Gempa Erupsi Gunung Semeru Terjadi 17 Kali pada Tahun Baru Imlek
JAKARTA – Pada Tahun Baru Imlek yang jatuh tepat pada Selasa, 17 Februari 2026, tercatat sebanyak 17 kali gempa erupsi di Gunung Semeru. Laporan ini diperoleh dari Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Semeru yang berada di Gunung Sawur, Desa Sumber Wuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang. Pemantauan dilakukan pada periode pukul 06.00 WIB hingga 12.00 WIB.
Gempa erupsi mendominasi aktivitas pada pagi hari dengan intensitas 17 kali. Amplitudo gempa berkisar antara 12-22 mm dan durasi gempa mencapai 75-135 detik. Selain itu, tercatat tiga kali gempa embusan dengan amplitudo 2-6 mm dan lama gempa 33-64 detik. Satu kali gempa harmonik juga tercatat dengan amplitudo 4 mm dan lama gempa 237 detik. Terdapat pula satu kali gempa getaran nanjir dengan amplitudo 15 mm dan lama gempa 1541 detik.
Sigit Rian Alfian, petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, menyampaikan bahwa tingkat aktivitas Gunung Semeru masih berada pada level III (Siaga). Hal ini menunjukkan bahwa gunung tersebut masih dalam kondisi aktif dan perlu dipantau secara ketat.
Sebelumnya, Badan Geologi menilai bahwa aktivitas vulkanik Gunung Semeru masih tinggi. Kejadian awan panas guguran sering terjadi, khususnya mengarah ke sektor tenggara dengan jarak luncur mencapai 4.000 meter dari puncak ke arah Besuk Kobokan. Ini menjadi indikasi adanya aktivitas yang cukup signifikan di sekitar gunung api yang terletak di wilayah Kabupaten Lumajang dan Malang.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa hasil pemantauan visual dan instrumental pada Sabtu, 14 Februari 2026, menunjukkan dua kali kejadian awan panas guguran dengan jarak luncur mencapai 6.000 meter dari puncak ke arah tenggara. Data Badan Geologi selama periode 1–13 Februari 2026 juga mencatat beberapa kali kejadian awan panas guguran dengan jarak luncur antara 2.500-4.000 meter disertai aktivitas guguran material.
Aktivitas kegempaan di Gunung Semeru didominasi oleh gempa letusan, gempa guguran, gempa embusan, dan tremor harmonik. Menurut Lana Saria, gempa-gempa yang tercatat menunjukkan bahwa masih ada supply dari bawah permukaan Gunung Semeru yang bersamaan dengan pelepasan material ke permukaan melalui letusan dan embusan.
Parameter variasi kecepatan seismik (dv/v) mengalami fluktuasi, tetapi menunjukkan pola penurunan sejak pertengahan Oktober 2025. Hal ini mengindikasikan bahwa sistem vulkanik sedang dalam fase relaksasi dan tidak mengalami tekanan tinggi, meskipun masih rentan terhadap peningkatan tekanan.
Data pemantauan Tiltmeter pada Stasiun Tiltmeter Argosuko menunjukkan adanya akselerasi atau perubahan yang cepat pada komponen radial. Perubahan ini diinterpretasikan sebagai respons mekanik lokal pada sistem dangkal, bukan sebagai respons deformasi yang dikontrol oleh inflasi magmatik yang kuat.
Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi, tingkat aktivitas Gunung Semeru tetap pada Level III (Siaga). Beberapa rekomendasi utama diberikan, termasuk larangan masyarakat, pengunjung, dan pendaki untuk beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari Kawah Jonggring Seloko serta tidak memasuki sektor tenggara sejauh 13 kilometer dari puncak ke arah tenggara yang dapat meluas hingga 17 kilometer di sepanjang aliran Besuk Kobokan.
Masyarakat diminta untuk waspada terhadap potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru. Potensi lahar juga terjadi pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.












