Keputusan Mengejutkan Philippe Coutinho untuk Berpisah dari Vasco da Gama
JAKARTA – Philippe Coutinho, playmaker yang pernah menjadi pemain termahal Barcelona, membuat keputusan yang mengejutkan terkait masa depannya di klub Brasil, Vasco da Gama. Pemain berusia 33 tahun ini memutuskan untuk melepaskan ikatan kontraknya dengan klub yang telah ia bela sejak kembali pada 2024.
Keputusan tersebut diumumkan melalui akun Instagram pribadinya pada Kamis (19/2/2026). Ia mengakhiri kontrak yang masih berlaku hingga Juni mendatang, meskipun saat itu sedang dilakukan pembicaraan mengenai perpanjangan kerja sama. Coutinho menjelaskan bahwa keputusan ini diambil karena dirinya merasa ini adalah waktu yang tepat untuk mundur.
Beberapa hari sebelumnya, Coutinho mengalami perlakuan tidak menyenangkan dari para penggemar Vasco. Saat ditarik keluar oleh pelatih Roberto Diniz dalam pertandingan melawan Volta Redonda, ia dicemooh oleh suporter klub. Insiden ini diduga memperburuk hubungannya dengan penggemar Vasco.
Meski begitu, Coutinho tetap dianggap sebagai andalan di klub yang berhasil meraih gelar empat kali Liga Serie A Brasil. Ia selalu tampil sebagai starter dalam semua pertandingan musim ini dan memberikan kontribusi berupa tiga gol serta satu assist.
Dalam pernyataannya, Coutinho menyampaikan rasa hormatnya kepada para penggemar, rekan setim, dan klub. Ia menegaskan bahwa ia tidak pernah menghina siapa pun, baik di mana pun ia berada. Ia juga mengungkapkan bahwa saat menuju ruang ganti, ia merasa bahwa siklusnya di Vasco telah berakhir. Keputusan ini diambil untuk menjaga kesehatan mentalnya.
“Kebenarannya adalah saya sangat lelah secara mental,” tulisnya. “Saya bersyukur atas segala yang telah saya alami di sini. Saya akan membawa Vasco bersama saya selamanya.”
Sejak kembali memperkuat klub masa kecilnya pada 2024, Coutinho telah bermain dalam 81 pertandingan lintas kompetisi. Ia mencatatkan 17 gol dan 7 assist, meskipun hanya membawa Vasco menjadi runner-up Piala Brasil 2025.
Coutinho memulai kariernya di Vasco sebelum direkrut Inter Milan pada 2008. Ia sempat dipinjamkan ke Vasco dan Espanyol sebelum dilepas ke Liverpool pada 2013. Di The Reds, ia menjadi salah satu playmaker terbaik dunia di generasinya.
Pada 2018, ia bergabung dengan Barcelona dengan biaya transfer yang mencetak rekor pemain termahal di bursa transfer musim dingin. Harga yang dibayar adalah 135 juta euro, yang hingga saat ini masih menjadi rekor tertinggi bagi transfer seorang gelandang serang.
Meski sempat memenangkan dua gelar Liga Spanyol, performanya di Barcelona sering dikritik karena cedera dan inkonsistensi. Ia kemudian dipinjamkan ke Bayern Munich dan mencicipi kebangkitan dengan meraih treble winners 2019-2020 di bawah asuhan Hansi Flick.
Namun, karier Coutinho terus menurun setelah itu. Karena cedera, ia gagal menemukan bentuk terbaiknya bersama Aston Villa, sempat bermain di Qatar (Al Duhail), lalu kembali ke Vasco.
Kini, dengan status sebagai pemain agen bebas, Coutinho menatap masa depan di klub baru yang siap menampungnya. Ia menyatakan bahwa kembali ke Vasco adalah keputusan terpenting dalam hidupnya.
“Saya memilih kembali ke Vasco karena saya mencintai klub ini. Saya mencintai segala hal yang Vasco wakili dalam hidup saya,” ujarnya. “Mengenakan jersey ini adalah salah satu keputusan terpenting yang pernah saya buat.”












