Tegangnya Situasi di Timur Tengah
JAKARTA – Kekhawatiran terhadap potensi konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran semakin meningkat. Beberapa sumber mengungkapkan bahwa militer AS sedang mempersiapkan operasi serangan terhadap Iran dalam waktu dekat, mungkin pada akhir pekan ini atau awal minggu depan. Meskipun Presiden Donald Trump belum membuat keputusan akhir, diskusi dengan para pejabat keamanan nasional berlangsung dinamis dan terus-menerus.
Para pejabat keamanan AS memberi tahu kepada Trump bahwa pasukan siap untuk segera bertindak, meski rencana tersebut masih dalam proses evaluasi. Pihak Gedung Putih sedang mempertimbangkan risiko yang muncul dari kemungkinan eskalasi serta dampak politik dan militer dari tindakan tersebut.
Sebagai langkah antisipasi, Pentagon mulai melakukan pergeseran personel dari kawasan Timur Tengah menuju Eropa atau kembali ke Amerika Serikat dalam tiga hari ke depan. Langkah ini merupakan bagian dari prosedur standar militer untuk melindungi aset dari kemungkinan serangan balasan jika operasi benar-benar diluncurkan.
Selain itu, Menteri Luar Negeri Marco Rubio direncanakan akan mengunjungi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam waktu dua minggu untuk membahas lebih lanjut tentang situasi yang sedang berkembang. Sementara itu, juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa diplomasi tetap menjadi prioritas utama, meski ada banyak alasan yang mendukung serangan terhadap Iran.
Kapal Induk Gerald R. Ford Menuju Timur Tengah
Di tengah ketidakpastian, Kelompok Tempur Kapal Induk (Carrier Strike Group/CSG) USS Gerald R. Ford dilaporkan sedang bergerak menuju Timur Tengah untuk ditempatkan di sekitar Iran. Ini adalah bagian dari upaya Presiden Trump untuk meningkatkan tekanan terhadap Teheran.
Dengan penempatan kapal induk ini, Angkatan Laut AS akan memiliki dua CSG di kawasan. Selain USS Gerald R. Ford, USS Abraham Lincoln telah lebih dulu berada di Teluk Persia bersama sembilan kapal perang lain, termasuk lima kapal perusak kelas Arleigh Burke. Selain itu, sejumlah kapal selam AS juga beroperasi di kawasan, bersama hampir 30.000 personel militer yang tersebar di 18 pangkalan AS di Timur Tengah.
Kepala Operasi Angkatan Laut AS, Laksamana Daryl Caudle, menyatakan bahwa USS Gerald R. Ford memiliki kapabilitas luar biasa. “Dari perspektif kemampuan, Ford adalah opsi yang sangat berharga untuk setiap langkah militer yang ingin dilakukan presiden,” ujarnya dalam simposium Surface Navy Association bulan lalu.
Namun, pengerahan ini tidak lepas dari kontroversi. Beberapa kalangan mempertanyakan apakah kapal dan sekitar 4.500 awaknya benar-benar siap menghadapi kemungkinan operasi intensif di sekitar Iran. Penugasan kedua bagi USS Ford ini juga menimbulkan pertanyaan tentang kesiapan operasional dan pemeliharaan.
Daftar Alutsista Amerika Serikat di Sekitar Iran
Berikut beberapa alutsista Amerika Serikat yang sudah ditumpuk di sekitar Iran:
- Kapal Laut/Gugus Tempur Angkatan Laut AS
- USS Abraham Lincoln — Gugus tempur kapal induk yang sudah berada di kawasan, berfungsi sebagai pusat proyeksi kekuatan udara laut.
- USS Gerald R. Ford — Gugus tempur kedua dalam perjalanan menuju Timur Tengah, memperkuat armada di wilayah operasi.
- Kapal perusak kelas Arleigh Burke (sejumlah unit) — Kapal perang permukaan berpeluru kendali yang mengawal gugus tempur serta siap meluncurkan rudal serang jarak jauh ke target di daratan Iran.
-
Kapal selam serang bertenaga nuklir — Dilaporkan setidaknya satu unit sedang beroperasi di wilayah perairan strategis, meningkatkan opsi peluncuran rudal jelajah dari bawah permukaan laut.
-
Aset Udara & Jet Tempur
- Pesawat jet tempur siluman F-35 Lightning II — Dikerahkan baik dari kapal induk maupun dari pangkalan darat untuk misi superioritas udara dan serangan presisi.
- Jet tempur F-22 Raptor — Termasuk di antara puluhan pesawat yang dipindahkan ke kawasan untuk misi pertahanan udara dan serangan strategis.
- F-15E Strike Eagle — Dikerahkan dari Eropa ke pangkalan di Yordania, dirancang untuk penetrasi dalam wilayah musuh dengan bom berpemandu presisi.
- F/A-18 Super Hornet dan EA-18G Growler — Beroperasi dari kapal induk sebagai dukungan serangan dan perang elektronik (mengacaukan radar musuh).
- Pesawat pembom B-2 Spirit — Dalam status siaga tinggi dan dapat dipindahkan untuk menyerang fasilitas strategis jika diperlukan.
- Pesawat tanker pengisian udara (KC-135 dan sejenisnya) — Memperluas jangkauan misi udara dengan pengisian bahan bakar di udara.
- Pesawat intai & UAV (seperti MQ-9 Reaper) — Mendukung pengintaian dan targetting di seluruh wilayah Iran dan sekitarnya.











