Mengapa Beberapa Ibu Hanya Memiliki Anak Laki-Laki atau Perempuan?

Studi Baru Ungkap Faktor yang Mempengaruhi Jenis Kelamin Anak

JAKARTA – Sebuah studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Science Advances pada 18 Juli menunjukkan bahwa jenis kelamin anak mungkin tidak sepenuhnya ditentukan secara acak. Penelitian ini dilakukan oleh para ilmuwan dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, dan mereka menemukan bahwa setiap keluarga memiliki kemungkinan unik untuk melahirkan anak laki-laki atau perempuan.

Dr. Jorge Chavarro, profesor nutrisi dan epidemiologi sekaligus salah satu penulis studi tersebut, menjelaskan bahwa data menunjukkan adanya keluarga yang lebih cenderung memiliki anak perempuan atau laki-laki. Hal ini menantang anggapan tradisional bahwa peluang melahirkan anak laki-laki atau perempuan adalah 50:50 seperti melempar koin.

Probabilitas yang Tidak Sama

Studi ini mengungkap bahwa dalam keluarga dengan tiga anak laki-laki, peluang anak keempat juga laki-laki mencapai 61%. Sedangkan untuk keluarga dengan tiga anak perempuan, probabilitas anak keempatnya perempuan adalah 58%. Ini disebut sebagai “melempar koin yang berat sebelah” dengan rasio sekitar 60:40.

Para peneliti menemukan bahwa faktor usia ibu saat melahirkan anak pertama memainkan peran penting. Dalam analisis data dari 58.007 perempuan di AS, hanya usia saat melahirkan anak pertama yang menunjukkan pengaruh signifikan. Wanita yang melahirkan pertama kali di atas usia 28 tahun memiliki peluang 43% untuk melahirkan anak-anak dengan jenis kelamin yang sama, dibandingkan 34% bagi wanita yang melahirkan sebelum usia 23 tahun.

Perubahan Biologis yang Berpengaruh

Salah satu penjelasan biologis mengenai hal ini adalah perubahan fase siklus menstruasi dan pH vagina seiring bertambahnya usia. Fase folikuler yang lebih pendek dapat menguntungkan sperma Y (laki-laki), sedangkan pH yang lebih rendah mendukung sperma X (perempuan).

Namun, meskipun hasil studi ini menarik, para ahli tetap memperingatkan agar tidak menganggapnya sebagai kebenaran mutlak. Dr. Sebastian Hobson dari Mount Sinai Hospital, Toronto, menekankan bahwa efek biologis ini kecil dan belum membuktikan hubungan sebab-akibat.

Keterbatasan Studi dan Pengaruh Sosial

Hobson juga mencatat bahwa studi ini tidak mengumpulkan data tentang ayah biologis dan mayoritas subjek berasal dari populasi kulit putih di AS, sehingga generalisasinya terbatas. Selain itu, masalah sosial seperti harapan orang tua untuk memiliki “pasangan” anak laki-laki dan perempuan juga menjadi isu penting.

Banyak orang tua ingin memiliki anak dari kedua jenis kelamin, dan studi sebelumnya menunjukkan bahwa orang tua dengan dua anak sejenis lebih mungkin mencoba punya anak ketiga untuk mencapai keseimbangan. Namun, harapan ini tidak selalu terpenuhi, dan banyak orang mengalami kekecewaan jika anak yang lahir tidak sesuai harapan.

Kepraktisan dan Penerimaan

Di sisi lain, beberapa orang tua justru merasa nyaman dengan memiliki anak dari jenis kelamin yang sama. Mereka melihat kepraktisan seperti bisa saling menggunakan baju, mainan, dan tema pesta ulang tahun yang seragam.

Penelitian ini memberikan wawasan baru bahwa jenis kelamin anak mungkin tidak sepenuhnya acak. Faktor usia ibu saat melahirkan anak pertama, serta kemungkinan faktor biologis lain, bisa memengaruhi pola jenis kelamin anak. Namun, para ahli menekankan bahwa ini bukan alat prediksi, melainkan pemahaman baru tentang kompleksitas reproduksi manusia.

Joshua Wilde dari University of Oxford menambahkan bahwa perilaku dan perencanaan keluarga juga turut berperan besar. Masih diperlukan banyak studi lanjutan untuk memahami bagaimana faktor biologis, perilaku, dan lingkungan saling berinteraksi dalam menentukan jenis kelamin anak. Yang jelas, setiap anak adalah anugerah, terlepas dari jenis kelaminnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *