Kebiasaan “Sehat” yang Ternyata Bisa Merusak Ginjal
JAKARTA – Banyak orang merasa telah menjalani gaya hidup sehat, tetapi beberapa kebiasaan yang dianggap baik justru bisa memberi tekanan tambahan pada ginjal.
Tanpa disadari, pilihan-pilihan ini dapat memicu kerusakan ginjal, terutama bagi mereka yang sudah memiliki kondisi penyakit ginjal kronis. Berikut adalah lima kebiasaan yang dianggap sehat namun ternyata berbahaya bagi kesehatan ginjal.
Mengonsumsi Protein Terlalu Banyak
Mengonsumsi protein dalam jumlah berlebihan sering kali dianggap sebagai cara untuk meningkatkan massa otot dan kesehatan secara umum. Namun, hal ini justru dapat membebani ginjal.
Menurut urolog David Shusterman, makan dua atau tiga kali lipat dari kebutuhan protein harian tidak membuat otot tumbuh lebih cepat, melainkan hanya membuat ginjal bekerja lebih keras untuk menyaring sisa metabolisme dalam darah.
Pola makan tinggi protein juga meningkatkan risiko munculnya penyakit ginjal kronis (CKD). Hal ini terjadi karena ginjal harus mengolah produk sampingan metabolisme protein dalam jumlah besar, sehingga beban kerjanya meningkat dari waktu ke waktu.
Untuk mengurangi risiko, seseorang dapat menyeimbangkan asupan protein dengan sumber nabati seperti kedelai, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh.
Mengonsumsi Suplemen Tertentu
Suplemen tersedia hampir untuk segala kebutuhan, dan pasarnya terus berkembang pesat. Banyak orang percaya bahwa suplemen penting untuk menjaga kesehatan. Namun, beberapa jenis suplemen, terutama dalam dosis tinggi, dapat merusak ginjal.
Contohnya, vitamin D dapat berinteraksi dengan pengikat fosfat yang mengandung aluminium pada pasien CKD, sehingga berpotensi menyebabkan kadar aluminium yang membahayakan.
Selain itu, suplemen kalium maupun obat herbal yang tidak disadari mengandung kalium juga berbahaya karena dapat menyebabkan penumpukan kalium dalam darah. Sebelum mengonsumsi suplemen, konsultasikan dengan dokter untuk memastikan keamanan dan menghindari efek samping obat.
Minum Teh Detoks
Minum teh detoks sering kali dianggap sebagai cara untuk membersihkan tubuh dari racun dan menurunkan berat badan. Padahal, bukti ilmiah yang mendukung hal ini sangat sedikit.
Justru, teh detoks dapat membahayakan ginjal karena kandungan diuretiknya yang membuat produksi urin meningkat, sehingga tubuh mudah mengalami dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit.
Bahan herbal seperti licorice root, St. John’s wort, dan daun senna yang sering ditemukan dalam teh detoks juga berpotensi merusak ginjal. Sebagai gantinya, Shusterman menyarankan untuk mempercayai ginjal sebagai alat detoks alami bagi tubuh. Dukung ginjal dengan makanan utuh, serat, dan hidrasi.
Minum Terlalu Banyak Air
Menjaga tubuh tetap terhidrasi memang penting untuk kesehatan. Namun, konsumsi air berlebihan dalam waktu singkat dapat berbahaya. Ginjal hanya mampu mengolah sekitar 0,8-1 liter air per jam.
Jika seseorang minum lebih cepat dari kemampuan ginjal untuk menyaringnya, kadar natrium dalam darah dapat menjadi terlalu rendah, yang dapat menyebabkan pembengkakan dan gejala serius.
Shusterman menyarankan untuk minum sesuai rasa haus dan memastikan warna urine tetap kuning pucat sebagai tanda hidrasi yang cukup.
Terlalu Sering Mengonsumsi NSAID
Konsumsi obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) seperti aspirin, ibuprofen, dan naproxen terlalu sering untuk meredakan nyeri dan demam bisa merusak ginjal. Penggunaan yang terlalu sering dapat membatasi aliran darah ke ginjal dan menghambat proses filtrasi.
NSAID dapat menurunkan fungsi ginjal dari waktu ke waktu, bahkan pada dosis rendah yang diminum secara rutin. Shusterman menyarankan agar menggunakan pereda nyeri hanya saat benar-benar diperlukan. Untuk keluhan ringan, cukup lakukan peregangan, tidur cukup, kompres panas atau dingin, dan minum air yang cukup.












