Persebaya Surabaya Siapkan Strategi Jangka Panjang dengan Belanja Besar
SURABAYA – Persebaya Surabaya, klub yang dikenal sebagai Green Force, telah merancang strategi yang lebih matang untuk menghadapi paruh kedua musim Super League 2025/2026.
Salah satu langkah utamanya adalah meningkatkan anggaran belanja hingga mencapai Rp 13,91 miliar. Dana besar ini dialokasikan khusus untuk mendatangkan empat pemain asing baru, yang diharapkan mampu memperkuat fondasi tim secara keseluruhan.
Pengambilan keputusan ini dilakukan di bawah kepemimpinan pelatih Bernardo Tavares. Ia menekankan bahwa fokus utama bukan hanya pada penambahan kualitas pemain, tetapi juga membangun kedalaman skuad dan menciptakan persaingan sehat di setiap lini. Dengan demikian, Persebaya ingin memiliki tim yang stabil dan kompetitif dalam jangka panjang.
Jeda kompetisi putaran pertama menjadi momen penting bagi Persebaya Surabaya. Pelatih Bernardo Tavares langsung melakukan reorganisasi kekuatan tim agar siap tampil maksimal saat liga kembali bergulir. Proses ini melibatkan perekrutan pemain baru yang akan menjadi perhatian utama selama masa jeda.
Adaptasi cepat dan pemahaman karakter pemain dinilai sangat penting agar strategi yang dirancang bisa berjalan efektif di lapangan. “Setelah itu kami harus bekerja keras karena ada pemain baru yang datang. Kami perlu lebih mengenal karakteristik semua pemain,” ujar Tavares.
Untuk membantu proses adaptasi tersebut, Persebaya Surabaya merencanakan beberapa laga uji coba. Laga persahabatan ini tidak hanya bertujuan untuk evaluasi, tetapi juga menjadi sarana untuk melihat potensi pemain yang selama ini belum banyak mendapat menit bermain.
Selain itu, pertandingan uji coba juga diharapkan mampu membangun kompetisi internal yang sehat antar pemain. Tavares menegaskan bahwa tim kuat harus memiliki kedalaman yang seimbang di setiap posisi.
Idealnya, setiap posisi diisi oleh dua hingga tiga pemain dengan kualitas yang relatif setara. Menurutnya, persaingan internal yang sehat akan mendorong pemain tampil maksimal di setiap kesempatan. Kombinasi karakter pemain juga menjadi aspek penting dalam menyusun komposisi tim.
“Jika ingin memiliki tim yang kuat, setiap posisi harus punya dua atau tiga pemain yang bersaing secara sehat. Kami butuh keseimbangan antara pemain cepat dan pemain yang kuat dalam duel udara,” jelasnya.
Pada paruh kedua musim ini, Persebaya Surabaya telah resmi mendatangkan tiga pemain asing. Mereka adalah Bruno Paraíba, Jefferson Silva, dan Gustavo Fernandes. Kehadiran ketiga pemain ini diharapkan memberi warna baru dalam permainan tim.
Selain menambah kualitas teknis, Tavares berharap mereka juga mampu memperkuat atmosfer ruang ganti dan mental bertanding skuad Persebaya Surabaya. Selain tiga nama tersebut, satu pemain asing lain dikabarkan segera merapat ke Surabaya.
Sosok itu adalah Pedro Matos, gelandang asal Portugal yang sebelumnya memperkuat Semen Padang FC. Kabar kedatangan Pedro Matos pertama kali dibocorkan oleh media fanbase Persebaya Surabaya, Emosi Jiwaku. Informasi ini langsung menyedot perhatian publik karena melengkapi kuota pemain asing pilihan Bernardo Tavares.
Jika transfer Pedro Matos resmi, maka total belanja Persebaya Surabaya untuk empat pemain asing mencapai Rp 13,91 miliar. Angka ini menjadi salah satu investasi terbesar klub pada musim ini. Bruno Paraíba tercatat memiliki nilai pasar sekitar Rp 3,04 miliar.
Sementara Jefferson Silva dan Gustavo Fernandes masing-masing bernilai Rp 4,35 miliar. Pedro Matos melengkapi daftar tersebut dengan nilai pasar sekitar Rp 2,17 miliar. Kombinasi keempat pemain asing ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan taktik Bernardo Tavares.
Masuknya pemain-pemain anyar ini juga memberi sinyal kuat arah pembangunan tim Persebaya Surabaya. Klub tidak hanya mengejar hasil instan, tetapi juga stabilitas performa jangka menengah.
Dengan belanja besar dan perencanaan matang, ekspektasi publik terhadap Persebaya Surabaya pun ikut meningkat. Tekanan tentu ada, namun Bernardo Tavares terlihat siap menjawabnya dengan kerja sistematis.
Paruh kedua Super League 2025/2026 akan menjadi panggung pembuktian bagi proyek ini. Apakah investasi Rp 13,91 miliar akan berbanding lurus dengan prestasi, publik Surabaya menunggu jawabannya.












