demi sedikit untuk pembangunan tempat wisata.
Tak hanya menggunakan Dana Desa, niat menjadikan desa wisata ini juga menarik perhatian Anggota DPRD Brebes, Didi Tuswandi untuk memenuhi aspirasi pemerintah desa. Dengan Total anggaran Rp 1,4 miliar, tempat wisata Kampoeng Sawah akhirnya terwujud dan dibuka secara resmi pada Oktober 2025 lalu.
“Kami merintis dari tahun 2020, mengalokasikan anggaran sedikit demi sedikit demi bisa meningkatkan pendapatan untuk desa. Termasuk meningkatkan perputaran ekonomi di desa kami. Karena ini potensi desa yang kami punya,” kata Kepala Desa Kubangjero, Hadiansyah, Selasa (10/2).
Sejak dibuka pada akhir tahun 2025, tempat wisata Kampoeng Sawah sudah berhasil menyumbangkan Pendapatan Asli Desa (PADes) sebesar Rp 30 juta pada momen libur Natal dan tahun baru (Nataru). Uang itu pun digunakan untuk pengembangan tempat wisata.
Tempat wisata ini berada di tempat strategis, tepatnya di jalan poros penghubung Kecamatan Banjarharjo dan Kecamatan Losari. Di tempat wisata ini, terdapat kolam renang berukuran besar yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Tempat wisata ini juga menyediakan wahana permainan anak seperti ATV.
“Bukan hanya tempat rekreasi, di Kampoeng Sawah, dengan tiket masuk sebesar Rp 5 ribu, anak-anak bisa belajar bertani untuk praktik langsung penanaman hingga panen padi. Kami juga berupaya mengembangkan wisata edukasi pertanian lainnya,” tambah Hadiansyah.
Dia melanjutkan, pihaknya melibatkan warganya untuk turut mengelola dan menjaga keberlanjutan tempat wisata tersebut. Untuk tenaga kerja di lokasi wisata, diambil dari semua warganya yang bersedia untuk terlibat dalam pembangunan desa. Dia menyebut, setiap keputusan yang telah diambil telah dimusyawarahkan dengan warga.
“Semua keputusan ini, diambil dari keputusan bersama. Termasuk dengan pemanfaatan lahan ini. Nanti hasil dari pendapatan tempat wisata ini akan dibelikan tanah untuk kas desa sebesar tiga kali lipat, sesuai dengan aturan,” tandas dia.












