Kasus Kekerasan Anak di Bandung yang Menyentuh Hati
BANDUNG – Rumah seharusnya menjadi tempat yang paling aman bagi anak-anak untuk bermain, belajar, dan tumbuh. Di sana, anak-anak harus merasa dilindungi, nyaman, serta diberi kasih sayang oleh orang-orang terdekat.
Namun, dalam beberapa kasus, rumah justru menjadi tempat yang penuh dengan ketakutan dan kekerasan. Salah satu contohnya adalah kasus yang menimpa Fikri, seorang anak berusia empat tahun yang menjadi korban kekerasan oleh Asisten Rumah Tangga (ART) saat sedang berada di rumah.
Kejadian ini terekam jelas oleh kamera CCTV, yang menunjukkan bagaimana pelaku, yang bernama R, memukul kepala Fikri hingga menyebabkan luka di bagian hidung. Saat itu, Fikri sedang diberi makan oleh ART tersebut, namun ia menolak untuk makan. Dengan kehilangan kesabaran, pelaku langsung melakukan tindakan kasar yang sangat tidak manusiawi.
Peristiwa ini kemudian viral di media sosial dan menarik perhatian banyak warganet. Banyak dari mereka yang menyampaikan rasa prihatin dan menuntut adanya tindakan tegas terhadap pelaku. Berikut ini adalah penjelasan lengkap mengenai kronologi kejadian, pengakuan pelaku, serta keputusan keluarga korban.
Kronologi Kejadian
Kasus kekerasan ini dimulai ketika pelaku R sedang menyuapi Fikri. Pada saat itu, Fikri menolak untuk makan, sehingga membuat pelaku kehilangan kesabaran. Dengan amarah yang meluap, pelaku langsung memukul kepala Fikri hingga mengakibatkan luka di bagian hidung.
Tangisan keras dari Fikri menarik perhatian sang nenek yang ada di dalam rumah. Setelah mengetahui situasi, pelaku segera berpura-pura menenangkan korban, seolah-olah tidak ada apa-apa yang terjadi.
Nenek tersebut kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada orang tua Fikri. Orang tua langsung membawa Fikri ke dokter untuk mendapatkan pertolongan medis. Dari hasil pemeriksaan, diketahui bahwa luka yang dialami Fikri disebabkan oleh tindakan kasar dari pelaku.
Pelaku Mengakui Perbuatannya
Setelah kejadian diketahui oleh keluarga, orang tua Fikri langsung bertemu dengan pelaku. Awalnya, pelaku mencoba menyangkal dan berdalih bahwa luka di hidung Fikri disebabkan oleh kebiasaan mengupil si anak. Namun, dalih tersebut dibantah setelah orang tua menunjukkan bukti rekaman CCTV yang merekam seluruh kejadian.
Setelah melihat bukti tersebut, pelaku akhirnya mengakui perbuatannya. Ia mengakui bahwa ia telah melakukan tindakan kasar terhadap Fikri saat proses menyuapi makan.
Pengakuan ini tentu membuat keluarga korban sangat terpukul, karena selama ini mereka memiliki kepercayaan penuh kepada pelaku. Mereka bahkan memberikan pelaku tempat tinggal gratis di rumah majikan serta gaji yang cukup layak.
Keluarga Memilih Tidak Melanjutkan ke Ranah Hukum
Meskipun ada tawaran pendampingan dan bantuan hukum dari aparat kepolisian dan Komisi Perlindungan Anak, keluarga Fikri memutuskan untuk tidak melanjutkan perkara ini ke jalur hukum. Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan kondisi keluarga pelaku yang memiliki empat anak dan beberapa cucu yang masih kecil.
Orang tua Fikri juga mengatakan bahwa mereka tidak ingin anak-anak pelaku mengalami dampak sosial di masa depan, seperti perundungan akibat kasus hukum yang menimpa orangtuanya.
“Saya bisa saja melaporkan ke polisi, tapi saya mempertimbangkan bahwa dia punya empat anak dan cucu yang masih kecil. Saya tidak ingin cucunya nanti menjadi korban bullying hanya karena neneknya dipidana,” ujar ayah Fikri.
Fokus pada Pemulihan Trauma
Saat ini, fokus utama keluarga adalah pemulihan trauma psikologis Fikri. Mereka tetap memberikan pendampingan emosional yang optimal agar Fikri dapat segera pulih dari kejadian traumatis ini. Mereka percaya bahwa upaya penyembuhan dan perlindungan jangka panjang bagi anak jauh lebih penting daripada tindakan hukum.
Kasus ini menjadi pengingat penting bagi semua orang tua untuk selalu memastikan bahwa anak-anak berada di lingkungan yang aman, penuh kasih, dan terlindungi baik di rumah maupun di luar rumah.












