Persiapan Menyambut Bulan Suci Ramadhan 1447 Hijriah
JAKARTA – Umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, kini sedang mempersiapkan diri menyambut bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah. Tahun ini, banyak masyarakat yang mulai mencari informasi mengenai jadwal puasa dan persiapan-persiapan yang diperlukan.
Berikut adalah rincian terkait prediksi awal Ramadhan 2026, perbedaan pendekatan antara organisasi Islam dan pemerintah, serta langkah-langkah persiapan yang bisa dilakukan.
Prediksi Awal Ramadhan 2026
Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah biasanya menetapkan awal Ramadhan menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal. Jika posisi hilal sudah memenuhi kriteria tertentu, maka tanggal puasa akan diumumkan melalui Maklumat PP Muhammadiyah.
Dalam laman resmi mereka pada Oktober 2025, telah ditetapkan bahwa awal puasa Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Sementara itu, pemerintah Indonesia belum secara resmi menetapkan kapan puasa 2026 dimulai.
Penetapan ini menunggu hasil Sidang Isbat yang melibatkan berbagai pihak seperti MUI, ormas Islam, dan para ahli. Dalam kalender hijriah yang disusun Kemenag, 1 Ramadhan 1447 H dicantumkan jatuh pada 19 Februari 2026.
Perbedaan antara Muhammadiyah dan pemerintah ini terjadi karena perbedaan metode penghitungan. Pemerintah mengacu pada kriteria baru yang disepakati oleh Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS). Kriteria tersebut menetapkan bahwa hilal sah jika ketinggian minimal 3 derajat dan sudut elongasi minimal 6,4 derajat.
Perbedaan Pendekatan dalam Menentukan Awal Puasa
Muhammadiyah lebih cenderung menggunakan metode hisab yang menilai posisi bulan, sementara pemerintah lebih mengandalkan visibilitas hilal sesuai standar MABIMS.
Hal ini sering menghasilkan perbedaan, terutama ketika posisi bulan sudah berada di atas ufuk namun belum memenuhi kriteria kecukupan ketinggian atau elongasi.
Dalam situasi seperti ini, Muhammadiyah akan mengumumkan bahwa besoknya masuk Ramadhan, sedangkan pemerintah akan menunda pengumuman hingga kriteria terpenuhi. Perbedaan ini membuat umat Islam harus memperhatikan dua sumber informasi untuk memastikan jadwal puasa yang benar.
Hitung Mundur Puasa 2026
Jika dihitung dari Jumat, 23 Januari 2026, dan estimasi awal puasa Muhammadiyah pada 18 Februari 2026, maka waktu yang tersisa sekitar 26 hari. Untuk pertanyaan tentang berapa minggu lagi, jawabannya adalah sekitar 3 minggu 5 hari. Waktu ini sangat singkat, sehingga persiapan puasa tidak lagi dihitung dalam bulan, tetapi dalam hari.
Sisa waktu ini juga menjadi masa transisi dari bulan Rajab dan Sya’ban menuju Ramadhan. Banyak umat Islam memanfaatkan periode ini untuk memperbanyak amalan sunnah dan mempersiapkan diri membayar utang puasa.
Persiapan Membayar Utang Puasa
Sebelum memasuki bulan Ramadhan, umat Muslim yang memiliki utang puasa wajib membayarnya dengan puasa qadha. Salah satu syarat sah pelaksanaannya adalah dengan membaca niat mengganti puasa pada malam hari. Niat qadha puasa yang dirujuk dari panduan resmi Baznas adalah:
“Nawaitu shauma ghadin ‘an qadha’i fardhi syahri Ramadhana lillahi ta’ala.”
Artinya: “Aku berniat untuk mengqadha puasa bulan Ramadhan esok hari karena Allah SWT.”
Kemenag menegaskan bahwa batas waktu mengganti puasa adalah hingga akhir bulan Syaban. Sangat tidak dianjurkan menunda-nunda pembayaran utang puasa hingga mendekati hari-hari terakhir menjelang Ramadhan, kecuali dalam kondisi mendesak.
Kesimpulan
Dengan mengetahui kalender puasa 2026 dan sisa waktu, umat Islam diharapkan dapat menyambut bulan suci Ramadhan dengan persiapan yang matang. Informasi tentang jadwal puasa, baik dari Muhammadiyah maupun pemerintah, harus dipertimbangkan agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Selain itu, persiapan fisik, mental, dan spiritual juga penting untuk memastikan ibadah puasa dapat dilakukan dengan maksimal.












