OJK Jelaskan Kondisi Perbankan Nasional yang Tetap Stabil
JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa penyesuaian outlook terhadap sejumlah bank Himbara tidak mencerminkan pelemahan fundamental kinerja perbankan nasional. Regulator memastikan bahwa peringkat kredit (rating) bank-bank Himbara tetap berada pada level investment grade, dengan kondisi permodalan, likuiditas, dan kualitas aset yang solid.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Merangkap Anggota Dewan Komisioner OJK, Dian Ediana Rae menjelaskan bahwa perubahan outlook tersebut lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti penurunan outlook sovereign Indonesia serta dinamika makroekonomi global. Hal ini berarti bahwa penyesuaian tersebut bukan disebabkan oleh penurunan kinerja internal masing-masing bank.
“Peringkat kredit tetap dipertahankan pada level investment grade, yang menunjukkan keyakinan kuat terhadap kondisi permodalan yang solid, likuiditas memadai, kualitas aset terjaga, serta profitabilitas yang resilien,” ujar Dian dalam pernyataannya.
Kondisi Permodalan yang Kuat
Hingga akhir 2025, tingkat permodalan bank-bank Himbara tercatat berada pada kisaran 19% hingga 21%. Angka ini jauh di atas ketentuan minimum sesuai profil risiko masing-masing bank. Mayoritas permodalan tersebut ditopang oleh modal inti alias bank tier satu dengan rasio sekitar 17% hingga 20%, memberikan ruang ekspansi sekaligus bantalan dalam mengantisipasi potensi risiko ke depan.
Dari sisi likuiditas, rasio AL/NCD dan AL/DPK tercatat berada di atas ambang batas yang ditetapkan, masing-masing melampaui 50% dan 10%. Sementara itu, Liquidity Coverage Ratio (LCR) dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) juga berada di atas 100%, mencerminkan kecukupan likuiditas jangka pendek maupun menengah-panjang.
Pertumbuhan Kredit yang Menjanjikan
Pertumbuhan kredit mayoritas bank Himbara masih berada pada kisaran double digit dan melampaui rata-rata industri yang tercatat 9,69% secara tahunan. Di sisi pendanaan, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sejumlah bank Himbara juga tumbuh dua digit, sejalan dengan perbaikan rasio dana murah (CASA) yang menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat tetap terjaga.
Kualitas Aset yang Terkendali
Kualitas aset pun relatif terkendali dengan rasio kredit bermasalah (NPL) gross berada pada kisaran di bawah 1% hingga 3%, disertai pembentukan pencadangan yang memadai. OJK menilai hal tersebut mencerminkan penerapan manajemen risiko yang prudent di tengah tekanan suku bunga global dan dinamika ekonomi domestik.
Potensi Tekanan Margin Bunga Bersih
Bagi investor, potensi tekanan terhadap margin bunga bersih (NIM) dan kenaikan biaya dana menjadi perhatian utama. Namun demikian, Dian memandang prospek profitabilitas bank-bank besar, termasuk Himbara, tetap berada pada jalur positif dan berkelanjutan.
Diversifikasi pendapatan melalui peningkatan fee-based income, optimalisasi transaksi digital, serta struktur pendanaan yang didominasi giro dan tabungan menjadi faktor penopang stabilitas laba.
Kerangka Regulasi yang Sesuai Standar Internasional
Dian menambahkan, kerangka regulasi dan pengawasan perbankan nasional telah diselaraskan dengan standar internasional yang ditetapkan oleh Basel Committee on Banking Supervision (BCBS). Penerapan tersebut secara berkala juga dievaluasi melalui asesmen internasional guna memastikan konsistensi dan efektivitas pengawasan.
Dengan fundamental yang kuat dan pengawasan yang konsisten, Dian optimistis bank-bank Himbara tetap memiliki kapasitas memadai untuk mendukung pembiayaan perekonomian nasional serta menjaga stabilitas sistem keuangan di tengah ketidakpastian global.












