Penyebab dan Pencegahan Gangguan Lambung Selama Ramadan
JAKARTA – Selama bulan Ramadan, masyarakat sering mengalami gangguan lambung yang menjadi salah satu keluhan kesehatan yang paling umum. Hal ini terjadi karena berbagai faktor yang berkaitan dengan pola makan dan kebiasaan selama berpuasa.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Serang mencatat bahwa kondisi ini cukup sering muncul, terutama saat menjelang berbuka puasa dan sahur.
Puasa Ramadan adalah ibadah wajib bagi umat Islam yang dilakukan selama sebulan penuh, biasanya 29 atau 30 hari. Ibadah ini dimulai dari subuh hingga maghrib, di mana umat Muslim harus menahan diri dari makan, minum, hubungan intim, serta segala hal yang membatalkan puasa. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan rasa takwa kepada Allah SWT.
Gangguan lambung biasanya disebabkan oleh naiknya asam lambung atau iritasi pada dinding lambung. Faktor-faktor yang bisa memicu kondisi ini antara lain: makan tidak teratur, sering mengonsumsi makanan pedas, asam, berlemak, kopi, soda, atau alkohol, stres, merokok, makan terlalu cepat atau terlalu banyak, infeksi bakteri H. pylori, serta efek samping obat tertentu.
Kepala Dinkes Kota Serang, Ahmad Hasanuddin, menyatakan bahwa penyebab utama gangguan lambung selama Ramadan biasanya berasal dari pola makan yang kurang tepat saat berbuka dan sahur. Ia menegaskan bahwa kebiasaan makan yang tidak teratur dapat memengaruhi kesehatan pencernaan secara signifikan.
“Secara umum, kondisi lambung yang paling sering muncul,” ujarnya dalam sebuah pernyataan.
Menurut Hasanuddin, puasa memiliki manfaat kesehatan jika dilakukan dengan pola makan yang teratur dan seimbang. Oleh karena itu, ia mengingatkan masyarakat untuk tidak menunda waktu berbuka puasa dan menjaga jarak waktu antara sahur dan berbuka agar tubuh tetap kuat menjalani ibadah.
“Agar orang tersebut tetap kuat, maka mereka harus segera berbuka ketika tiba waktunya,” ujarnya.
Ia juga menyarankan agar masyarakat tidak langsung mengonsumsi makanan pedas atau asam saat perut dalam keadaan kosong. Hal ini dapat memicu peningkatan asam lambung dan gangguan pencernaan.
“Jangan buru-buru makan makanan yang pedas atau asam. Ini bisa menyebabkan gangguan pencernaan,” katanya.
Hasanuddin menekankan bahwa kesadaran menjaga pola makan sangat penting, terutama bagi masyarakat yang memiliki riwayat penyakit lambung. Ia menegaskan bahwa makanan pedas dan asam tidak boleh dikonsumsi ketika perut dalam keadaan kosong karena akan merangsang pengeluaran asam lambung.
“Perut yang kosong tidak boleh langsung dihantam makanan pedas dan asam,” tambahnya.
Dari pengamatan Dinkes Kota Serang, angka pasien yang datang ke rumah sakit selama Ramadan justru cenderung menurun. Menurut Hasanuddin, hal ini disebabkan oleh fakta bahwa puasa secara alami dapat memberikan manfaat kesehatan jika dilakukan dengan benar.
“Secara umum, tingkat kesakitan di rumah sakit cenderung turun selama Ramadan,” tutup Hasanuddin.












