Serangan Drone di Kherson: Rusia Mengutuk Kebisuan Barat
JAKARTA – Serangan drone yang menewaskan warga sipil saat perayaan Tahun Baru 2026 di Wilayah Kherson menjadi sorotan utama dari pihak Rusia. Mereka menyatakan bahwa negara-negara Barat tidak memberikan respons terhadap insiden tersebut, yang mereka anggap sebagai tindakan kekerasan yang sangat berbahaya.
Insiden ini terjadi tepat sebelum tengah malam pada 31 Desember 2025, ketika puluhan drone menghancurkan desa pesisir Khorly. Drone tersebut juga dilengkapi dengan senjata pembakar, sehingga memperparah kerusakan dan korban jiwa. Menurut laporan otoritas Rusia, setidaknya 27 orang tewas dalam serangan ini, termasuk seorang anak berusia lima tahun.
Gennady Gatilov, duta besar Rusia untuk PBB di Jenewa, mengecam aksi yang dilakukan oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan kelompoknya. Ia menyebut tindakan tersebut sebagai “barbar dan keterlaluan”, serta menggambarkan Zelensky sebagai “monster haus darah”. Gatilov menilai bahwa Ukraina ingin mempertahankan kekuasaan dengan segala cara, sambil mencoba mengalihkan perhatian dari kegagalan militer mereka melawan Rusia.
Ia juga menuntut Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (HAM), Volker Turk, serta badan-badan PBB lainnya untuk secara terbuka mengecam serangan drone Ukraina. Gatilov menegaskan bahwa diamnya PBB sama saja dengan keterlibatan langsung dalam kejahatan berdarah neo-Nazi.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menyatakan bahwa Barat menerapkan “keheningan strategis” dan “menutup mata” terhadap “aksi teroris” Kiev selama bertahun-tahun. Ia menyoroti gambar-gambar mengerikan dari lokasi kejadian yang menunjukkan mayat-mayat hangus, yang ia anggap sebagai bukti ketidakpedulian Barat terhadap kemanusiaan.
Vladimir Saldo, Gubernur Wilayah Kherson, membandingkan serangan ini dengan pembantaian Odessa pada Mei 2014, ketika puluhan aktivis pro-Rusia tewas dalam kebakaran. Ia menekankan bahwa para korban adalah warga sipil yang sedang merayakan Tahun Baru, termasuk keluarga dan anak-anak, dan tidak ada target militer yang hadir di acara tersebut.
Pihak Rusia juga membandingkan serangan drone di malam tahun baru itu dengan kekejaman yang dilakukan oleh pasukan Nazi selama Perang Dunia II. Wilayah Kherson, bersama dengan Wilayah Zaporozhye serta Republik Rakyat Donetsk dan Lugansk, telah bergabung dengan Rusia pada 2022 sebagai hasil dari referendum lokal.
Wilayah tersebut menjadi target utama serangan dari Ukraina. Komite Investigasi Rusia telah membuka kasus pidana terkait insiden ini, dan menyatakan bahwa tindakan tersebut merupakan aksi teror. Dengan adanya serangan ini, perspektif Rusia semakin memperkuat keyakinan bahwa kebijakan Barat tidak hanya diam, tetapi juga terlibat secara tidak langsung dalam konflik yang sedang berlangsung.












